SIDOARJO –Tidak mudah bagi seseorang untuk dapat memimpin institusi yang baru berdiri. Perlu kebijaksanaan untuk merapatkan pondasi organisasi. seperti halnya. Itu pula yang dirasakan Fatkul Anam yang dipercaya untuk menjadi rektor pertama Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida).
Menjadi rektor pertama, fasilitas serba terbatas. “Awalnya kami tidak punya apa-apa. Bisa dikatakan nol fasilitas yang kami miliki,” katanya.
Meski begitu tantangan tersebut dapat dipecahkan olehnya. Dia membuktikan jika kampus baru bukan berarti kalah dalam mengejar kemajuan salah satunya prestasi.
Dalam periode kepemimpinannya telah banyak prestasi yang didapatkan. Baik penghargaan secara institusi maupun prestasi individu mahasiswanya. Selain itu ia juga berhasil menerapkan manajemen administrasi berbasis digital. Sesuatu yang dianggap terlalu cepat bagi kampus baru sekelas Unusida.
Dia menjelaskan bahwa dosen Unusida lebih banyak dari kalangan freshgraduate. Karena secara pengalaman struktural dan pengelolaan perguruan tinggi mereka masih sangat minim. “Awalnya saya singgle fighter, tapi sedikit demi sedikit mulai kita arahkan bagaimana supaya mereka bisa mengelola perguruan tinggi. Secara umur saya paling tua, begitu juga dengan pengalaman. Sehingga saya pun menerapkan prinsip kebapakan,” ucapnya.
Fatkul mengaku banyak pengalaman di Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya yang ia terapkan di Unusida. Hingga saat lima tahun pertama kondisi kampus sudah lebih baik. Ia kemudian memulai merancang dengan membuat perencanaan-perencanaan yang progresif.
Fatkul pun kemudian membuat tagline “Tiada Hari Tanpa Prestasi” bagi kampus Unusida. Hal tersebut sangat penting untuk meningkatkan awareness. Sehingga semua dosen, karyawan maupun mahasiswa menyerap makna dari tagline tersebut.
“Dari situ prestasi mahasiswa sangat luar biasa, saya juga kaget, anak-anak yang semula kita ragukan, mereka ternyata luar biasa,” ujarnya.
Tahun 2019, Unusida mulai berkompetisi ditingkat Provinsi Jawa Timur, yakni dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres). Dalam keikutsertaan pertama tersebut mahasiswanya mampu masuk dalam 15 besar. Satu tahun berikutnya mahasiswanya kemudian mampu merebut peringkat satu. “Saat dikirim ke tingkat nasional mahasiswa kami mampu menduduki peringkat ke delapan dari ribuan perguruan tinggi. Mereka mampu menyaingi kampus seperti UGM Yogyakarta, ITB, IPB dan sebagainya.”
Kemampuan tersebut menambah kepercayaan diri mahasiswa Unusida. Tahun 2022 mahasiswa Unusida mampu menyabet medali emas kompetisi sains tingkat Asia di Semarang. Serta 2023 mendapat medali perunggu pada kompetisi yang sama di Korea Selatan.
Hal tersebut semakin membangkitkan semangat mahasiswa untuk berprestasi. Hingga di tahun 2023 Unusida dinobatkan sebagai pengirim kampus mengajar terbanyak se-Indonesia. Terdapat 69 mahasiswa yang berpartisipasi pada program tersebut.
Semangat untuk berprestasi ini, rupanya juga meracuni para pegawai dan dosen. Buktinya Unusida pun terdapat tiga prestasi fenomenal. Yakni, masuk peringkat 107 nasional bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Sains and Technologi Indeks. Kemudian klaster Unusida sebagai perguruan tinggi berubah dari pratama ke madya. Dan penganugerahan dari Riset dan Teknologi Perguruan Tinggi (Ristekdikti) untuk kategori penelitian dan pengabdian masyarakat.
“Munurut saya itu sudah sangat luar biasa karena kita satu-satunya perguruan tinggi NU yang dapat dari ribuan perguruan tinggi negeri swasta se-Indonesia itu Unusida yang dapat,” tutupnya.(sai/nug)
Editor : Vega Dwi Arista