Polisi Lakukan Otopsi dan Uji Toksikologi
SIDOARJO - Polisi terus berupaya mengungkap penyebab kematian mahasiswi Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Bernadette Caroline Angelica Harianto, 21. Selain otopsim, polisi lakukan uji toksikologi pada organ tubuh korban.
Polisi sudah memeriksa sembilan saksi, termasuk satpam yang menemukan pertama kali, keluarga korban dan rekan kampus korban.
Saat dikonfirmasi di Mako Polresta Sidoarjo, Senin (6/11), Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo Kompol Tiksnarto Andaru Rahutomo mengatakan, setelah melakukan olah TKP, pihaknya langsung menindaklanjuti kasus tersebut.
"Kami lakukan pemeriksaan ke apartemen korban, kebetulan disana korban tinggal dengan adiknya," ujarnya.
Di salah satu apartemen yang berada di Kecamatan Genteng, Surabaya tersebut, pihaknya menemukan catatan sekolah korban yang digunakan untuk mencatat pelajaran.
"Kami temukan tulisan tangan identik dengan surat wasiat, selain itu kertas yang digunakan juga identik," ungkapnya.
Menurut keterangan dari adik korban yang tinggal satu apartemen dengan korban, Caroline keluar dari apartemen pada Sabtu (4/11), sekitar pukul 15.00.
"Korban pamit pergi bersama temannya, kemudian memeluk adiknya dengan erat," tambahnya.
Setelah itu, keberadaan korban tidak diketahui, sampai diketemukan Minggu (5/11) pagi. Selain itu, pihaknya juga melakukan penyelidikan kepada rekan-rekan korban yang berinteraksi di kampus.
"Untuk hasil otopsi sudah selesai, kami sekarang sedang menunggu hasilnya dari Kedokteran Forensik di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya," imbuhnya.
Disisi lain, untuk memastikan penyebab kematian korban, pihaknya melakukan uji toksikologi terhadap sampel-sampel organ dalam korban.
Uji toksikologi tersebut untuk memastikan kandungan racun dalam tubuh korban. Karena diduga kematian mahasiswi tersebut akibat gas helium yang ditemukan dalam Honda Jazz milik korban serta selang yang menghubungkan ke bagian kepala yang tertutup plastik dan dilakban.
"Sembilan orang saksi sudah kami periksa. Berikut satpam yang pertama kali menemukan, kemudian keluarga korban yang ada di apartemen dan kolega yang ada di kampus," ujarnya.
Terkait dugaan kematian korban, apakah korban pembunuhan atau bukan, pihaknya masih belum bisa memberikan kesimpulan.
"Saya tidak mau memberikan kesimpulan yang prematur, saya harus beranjak dari pendekatan yang saintifik. Pada intinya, kami melaksanakan prinsip cermat, saintifik dan logis," tuturnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista