Tradisi ini jadi momen penting untuk bertemu dengan orang terdekat. Seseorang yang merantau di kota besar rela menempuh perjalanan jauh agar bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.
Di tradisi lebaran Indonesia tempo dulu sangat terlihat momen kebersamaannya. Belum ada ponsel, anak muda pada zaman tersebut larut dalam kegembiraan lebaran bersama keluarga.
Mereka bisa menghabiskan waktu bersama keluarga bermain di pantai atau cuma di rumah saja. Yang paling menarik, saling meminta maaf dan silahturahmi jadi momen yang ditunggu-tunggu.
Lebaran tempo dulu lebih terasa sederhana namun hangat. Mulai suasana hingga pakaian. Selain di acara formal, saat lebaran pun masyarakat tempo dulu selalu mengenakan pakaian adat.
"Di sekitar tahun 1925 masyarakat Jawa merayakan lebaran dengan tetap memakai baju adat. Berkebaya, lengkap dengan konde dan jarik peksi kurung bagi perempuan. Blangkon dan beskap bagi laki-laki," kata penata rias Muhammad Ridwan Sonny Putra Radji.
Model kebaya klasik kutu baru berbahan dari bludru dan kain tille tetap dipertahankan agar kesan jadul semakin kuat.
Dipadu dengan polesan wajah natural. Menonjolkan warna alam pada eyeshadow dan lipstik soft pink atau nude. (rpp/opi) Editor : Nofilawati Anisa