alexametrics
27 C
Sidoarjo
Tuesday, 24 May 2022

Masifkan IKM Non Mamin Masuk Swalayan

SIDOARJO – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memiliki Perda Nomor 10 Tahun 2019 tentang penataan toko swalayan. Di dalamnya mengatur kemitraan usaha mikro dengan pihak swalayan. Hasilnya ribuan produk industri kecil menengah (IKM) makanan dan minuman mampu menembus penjualan di toko modern, mereka bersaing dengan produk-produk pabrikan. Tahun ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo memperluas jaringan kemitraan produk-produk IKM non mamin.

Sebagaimana Perda mengatur, kemitraan dapat dilakukan dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha atau penerimaan pasokan, penyediaan tempat usaha dalam area toko swalayan bagi pelaku IKM.

Penyediaan etalase, outlet, tempat penjualan. Dengan ketentuan, minimarket paling sedikit dua persen dari luas lantai penjualan pada tiap gerai minimarket. Kemudian supermarket, departement store ataupun grosir yang berbentuk perkulakan paling sedikit satu persen dari luas lantai penjualan pada tiap gerai.

Kepala bidang perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo Lisytaningsih mengatakan seluruh IKM yang dilibatkan ini telah mendapat fasilitasi standarisasi produk di bidang industri Disperindag.

Saat ini, pihaknya mulai melakukan penjajakan dengan toko swalayan non mamin seperti toko penjualan produk properti dan kebutuhan interior rumah yang ada di kawasan Gedangan. Lis mencontohkan swalayan ini nantinya bisa diisi dengan produk IKM sentra logam Ngingas Kecamatan Waru.

Selain itu Disperindag ingin menambah jumlah komoditas yang dijual di salah satu swalayan milik BUMN. “Di swalayan tersebut produk non mamin asal Sidoarjo sudah lama masuk. Kami ingin menambah komoditas lagi. Mereka membuka peluang,” katanya.

Kepala Disperindag Sidoarjo Tjarda menegaskan produk IKM yang masuk swalayan harus mempertahankan standarisasi kualitas dan kontinuitas produk agar tak kalah dari produk pabrikan.

“Fasilitasi dan pendampingan diberikan sebelum produk tersebut bisa dijual di swalayan hingga monitoring dilakukan setelah adanya kemitraan,” pungkasnya. (rpp/opi)

 

SIDOARJO – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memiliki Perda Nomor 10 Tahun 2019 tentang penataan toko swalayan. Di dalamnya mengatur kemitraan usaha mikro dengan pihak swalayan. Hasilnya ribuan produk industri kecil menengah (IKM) makanan dan minuman mampu menembus penjualan di toko modern, mereka bersaing dengan produk-produk pabrikan. Tahun ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo memperluas jaringan kemitraan produk-produk IKM non mamin.

Sebagaimana Perda mengatur, kemitraan dapat dilakukan dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha atau penerimaan pasokan, penyediaan tempat usaha dalam area toko swalayan bagi pelaku IKM.

Penyediaan etalase, outlet, tempat penjualan. Dengan ketentuan, minimarket paling sedikit dua persen dari luas lantai penjualan pada tiap gerai minimarket. Kemudian supermarket, departement store ataupun grosir yang berbentuk perkulakan paling sedikit satu persen dari luas lantai penjualan pada tiap gerai.

Kepala bidang perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo Lisytaningsih mengatakan seluruh IKM yang dilibatkan ini telah mendapat fasilitasi standarisasi produk di bidang industri Disperindag.

Saat ini, pihaknya mulai melakukan penjajakan dengan toko swalayan non mamin seperti toko penjualan produk properti dan kebutuhan interior rumah yang ada di kawasan Gedangan. Lis mencontohkan swalayan ini nantinya bisa diisi dengan produk IKM sentra logam Ngingas Kecamatan Waru.

Selain itu Disperindag ingin menambah jumlah komoditas yang dijual di salah satu swalayan milik BUMN. “Di swalayan tersebut produk non mamin asal Sidoarjo sudah lama masuk. Kami ingin menambah komoditas lagi. Mereka membuka peluang,” katanya.

Kepala Disperindag Sidoarjo Tjarda menegaskan produk IKM yang masuk swalayan harus mempertahankan standarisasi kualitas dan kontinuitas produk agar tak kalah dari produk pabrikan.

“Fasilitasi dan pendampingan diberikan sebelum produk tersebut bisa dijual di swalayan hingga monitoring dilakukan setelah adanya kemitraan,” pungkasnya. (rpp/opi)

 

Most Read

Berita Terbaru


/