RADAR SIDOARJO - Kondisi tanggul lumpur semakin memprihatinkan. Rembesan air yang muncul dari tubuh tanggul titik 68 kembali membuat warga Dusun Pologunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, merasa cemas.
Derasnya aliran air yang keluar dari tanggul tersebut mengingatkan warga pada peristiwa jebolnya tanggul pada 2009 silam yang menyebabkan sejumlah warga harus mengungsi.
Baca Juga: Tanggul Lumpur Rawan Jebol, DPRD Sidoarjo Desak Langkah Antisipasi
Lokasi rembesan berada di perbatasan Desa Glagaharum, Kecamatan Porong, dengan Dusun Pologunting, Desa Gempolsari. Warga menyebut, kondisi rembesan terus mengalami perubahan dalam beberapa pekan terakhir.
Jika sebelumnya hanya terlihat tanah basah di bagian bawah tanggul, kini air sudah mengalir cukup deras menuju sungai kecil yang berada di bawah area tanggul.
Baca Juga: Tanggul Lumpur Porong Sidoarjo Titik 68 Rembes, Ribuan Warga Resah
Sukadi, warga RT 14/RW 4 Dusun Pologunting, Desa Gempolsari, mengaku kondisi tersebut membuat warga kembali waswas. Pasalnya, mereka masih mengingat kejadian ketika tanggul di lokasi yang sama mengalami jebol pada 2009.
“Dulu sekitar tahun 2009 tanggul ini pernah jebol. Waktu itu banyak warga dari dua desa yang harus mengungsi. Jadi ketika melihat ada rembesan seperti ini, warga kembali merasa khawatir,” ujar Sukadi, Minggu (21/6).
Baca Juga: Lumpur Porong Sidoarjo Nyaris Meluber, Tanggul Ditinggikan, Warga Khawatir Ambles
Menurutnya, pascakejadian tersebut, bagian tanggul telah diperkuat menggunakan bronjong kawat. Namun, meningkatnya debit rembesan membuat kekhawatiran warga kembali muncul.
“Kalau dilihat sekarang, rembesannya semakin besar. Dulu hanya berupa tanah basah di bawah tanggul, sekarang airnya sudah mengalir cukup deras ke sungai kecil,” katanya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Matroji, warga Desa Gempolsari lainnya. Pria 56 tahun itu menyebut perubahan kondisi rembesan terjadi secara perlahan dalam beberapa minggu terakhir.
“Awalnya hanya basah, kemudian lama-lama berubah menjadi aliran air. Kondisi ini mengingatkan warga pada kejadian tahun 2009 saat tanggul jebol,” ucapnya.
Ia berharap Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) segera melakukan pemeriksaan dan mengambil langkah antisipasi agar kondisi tanggul tetap aman.
“Kami berharap PPLS segera memberikan solusi terbaik. Warga yang tinggal di bawah tanggul tentu merasa khawatir apabila rembesan terus bertambah,” tegasnya.
Di lokasi tersebut, PPLS diketahui telah melakukan sejumlah upaya penanganan, salah satunya dengan membuat saluran pembuangan menyerupai gorong-gorong untuk mengurangi volume air di area kolam penampungan lumpur. Namun, hingga kini rembesan dari tubuh tanggul masih terlihat.
Warga berharap pemeriksaan menyeluruh segera dilakukan untuk memastikan kondisi tanggul tetap aman. Sebab, Desa Gempolsari dan Desa Glagaharum merupakan wilayah yang berada dekat dengan tanggul penahan lumpur, sehingga setiap perubahan kondisi selalu menjadi perhatian masyarakat. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista