alexametrics
29 C
Sidoarjo
Friday, 20 May 2022

Harga Minyak Goreng Naik Lagi, Disperindag Diminta Rutin Turun ke Lapangan

SIDOARJO – Meski sudah dilakukan operasi pasar di sejumlah titik lokasi, namun harga minyak goreng masih mahal. Tetap di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Terutama di pasar tradisional. Sedangkan di supermarket stoknya terbatas.

Setelah operasi pasar yang dilakukan Kementerian Perdagangan pada akhir Februari lalu, harga minyak goreng Rp 14 ribu. Namun tidak bertahan lama. Sepekan kemudian harganya mulai naik lagi hingga Jumat (4/3) mencapai Rp 17 ribu.

Ketua Komisi B DPRD Sidoarjo Bambang Pujianto mengatakan, fenomena ini harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemkab. Artinya, operasi pasar sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Baik pedagang atau konsumen.

Untuk itu, dia meminta pemkab bisa secara rutin menggelar operasi pasar. Selain untuk meringankan beban masyarakat juga untuk menjaga kestabilan harga. “Selama stok ada, lebih baik digelar operasi pasar saja,” ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo Tjarda menjelaskan, pedagang masih menjual dengan harga di atas HET sebab produknya masih stok lama.

“Ada juga karena margin pembelian di agen terlalu kecil, sehingga tidak menutupi biaya operasional pedagang pasar,” jelasnya.

Pihaknya menegaskan, akan terus memantau harga salah satu bahan pokok tersebut. Selain itu upaya operasi pasar juga akan dilakukan. Namun hal tersebut tergantung dari ketersediaan stok di distributor selaku penyedia minyak goreng.

Tjarda menyebut, memang perlu waktu untuk penyesuaian. Karena minyak goreng yang beredar tidak mungkin ditarik lagi. “Menunggu yang di lapangan habis dulu,” bebernya.

Diakuinya, harga minyak goreng di pasar tradisional belum bisa Rp 14 ribu. Kondisi ini rata-rata karena dari penyuplai harganya masih tinggi. Sedangkan di toko modern memang sudah Rp 14 ribu per liter, namun barangnya sangat terbatas.

Sementara itu, para pemilik toko mengatakan mereka belum bisa menerapkan harga 14 ribu. Alasannya karena pasokan dari distributor masih terbatas. “Harus dibagi dengan toko lain,” ujar Ima, pemilik toko di Pasar Suko. (nis/vga)

SIDOARJO – Meski sudah dilakukan operasi pasar di sejumlah titik lokasi, namun harga minyak goreng masih mahal. Tetap di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Terutama di pasar tradisional. Sedangkan di supermarket stoknya terbatas.

Setelah operasi pasar yang dilakukan Kementerian Perdagangan pada akhir Februari lalu, harga minyak goreng Rp 14 ribu. Namun tidak bertahan lama. Sepekan kemudian harganya mulai naik lagi hingga Jumat (4/3) mencapai Rp 17 ribu.

Ketua Komisi B DPRD Sidoarjo Bambang Pujianto mengatakan, fenomena ini harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemkab. Artinya, operasi pasar sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Baik pedagang atau konsumen.

Untuk itu, dia meminta pemkab bisa secara rutin menggelar operasi pasar. Selain untuk meringankan beban masyarakat juga untuk menjaga kestabilan harga. “Selama stok ada, lebih baik digelar operasi pasar saja,” ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo Tjarda menjelaskan, pedagang masih menjual dengan harga di atas HET sebab produknya masih stok lama.

“Ada juga karena margin pembelian di agen terlalu kecil, sehingga tidak menutupi biaya operasional pedagang pasar,” jelasnya.

Pihaknya menegaskan, akan terus memantau harga salah satu bahan pokok tersebut. Selain itu upaya operasi pasar juga akan dilakukan. Namun hal tersebut tergantung dari ketersediaan stok di distributor selaku penyedia minyak goreng.

Tjarda menyebut, memang perlu waktu untuk penyesuaian. Karena minyak goreng yang beredar tidak mungkin ditarik lagi. “Menunggu yang di lapangan habis dulu,” bebernya.

Diakuinya, harga minyak goreng di pasar tradisional belum bisa Rp 14 ribu. Kondisi ini rata-rata karena dari penyuplai harganya masih tinggi. Sedangkan di toko modern memang sudah Rp 14 ribu per liter, namun barangnya sangat terbatas.

Sementara itu, para pemilik toko mengatakan mereka belum bisa menerapkan harga 14 ribu. Alasannya karena pasokan dari distributor masih terbatas. “Harus dibagi dengan toko lain,” ujar Ima, pemilik toko di Pasar Suko. (nis/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/