alexametrics
27 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

Sebanyak 20 IKM Sudah Layak Ekspor

SIDOARJO – Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 2021 menyasar lima kota dan kabupaten untuk bisa mencetak 100 industri kecil menengah (IKN) agar bisa menembus pasar ekspor. Yakni Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Mojokerto dan Lamongan.

Di Sidoarjo, tim pendamping dari Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur telah melakukan visitasi tempat produksi 20 pelaku industri kecil dan menengah (IKM) tersebut. Mereka berada dibawah binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Dinas Koperasi dan Usaha Mikro.

20 IKM yang dipilih menjadi pilot project di sektor masing-masing. Makanan minuman (mamin), handycraft, sepatu, ataupun batik.

Sekretaris eksekutif GPEI Jawa Timur, Puji Tri Utomo menjelaskan secara kualitas dan kuantitas IKM Sidoarjo siap tinggal landas menuju ekspor.

Menurut Puji, masih ada yang perlu diperbaiki yakni standarisasi ekspornya. Artinya untuk kegiatan ekspor, yang dinilai tidak hanya kualitas, tapi kuantitas dan kontinuitas produksi. Misal permintaan 500 pasang sepatu, sementara kapasitas produksi IKM, masih 300 pasang. 200 pasang sepatu ditopang dari produsen lain. “Walaupun ditopang IKM lain, hasil produksi harus sama,” jelasnya.

Selain mengetahui standarisasi produksi, visitasi tersebut juga untuk mengetahui workshop di sektor IKM makanan minuman (mamin). “Arahnya kemana ? Ada intervensi dokumen dan kualitas dan kuantitas produk, khususnya perizinan. Minimal standarisasi BPOM, salah satu syarat adalah workshop sendiri,” tambahnya.

Puji menegaskan setelah visitasi masih pendampingan, pelatihan lanjutan serta membuatkan branding company profile para IKM.

Untuk ekspor ini, GPEI bekerjasama dengan asosiasi importir dari Taiwan yang memiliki anggota 6 ribu importir. “60 persen barang diimpor dari Indonesia. Ada handycraft, ada juga mamin,” tegasnya.

Sehingga potensi pasar ekpor produksi lokal sangat besar. Itu baru di satu negara saja. Belum lagi di negara lain seperti Malaysia, Hongkong dan Arab Saudi. Diharapkan minimal akhir tahun ini IKM bisa lepas ekspor.

Kasi Distribusi dan Pemasaran Disperindag Sidoarjo Ruli Rochmawati menambahkan bahwa selain 20 IKM tersebut, masih ada sekitar 30 IKM yang berkualitas ekspor. “Mereka masuk waiting list pembinaan di tahun depan,” pungkasnya. (rpp/opi)

 

SIDOARJO – Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 2021 menyasar lima kota dan kabupaten untuk bisa mencetak 100 industri kecil menengah (IKN) agar bisa menembus pasar ekspor. Yakni Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Mojokerto dan Lamongan.

Di Sidoarjo, tim pendamping dari Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur telah melakukan visitasi tempat produksi 20 pelaku industri kecil dan menengah (IKM) tersebut. Mereka berada dibawah binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Dinas Koperasi dan Usaha Mikro.

20 IKM yang dipilih menjadi pilot project di sektor masing-masing. Makanan minuman (mamin), handycraft, sepatu, ataupun batik.

Sekretaris eksekutif GPEI Jawa Timur, Puji Tri Utomo menjelaskan secara kualitas dan kuantitas IKM Sidoarjo siap tinggal landas menuju ekspor.

Menurut Puji, masih ada yang perlu diperbaiki yakni standarisasi ekspornya. Artinya untuk kegiatan ekspor, yang dinilai tidak hanya kualitas, tapi kuantitas dan kontinuitas produksi. Misal permintaan 500 pasang sepatu, sementara kapasitas produksi IKM, masih 300 pasang. 200 pasang sepatu ditopang dari produsen lain. “Walaupun ditopang IKM lain, hasil produksi harus sama,” jelasnya.

Selain mengetahui standarisasi produksi, visitasi tersebut juga untuk mengetahui workshop di sektor IKM makanan minuman (mamin). “Arahnya kemana ? Ada intervensi dokumen dan kualitas dan kuantitas produk, khususnya perizinan. Minimal standarisasi BPOM, salah satu syarat adalah workshop sendiri,” tambahnya.

Puji menegaskan setelah visitasi masih pendampingan, pelatihan lanjutan serta membuatkan branding company profile para IKM.

Untuk ekspor ini, GPEI bekerjasama dengan asosiasi importir dari Taiwan yang memiliki anggota 6 ribu importir. “60 persen barang diimpor dari Indonesia. Ada handycraft, ada juga mamin,” tegasnya.

Sehingga potensi pasar ekpor produksi lokal sangat besar. Itu baru di satu negara saja. Belum lagi di negara lain seperti Malaysia, Hongkong dan Arab Saudi. Diharapkan minimal akhir tahun ini IKM bisa lepas ekspor.

Kasi Distribusi dan Pemasaran Disperindag Sidoarjo Ruli Rochmawati menambahkan bahwa selain 20 IKM tersebut, masih ada sekitar 30 IKM yang berkualitas ekspor. “Mereka masuk waiting list pembinaan di tahun depan,” pungkasnya. (rpp/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/