Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

RARETO Perkuat Nilai Toleransi di SMPN 1 Gedangan Sidoarjo

Diky Putra Sansiri • Minggu, 8 Maret 2026 | 12:03 WIB

RAMADAN: SMPN 1 Gedangan, Sidoarjo, perkuat nilai toleransi. (ANAS/RADAR SIDOARJO)
RAMADAN: SMPN 1 Gedangan, Sidoarjo, perkuat nilai toleransi. (ANAS/RADAR SIDOARJO)

 

RADAR SIDOARJO - Semangat toleransi antarumat beragama terus ditanamkan kepada siswa di SMP Negeri 1 Gedangan, Sidoarjo. Melalui kegiatan Ramadan Retret Togetherness (RARETO) bertema “Indahnya Ramadan dalam Harmoni Kebersamaan”, sekolah tersebut mengajak siswa belajar menghargai perbedaan sekaligus memperkuat kebersamaan, Sabtu (7/3).

Kegiatan yang digelar di Meeting Room ( ruang pertemuan). diikuti siswa kelas VII, VIII, dan IX dari berbagai latar belakang agama. Program tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah mempertahankan komitmennya sebagai sekolah toleransi yang telah dideklarasikan sejak 2023.

KHIDMAT: Prosesi doa  toleransi, oleh agama Islam, Hindu, katolik, Kristen secara bergantian. (ANAS/RADAR SIDOARJO)
KHIDMAT: Prosesi doa toleransi, oleh agama Islam, Hindu, katolik, Kristen secara bergantian. (ANAS/RADAR SIDOARJO)

Kepala SMPN 1 Gedangan Aris Setiawan mengatakan, kegiatan RARETO merupakan program yang terus dikembangkan sekolah setiap Ramadan. Program tersebut menekankan pentingnya saling menghormati antar siswa dengan latar belakang agama yang berbeda.

“Toleransi yang kami kembangkan karena SMPN 1 Gedangan sudah mendeklarasikan diri sebagai sekolah toleransi sejak 2023. Waktu itu kami menjadi salah satu pionir bersama SMPN 1 Waru dan SMPN 1 Taman yang digagas komunitas Brangwetan,” ujar Aris kepada Radar Sidoarjo.

Menurutnya, kegiatan RARETO menjadi ruang bagi siswa untuk memahami keberagaman sekaligus belajar menghargai perbedaan. Saat kegiatan berlangsung, siswa diberi kesempatan untuk menjalankan doa sesuai dengan agama masing-masing.

“Di sekolah ini ada siswa yang beragama Islam, Katolik, Kristen, dan Hindu. Mereka bisa berdoa sesuai keyakinannya. Dari situ siswa belajar bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dihargai,” jelasnya.

Aris menambahkan, toleransi yang dibangun di lingkungan sekolah tidak hanya berkaitan dengan perbedaan agama, tetapi juga cara menghargai pendapat orang lain.

“Tidak hanya soal SARA, tapi bagaimana siswa bisa mengkomunikasikan pendapat, mengapresiasi teman, saling menghormati dan tidak saling gontok-gontokan. Itu juga bagian dari toleransi,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa nilai toleransi harus dimulai dari pimpinan sekolah. Keteladanan dari kepala sekolah dan guru menjadi fondasi penting agar budaya tersebut dapat tumbuh di lingkungan pendidikan.

“Kalau top leader-nya memiliki toleransi yang kuat, maka guru, siswa, hingga orang tua akan ikut membangun sikap yang sama. Tiga pilar pendidikan itu harus berjalan bersama,” terangnya.

Kegiatan RARETO juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari komite sekolah hingga pakar pendidikan yang selama ini menjadi konsultan bagi SMPN 1 Gedangan.

Menurut Aris, kolaborasi tersebut merupakan bagian dari konsep kewirausahaan kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

“Kewirausahaan kepala sekolah tidak hanya soal keuangan, tetapi bagaimana membangun komunikasi, kerja sama, dan menghadirkan orang-orang ahli yang bisa membantu meningkatkan kualitas pendidikan,” tambahnya.

Sementara itu, Perwakilan Komunikasi Brangwetan Dodi Dhiyauddin menilai bahwa nilai toleransi sejatinya sudah menjadi karakter bangsa Indonesia sejak lama. Namun, nilai tersebut harus terus dirawat oleh generasi muda.

“Toleransi sebenarnya karakter bangsa Indonesia sejak dulu. Karena Indonesia terdiri dari banyak suku, agama, dan budaya, maka merawat toleransi menjadi kewajiban generasi muda,” tuturnya.

Dodi berharap program yang telah berjalan di SMPN 1 Gedangan bisa terus dilanjutkan dan menjadi inspirasi bagi sekolah lain.

“Harapannya semangat toleransi tidak hanya muncul dalam kegiatan seperti ini, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran di kelas dan kurikulum sekolah,” pungkasnya. (nas/dik)

Editor : Vega Dwi Arista
#SMP #Toleransi #Agama #Siswa #Semangat