RADAR SIDOARJO - Di bawah rindangnya pepohonan di kawasan Lakarsantri, Surabaya, selembar kain putih terbentang di atas lantai. Daun-daun segar ditata rapi diatasnya, siap “dicetak” menjadi motif alami yang memikat. Begitulah cara Kebon Alam Ecoprint berkarya—mengubah alam menjadi busana bernilai seni dan ekonomi.
Namun, karya indah dari alam ini tak cukup hanya bermodal kreativitas. Untuk bisa bertahan dan berkembang di tengah persaingan pasar yang kian digital, pelaku UMKM pun dituntut untuk melek teknologi, memahami pemasaran, dan terus berinovasi.
Inilah yang mendorong tim dosen dari Universitas Sunan Giri (Unsuri) Surabaya berkolaborasi dengan dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabya dan didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi(Kemendiktisaintek)melakukan pendampingan dan pelatihan.
Tim pengabdi dalam kegiatan ini terdiri dari Yayu Sriwahyuni Hamzah, ST., M.MT., dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Sunan Giri Surabaya, Utami Puji Lestari, SE., MSi., dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Unsuri Surabaya, dan Dr. Ir. Eko Nurmianto, MEngSc, DERT, dosen Departemen Teknik dan Sistem Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Selain itu kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa yaitu Achmad Ghoni Ken Diyu dan Ach. Nur Irchamul dari Fakultas Teknik Unsuri Surabaya serta Nurul Agustin dari Fakultas Ekonomi Unsuri Surabaya.
Melalui Program Kemitraan Masyarakat Hibah Kemendiktisaintek bertajuk “Pemberdayaan UMKM Kebon Alam Ecoprint dalam Upaya Pengembangan Usaha melalui Inovasi Teknologi dan Diversifikasi Produk”, para dosen lintas keahlian ini hadir memberikan solusi nyata: dari Business Model Canvas (BMC), pemasaran omnichannel, hingga inovasi alat pengering kain berbasis listrik. Semua demi satu tujuan—agar UMKM lokal naik kelas ke pasar digital global tanpa meninggalkan akar lokalitas dan keunikan produknya.
UMKM merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia, termasuk di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Namun, tidak sedikit pelaku UMKM yang masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses teknologi, inovasi produk, hingga strategi pemasaran yang belum optimal. Hal ini pula yang dialami oleh Kebon Alam Ecoprint, sebuah UMKM yang bergerak di bidang kerajinan ramah lingkungan berbasis pewarna alami di wilayah Lakarsantri, Surabaya.
Menjawab tantangan tersebut, tim dosen dari Universitas Sunan Gisi (Unsuri) Surabaya berkolaborasi dengan dosen Institute Teknologi Sepuluh Novenber (ITS) Surabaya dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) skema pemberdayaan berbasis Kemasyarakatan tahun 2025, yang didanai oleh Kemenditisaintek.
Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 2025 bertempat di lokasi usaha Kebon Alam Ecoprint, Lakarsantri, Surabaya. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi antara akademisi, pemerintah dan pelaku usaha dalam mendorong kemajuan UMKM lokal yang berdaya saing.
Pelatihan ini difokuskan pada dua pilar utama pengembangan usaha, yaitu inovasi teknologi produksi dan diversifikasi produk. Dalam sesi pelatihan, para peserta diberikan pemahaman teknis mengenai penggunaan alat bantu produksi yang lebih efisien, metode pengeringan alami yang ramah lingkungan, serta strategi mengembangkan variasi produk yang tidak hanya terbatas pada kain ecoprint, tetapi juga menjangkau produk-produk turunan seperti tas, taplak, pouch, dan fashion item lainnya.
Yayu Sriwahyuni, ST., MMT. mengemukakan bahwa dari sisi teknis produksi, pelatihan ini membantu pelaku UMKM untuk memahami prinsip efisiensi dan keberlanjutan dalam proses kerja. Ia juga mengenalkan konsep Business Model Canvas (BMC) sebagai alat perencanaan bisnis sederhana namun komprehensif. “Dengan BMC, pelaku UMKM bisa memetakan segmen pasar, nilai produk, hubungan pelanggan, hingga sumber daya yang dimiliki secara visual dan strategis. Hal ini penting agar mereka lebih terarah dalam mengembangkan usaha,” jelas Yayu. “Selama ini Kebon Alam Ecoprint memiliki potensi besar, terutama karena mereka sudah memiliki ciri khas produk dan filosofi ramah lingkungan. Namun, untuk bisa naik kelas, perlu ada sentuhan teknologi dan penguatan dari sisi diversifikasi produk agar lebih adaptif terhadap permintaan pasar,” ujar Yayu.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga membuka ruang dialog dan pendampingan usaha, terutama untuk memperkuat manajemen produksi dan pengelolaan pemasaran. Utami Puji Lestari, SE., M.Si Dosen dari Fakultas Ekonomi Unsuri turut berbagi wawasan mengenai strategi pemanfaatan media sosial sebagai alat pemasaran berbasis digital. Lebih lanjut, Utami juga menekankan pentingnya strategi pemasaran omnichannel yang mengintegrasikan kanal online dan offline. “UMKM harus mampu menjangkau konsumen tidak hanya lewat pameran atau toko fisik, tapi juga aktif di marketplace, media sosial, dan platform digital lainnya. Pendekatan omnichannel akan memperluas pasar sekaligus memperkuat relasi dengan pelanggan baik di tingkat lokal, nasional maupun global,” jelasnya.
Dalam aspek teknologi produksi, Dr. Ir. Eko Nurmianto, MEngSc, DERT memperkenalkan penggunaan alat pengering berbasis pemanas listrik untuk membantu mempercepat proses pengeringan kain ecoprint, terutama saat cuaca tidak mendukung. “Selama ini pengeringan hanya mengandalkan sinar matahari, yang kurang stabil saat musim hujan. Alat ini dirancang sederhana, hemat energi, dan mudah dirakit, agar bisa diterapkan langsung oleh pelaku UMKM tanpa biaya mahal,” terangnya.
Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari pelaku UMKM, terutama dari pengelola Kebon Alam Ecoprint. Mereka merasa terbantu, baik dari sisi teknis produksi maupun wawasan kewirausahaan.Ibu Masruin yang akrab disapa mba Iin, salah satu pengelola Kebon Alam Ecoprint, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh tim dosen dan pemerintah, khususnya Kementerian PendidikanTinggi, Sains, dan Teknologi(Kemenditisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), atas dukungan penuh terhadap pengembangan UMKM. “Kami merasa terbantu dan didukung untuk terus berkembang. Bantuan ini bukan hanya pelatihan teknis, tetapi juga membangkitkan semangat kami untuk naik kelas,” ujarnya.
Program ini merupakan bagian dari komitmen Unsuri dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi dengan ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabayajuga menjadi bentuk sinergi antarperguruan tinggi untuk berkontribusi langsung dalam peningkatan kapasitas pelaku UMKM lokal.
Dengan semangat gotong royong dan pemberdayaan, inisiatif seperti ini menjadi bukti bahwa kolaborasi akademisi dan masyarakat mampu menciptakan dampak nyata. Semoga Kebon Alam Ecoprint dapat menjadi model inspiratif UMKM berbasis lingkungan yang berdaya saing di era digital. (upl/vga)
Editor : Vega Dwi Arista