RADAR SIDOARJO - Puluhan anak dari berbagai panti asuhan berbeda agama berkumpul dalam satu kegiatan santunan dan buka puasa bersama di SMP Hang Tuah 6 Excellent Juanda, Sidoarjo, Jumat (13/3).
Bukan sekadar berbagi di bulan Ramadan, kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi para siswa tentang arti toleransi dan kepedulian sosial di tengah keberagaman.
Anak-anak dari empat panti asuhan yang berbeda keyakinan hadir dan mengikuti rangkaian acara bersama. Mereka memanjatkan doa sesuai agama masing-masing, yakni Islam, Kristen, Katolik, dan Hindu.
Suasana penuh kebersamaan tersebut mencerminkan semangat saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ditanamkan di lingkungan sekolah.
Kepala SMP Hang Tuah 6 Excellent Juanda Ari Sutrijono mengatakan kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian program pembinaan karakter yang telah dimulai beberapa hari sebelumnya.
Menurut dia, sekolah menghadirkan kegiatan keagamaan yang disesuaikan dengan keyakinan para siswa melalui program Three Pondok.
Program tersebut terdiri dari Pondok Ramadan bagi siswa muslim, Pondok Kasih untuk siswa Kristen dan Katolik, serta Pondok Dharma bagi siswa beragama Hindu.
“Kegiatan puncaknya adalah santunan anak yatim dari berbagai agama. Jadi bukan hanya dari agama Islam saja, tetapi juga Kristen, Katolik, dan Hindu. Ada empat panti asuhan yang kami undang untuk bersama-sama merasakan kebersamaan,” ujar Ari.
Ia menjelaskan, santunan yang diberikan memang tidak besar, namun memiliki makna yang mendalam karena berasal dari partisipasi berbagai pihak di lingkungan sekolah.
“Dana santunan berasal dari sumbangan siswa, wali siswa, alumni, guru, dan komite. Melalui kegiatan ini anak-anak belajar berbagi dan peduli kepada sesama tanpa memandang perbedaan agama. Ini bagian dari pendidikan karakter,” jelasnya.
Ari menambahkan, nilai toleransi sudah mulai ditanamkan sejak proses persiapan kegiatan. Para siswa terlibat langsung dalam berbagai kegiatan, mulai dari persiapan acara hingga pembagian makanan berbuka puasa.
“Kami ingin anak-anak terbiasa hidup dalam kebersamaan. Mereka saling membantu tanpa melihat perbedaan keyakinan. Dari sinilah nilai toleransi dibangun,” katanya.
Menurutnya, kecerdasan akademik saja tidak cukup tanpa disertai sikap saling menghargai dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kalau anak pintar tapi tidak memiliki toleransi, itu percuma. Kepintaran bisa dikembangkan, tetapi sikap toleransi harus ditanamkan sejak dini karena itulah yang paling penting dalam kehidupan bermasyarakat,” tegas Ari.
Dalam kegiatan tersebut, sekolah mengundang empat panti asuhan dari berbagai agama, yakni Panti Asuhan Al Hikmah (Islam), Suara Putra Jaya Shidik Amarta (Hindu), Panti Asuhan Darkas (Kristen), dan Panti Asuhan Santa Betrik (Katolik).
Acara juga dihadiri komite sekolah yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Melalui kegiatan ini, SMP Hang Tuah 6 Excellent Juanda berharap para siswa tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, peduli terhadap sesama, serta menjunjung tinggi nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. (nas/dik)
Editor : Vega Dwi Arista