RADAR SIDOARJO - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ini tidak hanya menjadi ajang siswa baru mengenal lingkungan sekolah.
Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sidoarjo memanfaatkan momentum tersebut untuk menanamkan pendidikan demokrasi kepada generasi muda melalui program Bawaslu Goes To School.
Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo Agung Nugraha mengatakan, peserta MPLS saat ini merupakan calon pemilih pemula yang dalam beberapa tahun ke depan akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali. Karena itu, pendidikan kepemiluan sejak dini dinilai sangat penting.
"Para peserta MPLS saat ini merupakan calon pemilih pemula yang akan berperan menentukan arah demokrasi Indonesia pada tahun-tahun mendatang. Dalam beberapa tahun ke depan mereka akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali. Karena itu, penting bagi mereka memahami proses pemilu, integritas penyelenggaraan, serta arti penting partisipasi masyarakat dalam mewujudkan demokrasi yang berkualitas," ujar Agung, Kamis (16/7).
Agung menegaskan, pendidikan kepemiluan bukan sekadar mendorong tingginya angka partisipasi pemilih. Lebih dari itu, program tersebut bertujuan membentuk karakter generasi muda agar mampu berpikir kritis terhadap berbagai informasi yang diterima.
Menurutnya, pemilih pemula harus memiliki kemampuan menyaring informasi sehingga tidak mudah terpengaruh politik uang, ujaran kebencian, maupun disinformasi yang dapat merusak kualitas demokrasi.
"Lingkungan sekolah merupakan tempat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda," tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kabupaten Sidoarjo Agisma D Fastari menjelaskan, program Bawaslu Goes To School merupakan bagian dari strategi pencegahan pelanggaran pemilu melalui penguatan pendidikan politik sejak usia sekolah.
Menurutnya, karakter pemilih pemula yang aktif, kritis, dan dekat dengan perkembangan teknologi informasi menjadi modal besar dalam membangun budaya pengawasan partisipatif.
"Kami ingin generasi muda tidak hanya hadir sebagai pemilih yang menggunakan hak suaranya, tetapi juga menjadi bagian dari pengawas partisipatif yang berani melaporkan jika menemukan dugaan pelanggaran pemilu di lingkungan sekitarnya," katanya.
Agisma menambahkan, kelompok pemilih pemula memiliki posisi yang sangat strategis dalam setiap penyelenggaraan pemilu. Selain jumlahnya yang terus bertambah, kelompok tersebut juga memiliki pengaruh besar terhadap dinamika demokrasi di Indonesia.
Program hasil kolaborasi Bawaslu Kabupaten Sidoarjo dengan Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Surabaya-Sidoarjo itu digelar serentak di enam sekolah, yakni SMAN 1 Sidoarjo, SMAN 2 Sidoarjo, SMAN 3 Sidoarjo, SMAN 4 Sidoarjo, SMKN 1 Sidoarjo, dan SMKN 1 Buduran.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta didik baru dibekali pemahaman mengenai sejarah pemilu di Indonesia, sistem dan tahapan penyelenggaraan pemilu maupun pemilihan, hingga pentingnya pengawasan partisipatif dalam menjaga kualitas demokrasi. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui diskusi, studi kasus, dan sesi tanya jawab. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo