RADAR SIDOARJO - Momen haru dan penuh kebanggaan mewarnai Farewell Ceremony Akademik pelepasan siswa kelas VI MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo di Aston Sidoarjo, Senin (8/6).
Di antara 214 siswa yang dilepas tahun ini, sosok Kayla Almira Reviera menjadi perhatian khusus setelah berhasil menuntaskan hafalan Alquran 30 juz hanya dalam waktu tiga tahun.
Prestasi luar biasa tersebut mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Bahkan, Kayla yang berasal dari kelas VI ICP 3 memperoleh pembebasan biaya pendidikan untuk melanjutkan ke MTs Bilingual Muslimat NU Pucang hingga MA Bilingual Muslimat NU Pucang.
Ketua Panitia sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan MI Muslimat NU Pucang, Mem Mina, mengungkapkan bahwa tahun ini sekolah melepas sebanyak 214 siswa dengan berbagai capaian membanggakan di bidang akademik maupun nonakademik.
"Alhamdulillah seperti tahun-tahun sebelumnya, lulusan MI Muslimat NU Pucang banyak yang menorehkan prestasi tingkat nasional maupun internasional. Tahun ini ada 14 siswa berprestasi akademik dan nonakademik, 17 siswa dengan nilai terbaik TKA, serta tiga lulusan terbaik peringkat satu, dua, dan tiga," ujarnya.

Menurut Mem Mina, keberhasilan para siswa tidak lepas dari sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Dalam prosesi pelepasan, para siswa juga memberikan bunga mawar kepada orang tua sebagai simbol rasa terima kasih atas dukungan dan pengorbanan selama mendampingi mereka menempuh pendidikan.
"Anak-anak tadi memberikan bunga mawar kepada bapak dan ibu mereka sebagai bentuk terima kasih. Karena keberhasilan dan prestasi anak-anak juga tidak lepas dari peran besar orang tua," katanya.
Ia berharap seluruh lulusan tetap mempertahankan nilai-nilai yang telah ditanamkan selama belajar di MI Muslimat NU Pucang, terutama dalam hal ibadah, karakter, dan semangat belajar.
"Di mana pun mereka melanjutkan pendidikan, kami berharap kebiasaan baik yang selama ini diajarkan tetap dipertahankan. Ibadahnya dijaga, intelektualnya terus dikembangkan, dan karakter baiknya jangan ditinggalkan," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Penjamin Mutu (Quality Assurance) MI Muslimat NU Pucang, Syamsuhari, menilai kemampuan menghafal Alquran memiliki korelasi dengan kecerdasan siswa. Karena itu, sekolah terus mendorong lahirnya generasi penghafal Alquran yang juga unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Rata-rata penghafal Alquran itu memiliki daya pikir yang cerdas. Selama ini lulusan pesantren sering kali kuat dalam hafalan, tetapi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi masih perlu diperkuat. Karena itu kami menggembleng anak-anak yang sudah hafal Alquran agar juga unggul dalam sains dan teknologi," jelasnya.
Sebagai bentuk apresiasi, sekolah memberikan beasiswa penuh kepada siswa yang berhasil menghafal 30 juz Alquran untuk melanjutkan pendidikan di lembaga pendidikan di bawah naungan Muslimat NU Pucang.
"Anak-anak yang hafal 30 juz kami bebaskan biaya pendidikan untuk melanjutkan ke MTs Bilingual Muslimat NU Pucang dan MA Bilingual Muslimat NU Pucang," tegasnya.
Di balik prestasi tersebut, Kayla Almira Reviera mengaku kecintaannya terhadap Alquran tumbuh sejak kecil melalui kebiasaan membaca setiap malam. Dari kebiasaan itulah muncul ketertarikan untuk mulai menghafal.
"Awalnya saya sering membaca Alquran pada malam hari. Dari situ saya tertarik untuk menghafal. Biasanya satu hari saya menghafal satu lembar. Sebelum menghafal, saya baca berulang-ulang sekitar tiga kali, lalu saya hafalkan," tutur Kayla.
Siswi berprestasi itu mengatakan dirinya rutin menyetorkan hafalan hingga lima halaman setiap hari kepada guru pembimbing. Jika terdapat kesalahan, ia berusaha memperbaikinya secara mandiri.
"Saya menyetorkan sekitar lima halaman setiap hari. Nanti disimak oleh guru. Kalau ada yang salah, biasanya saya membetulkan sendiri tanpa bantuan guru," katanya.
Menurut Kayla, dukungan penuh dari orang tua menjadi salah satu faktor terbesar yang membuatnya mampu menyelesaikan hafalan 30 juz dalam waktu tiga tahun.
"Orang tua selalu mendukung apa yang saya lakukan. Mereka sering memberi hadiah Alquran dan selalu menyemangati saya. Menurut saya itu sangat membantu," ungkapnya.
Ia juga mengaku proses menghafal Alquran bukanlah beban, melainkan aktivitas yang menyenangkan.
"Saya merasa belajar Alquran itu sangat menarik. Karena saya suka, akhirnya saya bisa menyelesaikan hafalan 30 juz selama tiga tahun," pungkasnya. (nas/dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista