alexametrics
31 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

Industri Fintech Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA – Selama hampir dua tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia terdampak akibat pandemi Covid-19. Industri financial technology (fintech) sebagai salah satu pemain kunci turut andil dalam pemulihan dan peningkatan perekonomian nasional.

Peningkatan kinerja dan pertumbuhan angka yang signifikan menunjukan bahwa industri fintech berpeluang untuk semakin mendorong kemajuan ekonomi negara.

Tommy Martin, COO dan Co-founder Qoala mengatakan, kontribusi perusahaannya sebagai sebuah perusahaan insurtech adalah memberikan solusi asuransi pembiayaan bermanfaat bagi perusahaan p2p lending dan juga perusahaan penyedia asuransi.

“Kami melihat potensi untuk memberikan solusi asuransi kepada ekosistem fintech akan semakin tinggi, baik dari sisi UMKM, perusahaan atau individu, semuanya pasti memerlukan asuransi. Potensi ini yang dapat Qoala gali untuk memberikan layanan produk asuransi dan bekerjasama dengan para pemain fintech,” kata Tommy dalam webinar bertajuk Qoala Economic Outlook 2022: Key Strategy and Challenges for Fintech Industry to Rise from the Pandemic, Rabu (8/12).

Ia melanjutkan, selama beberapa tahun terakhir, perkembangan industri fintech sangat luar biasa dan telah berhasil menjangkau masyarakat luas. Hal ini menjadi kesempatan bagi Qoala untuk turut berkolaborasi dengan platform digital fintech lainya dalam menghadirkan produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Tommy menyatakan, tantangan saat ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat terkait asuransi dan juga memperkenalkan jenis dan produk asuransi yang mereka butuhkan. “Saat ini, kami bekerja sama dengan berbagai perusahaan digital untuk memasyarakatan produk asuransi,” sambungnya.

Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyatakan, meskipun pandemi masih berlangsung, pemulihan ekonomi tetap berjalan. Hal ini turut didukung oleh keberadaan industri fintech.

“Dari segi keyakinan membeli konsumen pun kini sudah meningkat, di berbagai kelompok pengeluaran mulai dari Rp 1-2 juta hingga di atas Rp 5 juta per bulan. Sebagian masyarakat sudah siap untuk mulai spending kembali. Kalaupun masih ada pembatasan sosial karena PPKM, mereka juga sudah siap menggeser sebagian spending habit dengan pembelian barang secara online, sehingga turut membantu tidak hanya fintech p2p lending saja, tapi penggunaan jenis fintech lain seperti paylater dan pinjaman lainnya juga akan mengalami peningkatan,” urai Bhima.

Perkiraan tren fintech di tahun 2022, ekspansi pembiayaan merchant e-commerce akan semakin masif. Fintech akan melakukan kerja sama dengan platform e-commerce dan menyediakan pembiayaan bagi para merchant. Selain itu, fintech akan ekspansi pembiayaan ke microfinance seperti warung dan juga personal finance.

Selain penyaluran pinjaman, kedepannya fintech juga akan menawarkan digital investment platform seperti insurtech, reksadana hingga pembelian surat hutang dalam satu platform yang sama. Kemudian kedepan akan marak merger dan akuisisi sesama fintech atau bahkan fintech menjadi bagian lembaga keuangan yang bersifat tradisional.

Mercy Simorangkir, Executive Director Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menambahkan, terdapat perkembangan signifikan di industri fintech. Terutama dalam adopsinya pada masa pandemi, didukung oleh percepatan digitalisasi seiring berubahnya gaya hidup dan berlakunya pembatasan sosial.

“Perkembangan fintech secara general bisa kita lihat dari adopsinya di masyarakat dan jumlah penyelenggara fintech yang semakin beragam. Bank Indonesia mencatat jumlah adopsi uang elektronik pada bulan Oktober 2021, lebih dari 544 juta, jumlah transaksi melebihi Rp 29,23 triliun. Berdasarkan OJK, di bulan Oktober 2021 ada 104 penyelenggara yang menyalurkan pinjaman sebesar Rp 13,5 triliun dengan lebih dari 10 juta rekening pemberi pinjaman. Model fintech pun kini semakin beragam guna memenuhi keragaman layanan keuangan untuk berbagai keperluan masyarakat, di AFTECH sendiri sudah ada lebih dari 20 model bisnis fintech yang terdaftar” papar Mercy.

Ke depannya, fintech akan semakin berkembang dan memiliki peluang yang lebih baik. Potensi semakin besar karena digitalisasi makin cepat. Perkembangan fintech juga didorong oleh adopsinya tidak hanya untuk kebutuhan transaksi keuangan sehari-hari tapi potensi lain seperti pemanfaatan fintech untuk pengumpulan pendapatan daerah, pengumpulan dana sosial, fintech pasar modal juga terus berkembang dan meningkatkan penetrasi pasar modal di Indonesia. (ara/opi)

 

JAKARTA – Selama hampir dua tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia terdampak akibat pandemi Covid-19. Industri financial technology (fintech) sebagai salah satu pemain kunci turut andil dalam pemulihan dan peningkatan perekonomian nasional.

Peningkatan kinerja dan pertumbuhan angka yang signifikan menunjukan bahwa industri fintech berpeluang untuk semakin mendorong kemajuan ekonomi negara.

Tommy Martin, COO dan Co-founder Qoala mengatakan, kontribusi perusahaannya sebagai sebuah perusahaan insurtech adalah memberikan solusi asuransi pembiayaan bermanfaat bagi perusahaan p2p lending dan juga perusahaan penyedia asuransi.

“Kami melihat potensi untuk memberikan solusi asuransi kepada ekosistem fintech akan semakin tinggi, baik dari sisi UMKM, perusahaan atau individu, semuanya pasti memerlukan asuransi. Potensi ini yang dapat Qoala gali untuk memberikan layanan produk asuransi dan bekerjasama dengan para pemain fintech,” kata Tommy dalam webinar bertajuk Qoala Economic Outlook 2022: Key Strategy and Challenges for Fintech Industry to Rise from the Pandemic, Rabu (8/12).

Ia melanjutkan, selama beberapa tahun terakhir, perkembangan industri fintech sangat luar biasa dan telah berhasil menjangkau masyarakat luas. Hal ini menjadi kesempatan bagi Qoala untuk turut berkolaborasi dengan platform digital fintech lainya dalam menghadirkan produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Tommy menyatakan, tantangan saat ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat terkait asuransi dan juga memperkenalkan jenis dan produk asuransi yang mereka butuhkan. “Saat ini, kami bekerja sama dengan berbagai perusahaan digital untuk memasyarakatan produk asuransi,” sambungnya.

Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyatakan, meskipun pandemi masih berlangsung, pemulihan ekonomi tetap berjalan. Hal ini turut didukung oleh keberadaan industri fintech.

“Dari segi keyakinan membeli konsumen pun kini sudah meningkat, di berbagai kelompok pengeluaran mulai dari Rp 1-2 juta hingga di atas Rp 5 juta per bulan. Sebagian masyarakat sudah siap untuk mulai spending kembali. Kalaupun masih ada pembatasan sosial karena PPKM, mereka juga sudah siap menggeser sebagian spending habit dengan pembelian barang secara online, sehingga turut membantu tidak hanya fintech p2p lending saja, tapi penggunaan jenis fintech lain seperti paylater dan pinjaman lainnya juga akan mengalami peningkatan,” urai Bhima.

Perkiraan tren fintech di tahun 2022, ekspansi pembiayaan merchant e-commerce akan semakin masif. Fintech akan melakukan kerja sama dengan platform e-commerce dan menyediakan pembiayaan bagi para merchant. Selain itu, fintech akan ekspansi pembiayaan ke microfinance seperti warung dan juga personal finance.

Selain penyaluran pinjaman, kedepannya fintech juga akan menawarkan digital investment platform seperti insurtech, reksadana hingga pembelian surat hutang dalam satu platform yang sama. Kemudian kedepan akan marak merger dan akuisisi sesama fintech atau bahkan fintech menjadi bagian lembaga keuangan yang bersifat tradisional.

Mercy Simorangkir, Executive Director Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menambahkan, terdapat perkembangan signifikan di industri fintech. Terutama dalam adopsinya pada masa pandemi, didukung oleh percepatan digitalisasi seiring berubahnya gaya hidup dan berlakunya pembatasan sosial.

“Perkembangan fintech secara general bisa kita lihat dari adopsinya di masyarakat dan jumlah penyelenggara fintech yang semakin beragam. Bank Indonesia mencatat jumlah adopsi uang elektronik pada bulan Oktober 2021, lebih dari 544 juta, jumlah transaksi melebihi Rp 29,23 triliun. Berdasarkan OJK, di bulan Oktober 2021 ada 104 penyelenggara yang menyalurkan pinjaman sebesar Rp 13,5 triliun dengan lebih dari 10 juta rekening pemberi pinjaman. Model fintech pun kini semakin beragam guna memenuhi keragaman layanan keuangan untuk berbagai keperluan masyarakat, di AFTECH sendiri sudah ada lebih dari 20 model bisnis fintech yang terdaftar” papar Mercy.

Ke depannya, fintech akan semakin berkembang dan memiliki peluang yang lebih baik. Potensi semakin besar karena digitalisasi makin cepat. Perkembangan fintech juga didorong oleh adopsinya tidak hanya untuk kebutuhan transaksi keuangan sehari-hari tapi potensi lain seperti pemanfaatan fintech untuk pengumpulan pendapatan daerah, pengumpulan dana sosial, fintech pasar modal juga terus berkembang dan meningkatkan penetrasi pasar modal di Indonesia. (ara/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/