RADAR SIDOARJO - Rencana pembangunan Flyover (FO) Gedangan Sidoarjo diminta tidak hanya berorientasi pada kondisi jalur kereta api saat ini. Detail Engineering Design (DED) proyek tersebut harus sejak awal mengakomodasi rencana pengembangan Surabaya Regional Railway Line (SRRL), termasuk persiapan jalur ganda dan penggunaan sarana kereta api generasi baru.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Denny Michels Adlan mengatakan, pengembangan SRRL saat ini tengah memasuki tahapan desain.
Baca Juga: Pembayaran Pembebasan Lahan Flyover Gedangan Sidoarjo Diubah Bertahap
Karena itu, pembangunan infrastruktur baru seperti flyover di sekitar jalur kereta api harus disesuaikan dengan rencana pengembangan tersebut.
“Desain dan usulan flyover ini harus dipertimbangkan. Saat ini kami sedang menyusun desain SRRL (Surabaya Regional Railway Line),” kata Denny saat rapat koordinasi dan evaluasi pelaksanaan CFD bagi pelaku UMKM di Opsroom Sekretariat Daerah (Setda) Sidoarjo, Kamis (1/10).
Baca Juga: 122 Bidang Lahan Flyover Gedangan Sidoarjo Mulai Diukur, Pembangunan Fisik Tahun Depan
Denny menjelaskan, tahapan awal desain SRRL mencakup jalur Sidoarjo-Gubeng. Proyek tersebut didanai melalui pinjaman dari Jerman, sementara desainnya dikerjakan konsultan asal Jepang, Chodai.
Menurutnya, salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam DED Flyover Gedangan adalah batas ketinggian bangunan.
Jangan sampai konstruksi flyover nantinya justru membatasi ruang bebas sehingga mengganggu perjalanan kereta api atau tidak mampu mengakomodasi pengembangan sarana perkeretaapian.
“Apalagi nanti konsepnya juga persiapan untuk double track. Jadi, untuk ketinggian ini harus menjadi perhatian, jangan sampai nanti tidak bisa mengakomodasi desain ataupun sarana kereta api yang baru,” ujarnya.
Denny mencontohkan adanya terowongan di daerah lain yang memiliki keterbatasan sehingga tidak dapat dilalui kereta api jenis New Generation (New Gen). Kondisi semacam itu, kata dia, perlu diantisipasi agar tidak terjadi pada proyek Flyover Gedangan.
Selain persoalan ketinggian, BTP juga menyoroti posisi Flyover Gedangan yang berada cukup dekat dengan kawasan stasiun dan kemungkinan adanya aset milik BTP maupun PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Karena itu, batas lahan harus dipastikan sejak tahap perencanaan. Termasuk memastikan aspek Ruang Manfaat Jalur (Rumaja) dan Ruang Pengawasan Jalur (Ruwasja) agar pembangunan flyover tidak mengganggu kebutuhan pengembangan jalur maupun akses menuju stasiun.
“Lokasi flyover ini cukup dekat dengan area stasiun dan juga mungkin aset-aset yang dimiliki oleh kami ataupun PT Kereta Api. Ini yang perlu dipastikan terkait batas lahan yang harus clear, terkait Rumaja dan Ruwasja,” jelasnya.
BTP juga mendorong koordinasi teknis yang lebih intensif dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali. Pembahasan tersebut nantinya juga perlu melibatkan Chodai selaku konsultan yang mengerjakan desain SRRL.
Dengan begitu, setiap perkembangan desain Flyover Gedangan dapat diketahui dan disesuaikan dengan desain SRRL. Penyesuaian sejak awal dinilai penting agar kedua proyek infrastruktur tersebut tidak saling berbenturan ketika memasuki tahap pelaksanaan.
“Kami dengan BBPJN koordinasi aktif dan bahkan nanti kita akan libatkan dalam updating dengan Chodai, dengan Jepang, sehingga pihak Jepang juga mengetahui bahwa desainnya harus seperti ini dan nanti bisa melakukan adjustment,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo