RADAR SIDOARJO - Ribuan unggas milik peternak di sejumlah wilayah Kabupaten Sidoarjo mati mendadak dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut membuat Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Sidoarjo turun tangan melakukan penyemprotan disinfektan sekaligus memperkuat edukasi kepada peternak untuk mencegah penyebaran flu burung atau Avian Influenza (AI).
Baca Juga: Ribuan Unggas Mati Mendadak, Peternak Sidoarjo Resah
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Produksi Peternakan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dispaperta Sidoarjo drh Erwin Priatmoko mengatakan, kasus kematian unggas mulai ditemukan sejak awal September. Sedikitnya 20 peternak di tiga kecamatan, yakni Candi, Buduran, dan Jabon, terdampak.
Dari jumlah tersebut, empat di antaranya merupakan peternak yang tergolong besar. Jumlah unggas yang mati diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 ekor.
Baca Juga: Puluhan Unggas di Sidoarjo Mati Mendadak, Periksa Kemungkinan Flu Burung
“Totalnya sekitar 20-an (peternak). Kalau yang benar-benar peternak besar itu empat. Ada yang mati lima, ada yang 10, tetapi ada juga yang 400-an dan 200-an. Totalnya 1.000-an lebih,” ujar Erwin, Rabu (30/9).
Menurutnya, persoalan semakin sulit ditangani karena sebagian peternak baru melapor setelah unggas mereka mati. Padahal, laporan sejak awal dibutuhkan agar petugas bisa segera melakukan pemeriksaan dan penyemprotan disinfektan di lokasi serta pemberian vitamin bagi unggas yang terjangkit.
Baca Juga: Warga Sepakat, Usaha Pemotongan Unggas di Pasar Sepanjang Direlokasi
Erwin menyebut, pihaknya telah turun langsung ke wilayah terdampak, termasuk Desa Wedoroklurak, Kecamatan Candi, dan sejumlah wilayah di Kecamatan Buduran.
Dispaperta juga meninggalkan stok disinfektan di desa terdampak agar bisa digunakan apabila kembali ditemukan kasus kematian unggas.
“Kalau ada kejadian lagi, sampaikan ke kami atau petugas desa. Minimal tempatnya bisa langsung didisinfeksi,” katanya.
Disinfeksi menjadi salah satu langkah penting untuk memutus kemungkinan penyebaran virus.
Kandang yang telah terdampak diminta tidak langsung digunakan kembali sebelum dilakukan sterilisasi dan penataan ulang.
Selain itu, akses orang ke kandang juga perlu dibatasi. Sebab, penularan penyakit unggas tidak hanya terjadi melalui kontak langsung antar unggas.
Virus juga berpotensi berpindah melalui manusia. Seseorang yang sebelumnya datang dari pasar atau kandang lain dapat membawa virus pada pakaian maupun perlengkapan yang dikenakannya, kemudian masuk ke kandang lain.
Karena itu, Erwin meminta peternak memperketat biosecurity. Bahkan untuk peternak skala kecil, langkah sederhana seperti menyemprotkan disinfektan kepada orang yang hendak masuk kandang dinilai sudah dapat membantu mengurangi risiko penularan.
“Tidak harus membeli alat semprot otomatis seperti peternakan besar. Bisa pakai semprotan biasa. Jadi setiap orang yang mau masuk kandang, disemprot dulu,” jelasnya.
Erwin juga mengingatkan peternak untuk memastikan unggas yang dibeli telah mendapatkan vaksinasi. Peternak juga dapat melakukan vaksinasi secara mandiri dengan pendampingan petugas.
Di sisi lain, unggas yang mati mendadak tidak boleh sembarangan dibuang. Dispaperta menemukan masih ada warga yang memilih membuang bangkai unggas ke sungai.
Erwin menegaskan cara tersebut berisiko memperluas penyebaran penyakit. Bangkai unggas harus dikubur sesuai prosedur atau dimusnahkan melalui pembakaran di lubang galian sebelum dikubur kembali.
“Jangan dibuang ke sungai. Khawatir kalau virusnya belum mati 100 persen, bisa terbawa dan menyerang ternak lain,” tegasnya.
Peternak juga diminta tidak menjual unggas yang berasal dari kandang terdampak.
Jika ditemukan unggas mati mendadak, peternak sebaiknya segera menghubungi petugas agar dapat dilakukan pemeriksaan dan ditentukan langkah penanganannya.
“Kalau ada ternak mati, jangan langsung dijual karena bisa menular. Hubungi kami, nanti tim akan melihat apakah perlu vaksin atau pemberian vitamin untuk unggas yang masih hidup,” ujarnya.
Erwin menjelaskan, unggas yang terserang menunjukkan sejumlah gejala, di antaranya kehilangan nafsu makan, mengeluarkan lendir dari mulut, serta mengalami diare yang awalnya berwarna putih kemudian berubah kehijauan. Kondisi tersebut dapat memburuk dengan cepat hingga menyebabkan kematian.
Dispaperta hingga kini masih melakukan pemantauan terhadap kandang-kandang yang terdampak. Penyemprotan disinfektan juga terus dilakukan untuk menekan risiko penyebaran lebih luas.
Namun, keterbatasan personel menjadi salah satu kendala. Erwin menyebut jumlah petugas peternakan berkurang karena sejumlah pegawai pensiun, berpindah menjadi penyuluh pusat, maupun tenaga harian lepas yang sebelumnya ditugaskan dari pemerintah pusat sudah tidak lagi tersedia.
“Petugas kami terbatas. Makanya kami berharap peternak tidak menunggu sampai banyak yang mati baru melapor,” tuturnya.
Dispaperta juga terus mendorong penguatan koordinasi dengan penyuluh di lapangan. Setiap dua minggu dilakukan pertemuan penyuluh yang turut melibatkan seluruh kepala bidang untuk menyerap laporan serta persoalan yang muncul di lapangan.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat deteksi kasus sehingga kematian unggas tidak kembali meluas dan kerugian peternak bisa ditekan. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo