RADAR SIDOARJO - Ketua RT setempat, Junaidi, mengungkapkan bahwa sosok pengelola padepokan yang kini tersandung persoalan hukum telah tinggal di lingkungannya selama lebih dari 15 tahun. Selama itu pula, yang bersangkutan dikenal tidak pernah memiliki persoalan dengan warga sekitar.
Junaidi mengatakan, rumah yang ditempati pengelola padepokan tersebut berstatus kontrak dan telah dihuni dalam waktu yang cukup lama.
Baca Juga: Tersangka Dugaan Rudapaksa di Padepokan Sidoarjo Mangkir Panggilan Polisi
“Sudah tinggal di sini sekitar 15 tahun lebih. Rumah yang ditempati juga rumah kontrakan dan sudah lama dihuni,” ujar Junaidi saat ditemui, Kamis (18/6).
Terkait aktivitas yang dijalankan, Junaidi mengaku tidak mengetahui secara pasti. Namun, ia membenarkan bahwa tempat tersebut kerap didatangi tamu, terutama pada malam hari.
“Kalau disebut dukun saya tidak tahu. Yang saya dengar mungkin semacam pengobatan. Kami sendiri tidak pernah datang untuk berobat atau melihat langsung kegiatannya,” katanya.
Baca Juga: Pimpinan Padepokan di Sidoarjo Jadi Tersangka Dugaan Rudapaksa Remaja 17 Tahun
Menurut Junaidi, aktivitas di lokasi tersebut biasanya berlangsung pada malam hari. Bahkan, jumlah pengunjung cenderung meningkat setiap malam Jumat.
“Memang banyak tamu yang datang, biasanya malam hari. Yang paling ramai biasanya malam Jumat,” ungkapnya.
Meski demikian, Junaidi menegaskan bahwa selama tinggal di lingkungan tersebut, yang bersangkutan tidak pernah menimbulkan gangguan ataupun konflik dengan warga.
Baca Juga: Pimpinan Padepokan di Sidoarjo Dilaporkan atas Dugaan Rudapaksa Anak
“Selama ini tidak ada masalah dengan warga. Orangnya baik. Hanya saja memang aktivitasnya lebih banyak malam hari sehingga tidak terlalu sering terlihat bergaul sehari-hari,” tuturnya.
Ia juga menyebut pengelola padepokan cukup aktif memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitar, termasuk untuk fasilitas umum dan kegiatan kemasyarakatan.
“Untuk masjid ada kontribusinya, untuk RW juga ada. Bahkan taman dan lapangan di lingkungan sini dibangun dan dirawat beliau. Kalau ada kerusakan, beliau yang mendatangkan tukang untuk memperbaiki. Rumput dan taman juga dirawat,” jelasnya.
Terkait kasus hukum yang kini menjadi sorotan publik, Junaidi mengaku warga setempat justru mengetahui informasi tersebut dari pemberitaan media.
“Kami tidak tahu sebelumnya. Justru tahunya dari pemberitaan yang beredar di media,” katanya.
Dalam sepekan terakhir, lanjut Junaidi, aktivitas di padepokan tersebut terpantau sepi dan tidak ada pengunjung yang datang.
“Sekitar seminggu terakhir memang sepi, tidak ada tamu. Padahal sebelumnya masih ada aktivitas seperti biasa,” ujarnya.
Mengenai keberadaan yang bersangkutan, Junaidi mengaku menerima informasi bahwa saat ini yang bersangkutan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
“Informasi yang saya terima sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Tapi saya tidak tahu sakit apa,” katanya.
Sebagai Ketua RT, Junaidi berharap proses hukum yang tengah berjalan dapat ditangani secara profesional oleh aparat penegak hukum. Ia juga menegaskan bahwa peristiwa yang sedang diproses tersebut tidak terjadi di lingkungan tempat tinggal yang bersangkutan.
“Saya berharap persoalan ini ditangani aparat sesuai ketentuan yang berlaku. Yang perlu dipahami, kejadian yang sedang diproses hukum itu bukan terjadi di lingkungan sini. Warga di sini juga baru mengetahui dari pemberitaan yang beredar,” pungkasnya. (sur/vga)
Editor : Vega Dwi Arista