alexametrics
28 C
Sidoarjo
Friday, 27 May 2022

Dinas Belum Serap Gabah Petani

SIDOARJO – Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo nampaknya belum mampu membantu penyerapan gabah petani ditengah krisis harga gabah yang anjlok. Anggota DPRD Jatim pun mendorong Pemkab Sidoarjo mampu membentuk badan khusus di sektor pertanian.

Kordinator penyuluh lapangan Dinas Pangan dan Pertanian, Mahfudz mengakui memang implementasi penyerapan gabah petani belum berjalan. “Yang ada baru dari Bulog,” katanya, Kamis (15/4).

Mahfudz menambahkan, sejatinya tim penyerapan terkait hasil panen petani sudah dibentuk sejak beberapa tahun yang lalu. Tim tersebut terdiri dari unsur Kodim, BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Red) dan Dinas Pangan dan Pertanian. “Sudah MOU juga dengan Bulog, tapi memang belum berjalan,” imbuhnya.

Di lain pihak, anggota DPRD Jatim Adam Rusydi mendorong kepada Pemkab Sidoarjo agar lebih memberikan fokus ke sektor pertanian. Salah satunya dengan adanya regulasi atau kebijakan khusus terkait penyerapan hasil panen petani. “Sehingga stabilitas harga tidak anjlok saat panen,” katanya

Ketua DPD Golkar Sidoarjo itu menambahkan, teknis regulasi atau kebijakan itu misalnya dengan membentuk badan khusus pertanian. “Entah badan pertanian atau ketahanan pangan namanya, yang pasti itu bisa dibuat dengan peraturan bupati,” imbuhnya.

Sehingga, badan tersebut bakal lebih fokus menangani arus transportasi pertanian di Sidoarjo. Diketahui lahan pertanian di Sidoarjo juga tidak sedikit. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sidoarjo tahun 2018, luas panen bersih sawah dan ladang di Sidoarjo mencapai 29.968 hektar.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, masalah anjloknya harga gabah di musim panen sempat dikeluhkan salah satu petani di Wonoayu. Karsono, petani asal Wonoayu menceritakan jika ada beberapa permasalahan klasik yang saat ini di hadapi petani Sidoarjo. Diantaranaya soal irigasi dan ketersediaan pupuk subsidi.

Hal itu yang semakin memberatkan biaya produksi petani. Belum lagi, harga jual gabah atau beras juga anjlok saat musim panen. “Gabah kering sawah harganya Rp 3.800. Padahal biasanya Rp 4.600 per kilogramnya,” keluhnya. (son)

SIDOARJO – Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo nampaknya belum mampu membantu penyerapan gabah petani ditengah krisis harga gabah yang anjlok. Anggota DPRD Jatim pun mendorong Pemkab Sidoarjo mampu membentuk badan khusus di sektor pertanian.

Kordinator penyuluh lapangan Dinas Pangan dan Pertanian, Mahfudz mengakui memang implementasi penyerapan gabah petani belum berjalan. “Yang ada baru dari Bulog,” katanya, Kamis (15/4).

Mahfudz menambahkan, sejatinya tim penyerapan terkait hasil panen petani sudah dibentuk sejak beberapa tahun yang lalu. Tim tersebut terdiri dari unsur Kodim, BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Red) dan Dinas Pangan dan Pertanian. “Sudah MOU juga dengan Bulog, tapi memang belum berjalan,” imbuhnya.

Di lain pihak, anggota DPRD Jatim Adam Rusydi mendorong kepada Pemkab Sidoarjo agar lebih memberikan fokus ke sektor pertanian. Salah satunya dengan adanya regulasi atau kebijakan khusus terkait penyerapan hasil panen petani. “Sehingga stabilitas harga tidak anjlok saat panen,” katanya

Ketua DPD Golkar Sidoarjo itu menambahkan, teknis regulasi atau kebijakan itu misalnya dengan membentuk badan khusus pertanian. “Entah badan pertanian atau ketahanan pangan namanya, yang pasti itu bisa dibuat dengan peraturan bupati,” imbuhnya.

Sehingga, badan tersebut bakal lebih fokus menangani arus transportasi pertanian di Sidoarjo. Diketahui lahan pertanian di Sidoarjo juga tidak sedikit. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sidoarjo tahun 2018, luas panen bersih sawah dan ladang di Sidoarjo mencapai 29.968 hektar.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, masalah anjloknya harga gabah di musim panen sempat dikeluhkan salah satu petani di Wonoayu. Karsono, petani asal Wonoayu menceritakan jika ada beberapa permasalahan klasik yang saat ini di hadapi petani Sidoarjo. Diantaranaya soal irigasi dan ketersediaan pupuk subsidi.

Hal itu yang semakin memberatkan biaya produksi petani. Belum lagi, harga jual gabah atau beras juga anjlok saat musim panen. “Gabah kering sawah harganya Rp 3.800. Padahal biasanya Rp 4.600 per kilogramnya,” keluhnya. (son)

Most Read

Berita Terbaru


/