
SIDOARJO - Meski dunia pendidikan sering kali terabaikan, sosok Leny Wahyu Widya Ningrum muncul sebagai cahaya harapan. Di SDN Tanggulangin, ia tidak hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga membentuk karakter.
Wajahnya yang ramah dan penuh semangat menjadi sumber inspirasi bagi siswa-siswanya. Ketulusan dan pengabdian jadi modalnya.
Leny lebih memilih untuk menjadi guru meskipun sadar banyak tawaran pekerjaan yang lebih menguntungkan secara finansial. Tetapi ia yakin, kontribusinya dalam pendidikan jauh lebih berarti daripada sekadar mencari keuntungan pribadi.
"Menjadi guru bukan hanya tentang memberikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan mental generasi muda," ucapnya.
Dia memiliki komitmen untuk mendidik dengan penuh tanggung jawab. Melihat siswa-siswa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik menjadi mimpi dan motivasi terbesarnya.
Sebagai pendidik, Leny tidak terjebak dalam metode pembelajaran konvensional. Dia selalu mencari inovasi dalam proses pembelajaran, menggunakan teknologi dan pendekatan kreatif untuk membuat kelas lebih menarik dan efektif.
"Bagi saya, pendidikan harus mampu mengikuti perkembangan zaman, tanpa melupakan esensi mendidik dengan hati," jelasnya.
Inovasi yang ia terapkan tidak hanya membuat muridnya lebih aktif, tetapi juga meningkatkan minat belajar mereka.
Di luar sekolah, Leny aktif dalam berbagai kegiatan sosial di komunitas. Dia terlibat dalam program literasi di berbagai desa sekitar Sidoarjo. Tujuannya memberikan akses pendidikan kepada anak-anak kurang beruntung.
"Pendidikan adalah hak semua orang, tugas saya sebagai guru bukan hanya di dalam kelas, tetapi juga memastikan bahwa semua anak, dari latar belakang apa pun, bisa mendapatkan kesempatan belajar," ujarnya.
"Menjadi guru itu luar biasa, bukan tentang seberapa besar penghasilan, tetapi seberapa besar kita bisa berkontribusi untuk masa depan bangsa," pungkasnya. (sai/vga)



