SIDOARJO - UMKM pengrajin patung di Kecamatan Trowulan, Kota Mojokerto masuk dalam program pemberdayaan yang dilakukan oleh Univeristas Negeri Surabaya (Unesa) dalam rangka Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM).
Program yang dilakukan untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pengetahuan digitalisasi untuk memajukan UMKM Trowulan dalam hal memasarkan produknya ke segmen pasar yang lebih luas.
Dalam kegiatan ini, hadir Ketua PKM Prof. Dr. Dewie Tri Wijayati,M.Si., dengan anggota tim, di antaranya, Ratih Amelia, Riedel Paulus Jacobis, dan Achmad Kautsar.
Ketua PKM Prof. Dr. Dewie Tri Wijayati,M.Si., mengatakan, peran UMKM pengerajin patung di Trowulan cukup besar dalam membantu pertumbuhan ekonomi daerah. Terbukti, produksi patung dapat menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara di masanya.
Karena hasil produksi yang diakui dan sudah dikenal sejak zaman dahulu, para pengrajin patung kerap menerima pesanan dari seluruh wilayah Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri.
Perlu diketahui, Trowulan merupakan daerah yang telah dikenal sejak 1975 sebagai pengrajin patung. Seiring berjalannya waktu, banyak warga yang berbondong-bondong membuat patung karena masalah ekonomi dan di saat itu, banyak warga asing mengujungi situs-situs di Trowulan pada 1998.
"Hal ini sebagai modal yang sangat kuat dalam 'branding'. Sehingga perajin tinggal menggali ingatan akan kejayaan masa lalu, serta memberikan inovasi dalam produksi dan pemasaran," ungkapnya.
Oleh karena itu, pihaknya hadir untuk memberikan penguatan manajerial dari sisi SDM dan pengetahuan digitalisasi untuk membangkitkan UMKM di Trowulan dalam hal pemasaran produk.
Selain itu, pengelolaan 22 destinasi wisata di Trowulan yang belum maksimal juga menjadi sorotan. Pengelolaan sektor pariwisata harus diperhatikan setiap elemen, baik pemerintah, akademisi, maupun masyarakat.
Dia berharap, dukungan ini dapat menumbuhkan rasa bangga dan ketertarikan di kalangan generasi muda untuk melanjutkan usaha yang memiliki warisan budaya yang berharga ini.
Sementara itu, narasumber pelatihan, Riedel Paulus Jacobis menilai, pemahat patung adalah pekerja seni yang membutuhkan keterampilan teknis dan artistik.
Menurutnya, di sisi lain harus diakui profesi sebagai pengerajin patung juga adalah pekerjaan yang berat dan memerlukan waktu panjang untuk menguasainya.
"Akibatnya, regenerasi di bidang ini menjadi lambat bahkan terancam tidak berjalan karena adanya pergeseran orientasi yang dimiliki anak-anak muda di daerah tersebut," imbuhnya.
Profesi sebagai pengerajin patung ini tidak dilanjutkan anak-anak muda karena berbagai alasan, ada yang harus keluar daerah untuk melanjutkan pendidikan, ada juga yang mau mencari profesi lain yang lebih menguntungkan.
Hal ini menjadi persoalan serius, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa profesi pengerajin patung ini merupakan warisan budaya yang harus dipelihara dan dikembangkan.
Terutama, peran anak muda sangat penting untuk memanafaatak teknologi sebagai proses produksi hingga promosi untuk membangkitkan perekonomian di Kecamatan Trowulan.
"Pengembangan SDM bagi pemahat patung menjadi tantangan besar, terutama di tengah generasi muda yang kurang tertarik untuk melanjutkan usaha ini," ujar Kepala Desa Watesumpak Muhammad Yusuf.
Di sisi lain, Ketua Paguyuban Deni Indianto menambahkan, pelatihan ini dirasa sangat penting untuk mengubah persepsi generasi muda tentang profesi pemahat patung.
"Ini bisa dilakukan dengan mempromosikan nilai seni dan potensi ekonomi dari kerajinan patung," tambahnya.
Selain itu, pemanfaatan media sosial dan platform digital lainnya juga bisa digunakan untuk menampilkan karya-karya seni patung kepada khalayak yang lebih luas, sehingga menarik minat generasi muda untuk terlibat dalam usaha ini. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista