alexametrics
31 C
Sidoarjo
Friday, 27 May 2022

Daya Saing Indonesia di Dunia Membaik

SURABAYA – Penilaian peringkat daya saing menempatkan Indonesia pada posisi ke-37 dari total 64 negara berdasarkan survei IMD World Competitiveness Yearbook (WCY) 2021. IMD melakukan pemeringkatan ini sejak tahun 1989. “Di tengah pandemi yang melanda dunia, peringkat Indonesia tahun 2021 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Willem Makaliwe, managing director Lembaga Management FEB-UI dalam webinar bertajuk Peringklat Daya Saing Indonesia 2021 yang digelar, kemarin (19/8). Tahun lalu, survei yang sama menempatkan Indonesia di posisi ke-40.

Lebih jauh dijelaskan, dilihat secara kawasan Asia Pasifik, Indonesia tetap berada pada posisi 11 dari 14 negara. Capaian itu di atas India dan Filipina. “Peringkat daya saing suatu negara dipengaruhi juga maju mundurnya daya saing negara lain sehingga kompetisi tidak terhindari,” tambahnya.

Menurut Arza Faldy, Senior Researcher LM FEB-UI, hasil penilaian peringkat tersebut didasarkan pada analisis data kinerja perekonomian Indonesia sampai dengan tahun 2020, serta penilaian para pelaku usaha terkait persepsi kondisi lingkungan bisnis yang dihadapi.

Kegiatan survei di Indonesia dilakukan oleh LM FEB-UI yang bertindak sebagai mitra IMD di Indonesia beberapa tahun terakhir bersama dengan Nu PMK. “Metode penilaian daya saing didasarkan dari penilaian empat komponen utama, meliputi kinerja perekonomian, efisiensi pemerintahan, efisiensi bisnis, dan infrastruktur,” urai Arza.

Peningkatan peringkat Indonesia terlihat pada komponen efisiensi bisnis dan pemerintahan. Peringkat efisiensi pemerintahan mengalami kenaikan dari posisi 31 tahun 2020 menjadi 26 tahun 2021. “Kenaikan peringkat pada komponen ini didukung oleh faktor kebijakan keuangan publik cukup efektif merespons kondisi pandemi,” lanjut Arza.

Sementara komponen efisiensi bisnis mengalami peningkatan dari peringkat 31 tahun 2020 menjadi 25 tahun 2021. Perbaikan ini disebabkan oleh optimisme untuk transformasi bisnis ke depan.

Pada sisi lain, ditambahkan oleh Bayuadi Wibowo, Head of Research and Consulting LM FEB-UI, pada dua komponen Indonesia mengalami penurunan peringkat, yakni kinerja perekonomian dan infrastruktur. Peringkat kinerja perekonomian Indonesia tahun 2021 berada pada posisi 35, menurun dibandingkan tahun 2020 di posisi 26. “Penurunan peringkat tersebut didorong oleh kondisi ketenagakerjaan, perdagangan internasional, dan tingkat harga domestic,” ujar Bayuadi.

Peringkat infrastruktur Indonesia juga menurun dari posisi 55 tahun 2020 menjadi posisi 57 tahun 2021. Bayuadi menjelaskan, hal tersebut disebabkan oleh faktor kesiapan infrastruktur kesehatan dan pendidikan dalam menghadapi pandemi.

Secara keseluruhan, Taufiq Nur, Senior Researcher LM FEB-UI menjelaskan aspek yang menjadi keunggulan terdapat pada pertumbuhan PDB, kestabilan harga BBM, pertumbuhan investasi, penerimaan pajak, efektivitas APBN, pertumbuhan angkatan kerja, remunerasi profesional. Demikian halnya akses pada layanan keuangan, komponen biaya telekomunikasi seluler, dan rasio pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

Sedangkan secara keseluruhan lanjut Taufiq, kelemahan terdapat pada rendahnya PDB per kapita, rasio perdagangan terhadap PDB, serta ekspor jasa. Begitu juga aspek yang prosedur memulai bisnis, rasio cadangan mata uang asing per kapita, tingkat produktivitas tenaga kerja, rendahnya jumlah paten yang dihasilkan, belum tersebarnya fasilitas layanan kesehatan, rasio pengguna komputer, dan pengeluaran untuk kesehatan. (web/eti/opi)

SURABAYA – Penilaian peringkat daya saing menempatkan Indonesia pada posisi ke-37 dari total 64 negara berdasarkan survei IMD World Competitiveness Yearbook (WCY) 2021. IMD melakukan pemeringkatan ini sejak tahun 1989. “Di tengah pandemi yang melanda dunia, peringkat Indonesia tahun 2021 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Willem Makaliwe, managing director Lembaga Management FEB-UI dalam webinar bertajuk Peringklat Daya Saing Indonesia 2021 yang digelar, kemarin (19/8). Tahun lalu, survei yang sama menempatkan Indonesia di posisi ke-40.

Lebih jauh dijelaskan, dilihat secara kawasan Asia Pasifik, Indonesia tetap berada pada posisi 11 dari 14 negara. Capaian itu di atas India dan Filipina. “Peringkat daya saing suatu negara dipengaruhi juga maju mundurnya daya saing negara lain sehingga kompetisi tidak terhindari,” tambahnya.

Menurut Arza Faldy, Senior Researcher LM FEB-UI, hasil penilaian peringkat tersebut didasarkan pada analisis data kinerja perekonomian Indonesia sampai dengan tahun 2020, serta penilaian para pelaku usaha terkait persepsi kondisi lingkungan bisnis yang dihadapi.

Kegiatan survei di Indonesia dilakukan oleh LM FEB-UI yang bertindak sebagai mitra IMD di Indonesia beberapa tahun terakhir bersama dengan Nu PMK. “Metode penilaian daya saing didasarkan dari penilaian empat komponen utama, meliputi kinerja perekonomian, efisiensi pemerintahan, efisiensi bisnis, dan infrastruktur,” urai Arza.

Peningkatan peringkat Indonesia terlihat pada komponen efisiensi bisnis dan pemerintahan. Peringkat efisiensi pemerintahan mengalami kenaikan dari posisi 31 tahun 2020 menjadi 26 tahun 2021. “Kenaikan peringkat pada komponen ini didukung oleh faktor kebijakan keuangan publik cukup efektif merespons kondisi pandemi,” lanjut Arza.

Sementara komponen efisiensi bisnis mengalami peningkatan dari peringkat 31 tahun 2020 menjadi 25 tahun 2021. Perbaikan ini disebabkan oleh optimisme untuk transformasi bisnis ke depan.

Pada sisi lain, ditambahkan oleh Bayuadi Wibowo, Head of Research and Consulting LM FEB-UI, pada dua komponen Indonesia mengalami penurunan peringkat, yakni kinerja perekonomian dan infrastruktur. Peringkat kinerja perekonomian Indonesia tahun 2021 berada pada posisi 35, menurun dibandingkan tahun 2020 di posisi 26. “Penurunan peringkat tersebut didorong oleh kondisi ketenagakerjaan, perdagangan internasional, dan tingkat harga domestic,” ujar Bayuadi.

Peringkat infrastruktur Indonesia juga menurun dari posisi 55 tahun 2020 menjadi posisi 57 tahun 2021. Bayuadi menjelaskan, hal tersebut disebabkan oleh faktor kesiapan infrastruktur kesehatan dan pendidikan dalam menghadapi pandemi.

Secara keseluruhan, Taufiq Nur, Senior Researcher LM FEB-UI menjelaskan aspek yang menjadi keunggulan terdapat pada pertumbuhan PDB, kestabilan harga BBM, pertumbuhan investasi, penerimaan pajak, efektivitas APBN, pertumbuhan angkatan kerja, remunerasi profesional. Demikian halnya akses pada layanan keuangan, komponen biaya telekomunikasi seluler, dan rasio pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

Sedangkan secara keseluruhan lanjut Taufiq, kelemahan terdapat pada rendahnya PDB per kapita, rasio perdagangan terhadap PDB, serta ekspor jasa. Begitu juga aspek yang prosedur memulai bisnis, rasio cadangan mata uang asing per kapita, tingkat produktivitas tenaga kerja, rendahnya jumlah paten yang dihasilkan, belum tersebarnya fasilitas layanan kesehatan, rasio pengguna komputer, dan pengeluaran untuk kesehatan. (web/eti/opi)

Most Read

Berita Terbaru


/