
SIDOARJO - Di tengah gempuran budaya global, tradisi halalbihalal tetap menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang tak lekang oleh waktu.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, momen ini menjadi wadah untuk mempererat silaturahmi, saling memaafkan, mencairkan kebekuan, menguatkan persatuan, dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala SMA Al Fattah Sidoarjo Ridwan Manan. "Halalbihalal bukan sekadar tradisi, tapi juga nilai luhur bangsa yang harus dilestarikan," ujar Ridwan.
Menurutnya, tradisi ini memiliki makna yang mendalam, di mana umat Islam saling memaafkan atas kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja selama Ramadan. Hal ini penting untuk membangun kembali hubungan yang baik dan memperkuat persatuan di antara sesama.
"Tradisi ini juga mengajarkan kita untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan. Di tengah keragaman budaya dan agama di Indonesia, Halal Bi Halal menjadi momen untuk memperkuat rasa toleransi dan saling pengertian," tambah Ridwan.
Lebih lanjut, Ridwan mengingatkan agar tradisi Halal Bi Halal ini dijalankan dengan tidak berlebihan yang dapat mengakibatkan melanggar syariat dan norma budaya.
"Intinya, mari kita jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk introspeksi diri, saling memaafkan, dan memperkuat persatuan demi membangun bangsa yang lebih maju dan harmonis," pungkasnya.
Tradisi Halal Bi Halal memang bukan sekadar ritual keagamaan, tapi juga cerminan budaya bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur seperti silaturahmi, saling memaafkan, dan toleransi.
Di tengah gempuran modernitas, tradisi ini perlu terus dilestarikan sebagai pengingat jati diri bangsa dan pemersatu masyarakat. (nis/vga)



