alexametrics
24 C
Sidoarjo
Wednesday, 17 August 2022

Perlu Perhatian Lebih Jenjang Pendidikan ABK

Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) perlu mendapatkan perhatian lebih. Khususnya menyangkut keberlanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. Misalnya dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) ke Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pengawas Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Provinsi Jawa Timur wilayah Sidoarjo, Saji, mengatakan, jumlah sekolah reguler yang memfasilitasi keberlanjutan pendidikan bagi ABK masih sangat terbatas. Hal tersebut menjadi catatan tersendiri.

“Yang paling sulit diatasi adalah pascalulus dari lembaga pendidikan baik di SLB maupun sekolah reguler. Perlu ada campur tangan semua pihak agar ABK bisa bekerja baik di sektor industri maupun usaha mandiri terlindung,” ujarnya.

Menurut Saji, ABK yang ingin berwirausaha mandiri, tak mungkin dapat terealisasi tanpa support orang lain. Mulai orang tua, guru dari sekolahnya hingga stakeholder lain seperti Disnaker dan Dinsos. Perlu penanganan secara holistik, kolaboratif dan sinergitas dari pemangku kepentingan.

Di sisi lain, jumlah ABK di Sidoarjo yang bersekolah cukup banyak. Saji menjelaskan, jika dipersentasekan dari jumlah penduduk Sidoarjo, jumlahnya antara empat hingga lima persen. Setiap tahunnya yang lulus dari jenjang SMA cukup banyak.

“Tapi kemudian masa tunggu mereka untuk mendapatkan kesempatan kerja akan lama. Jadi usai lulus kebanyakan mereka kembali ke orang tua. Belum banyak perusahaan atau instansi yang menyediakan kuota khusus untuk mereka,” jelasnya. (far/vga)

Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) perlu mendapatkan perhatian lebih. Khususnya menyangkut keberlanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. Misalnya dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) ke Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pengawas Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Provinsi Jawa Timur wilayah Sidoarjo, Saji, mengatakan, jumlah sekolah reguler yang memfasilitasi keberlanjutan pendidikan bagi ABK masih sangat terbatas. Hal tersebut menjadi catatan tersendiri.

“Yang paling sulit diatasi adalah pascalulus dari lembaga pendidikan baik di SLB maupun sekolah reguler. Perlu ada campur tangan semua pihak agar ABK bisa bekerja baik di sektor industri maupun usaha mandiri terlindung,” ujarnya.

Menurut Saji, ABK yang ingin berwirausaha mandiri, tak mungkin dapat terealisasi tanpa support orang lain. Mulai orang tua, guru dari sekolahnya hingga stakeholder lain seperti Disnaker dan Dinsos. Perlu penanganan secara holistik, kolaboratif dan sinergitas dari pemangku kepentingan.

Di sisi lain, jumlah ABK di Sidoarjo yang bersekolah cukup banyak. Saji menjelaskan, jika dipersentasekan dari jumlah penduduk Sidoarjo, jumlahnya antara empat hingga lima persen. Setiap tahunnya yang lulus dari jenjang SMA cukup banyak.

“Tapi kemudian masa tunggu mereka untuk mendapatkan kesempatan kerja akan lama. Jadi usai lulus kebanyakan mereka kembali ke orang tua. Belum banyak perusahaan atau instansi yang menyediakan kuota khusus untuk mereka,” jelasnya. (far/vga)

Most Read

Berita Terbaru


/