Ketua pelaksana, Novi Ika Ratnasari, mengatakan, ada sejumlah kegiatan dalam sinau bareng tersebut. Di antaranya karawitan, Tari Remo, campur sari, hingga jula-juli. Terakhir, ada penampilan ludruk dari SMPN 2 Sidoarjo dan SMPN 1 Parengan Tuban.
“SMPN 2 Sidoarjo menampilkan ludruk dengan lakon Sarip Tambak Oso. Sedangkan SMPN 1 Parengan Tuban menampilkan ludruk dengan lakon Sogol Pendekar Sumur Gemuling,” ujarnya.
Kegiatan tersebut tampak begitu meriah. Seluruh elemen sekolah mulai siswa hingga dewan guru tampak asyik menyaksikan berbagai penampilan kesenian itu. Uniknya, mereka juga terlihat memakai udeng khas Sidoarjo, Pacul Gowang.
Kepala SMPN 2 Sidoarjo, Qodim mengatakan, kegiatan tersebut merupakan proses belajar yang sangat penting bagi siswa. Terutama untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila melalui pengenalan dan pelestarian kesenian ludruk.
"Kerana itu, kami menghadirkan langsung seniman Ludruk, yaitu Nurizal Widodo (Cak Uyis) dan Sultan Dwi Farid Murianto (Cak Sulton). Dengan begitu, siswa dapat belajar langsung mengenai kesenian ludruk kepada ahlinya," ujarnya.
Ahmad Winarto, pembina ekstrakurikuler drama tradisional SMPN 1 Parengan Tuban mengatakan, kegiatan tersebut merupakan sarana berbagi pengalaman. Khususnya melalui pentas bersama ludruk siswa. Tujuannya tak lain untuk mencapai profil pelajar Pancasila.
"Seluruh siswa hingga dewan guru larut dalam cerita. Ini memang bertujuan untuk mencapai profil pelajar Pancasila," terangnya. (far/vga) Editor : Vega Dwi Arista