RADAR SIDOARJO - Penanganan dugaan keracunan massal yang menimpa santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, terus bergulir.
Hingga Rabu (2/9), tercatat 567 santri telah dirujuk ke tujuh rumah sakit di Sidoarjo untuk mendapatkan penanganan medis.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 457 santri telah diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan dan perawatan. Sementara itu, 80 pasien masih tercatat Masuk Rumah Sakit (MRS) dan 30 santri masih menjalani observasi.
Baca Juga: Tim Labfor Polda Jatim Datangi SPPG Kalitengah Sidoarjo untuk Cek MBG
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan, seluruh pasien yang dirawat tersebar di tujuh rumah sakit. Kondisi para santri juga disebut relatif baik.
"Dirawat di tujuh rumah sakit," ujar Lakhsmie.
Baca Juga: Ini Penampakan SPPG Kalitengah yang Disuspend Diduga Sebabkan Santri Manbaul Hikam Keracunan MBG
Menurut dia, keluhan yang dialami para santri antara lain mual, muntah, pusing, hingga nyeri perut. Namun, tidak ada pasien yang dilaporkan dalam kondisi kritis.
"Keluhannya ada yang mual, muntah dan pusing," katanya.
Baca Juga: Ketua Asrama Sebut Santri Ponpes Manbaul Hikam Diduga Keracunan MBG dari SPPG Kalitengah Sidoarjo
Selain melakukan penanganan terhadap para santri, Dinkes Sidoarjo juga melakukan pemeriksaan untuk mencari faktor yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.
Sejumlah sampel telah diambil untuk dilakukan uji laboratorium. Pemeriksaan tidak hanya menyasar makanan, tetapi juga faktor kesehatan air yang digunakan di lingkungan pondok.
Baca Juga: Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam Diduga Keracunan MBG Disebar ke Sejumlah Rumah Sakit Sidoarjo
"Termasuk juga pemeriksaan faktor kesehatan air dan sampel dari makanan," jelasnya.
Untuk sampel air, Dinkes memeriksa sumber air yang digunakan di lingkungan pondok. Pemeriksaan mencakup air dari sumber utama, termasuk air PDAM maupun air galon.
"Dari data yang kami terima, ini ada dari PDAM," ungkap Lakhsmie.
Selain pemeriksaan sampel, aspek sarana dan prasarana dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga menjadi perhatian. Dinkes menyebut masih terdapat sarana prasarana yang dinilai belum sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari proses pemenuhan persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Jika tiga persyaratan yang ditetapkan telah terpenuhi, SLHS dapat diterbitkan oleh Dinkes.
"Kalau tiga syarat itu terpenuhi, maka SLHS akan kesempatan pertama akan dikeluarkan oleh Dinkes," katanya.
Sementara itu, proses pendataan dan pemantauan terhadap pasien masih terus dilakukan. Dinkes memastikan data jumlah pasien masih dapat berubah seiring perkembangan penanganan di lapangan.
Sebelumnya, RSUD RT Notopuro Sidoarjo menjadi salah satu rumah sakit yang menerima rujukan dalam jumlah besar. Hingga Rabu pagi, 335 pasien santri telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit tersebut, sementara sebagian lainnya masih menjalani perawatan dan observasi.
Dengan kondisi mayoritas pasien yang telah membaik, penanganan saat ini tidak hanya berfokus pada pemulihan para santri, tetapi juga mengungkap faktor yang menyebabkan ratusan santri mengalami keluhan kesehatan secara bersamaan. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo