RADAR SIDOARJO - Wakil Bupati (Wabup) Sidoarjo Mimik Idayana tak ingin proyek rumah pompa di kawasan Lippo Plaza Sidoarjo asal jadi. Saat melakukan inspeksi mendadak (sidak), Senin (21/9), dia langsung menyoroti kualitas material yang digunakan dalam pembangunan bak penampungan air tersebut.
Perempuan yang akrab disapa Mak Mimik itu bahkan meminta material yang dinilai tidak sesuai segera diganti. Menurutnya, konstruksi rumah pompa harus benar-benar kuat karena akan menampung debit air dalam jumlah besar, terutama saat musim hujan.
Baca Juga: Pengerjaan Proyek Pasar Taman Sidoarjo Lemot, Wabup Mimik Ancam Putus Kontrak
"Saya masih ragu masalah campuran semen, terus kok pasir. Kalau penampungan air ini harus benar-benar kuat, kualitasnya harus benar-benar bagus," tegas Mimik.
Rumah pompa tersebut memiliki ukuran sekitar 8 meter x 30 meter dengan kedalaman 3,6 meter. Bak penampungan diproyeksikan mampu menampung sekitar 1.000 meter kubik air.
Baca Juga: Wabup Mimik Salurkan Bantuan Beras untuk 1.239 Warga di Tulangan dan Krembung Sidoarjo
Mimik mengatakan, pembangunan rumah pompa di kawasan Lippo Plaza diharapkan menjadi salah satu solusi mengatasi banjir yang selama beberapa tahun terakhir kerap terjadi di kawasan tersebut.
Namun, dia juga menyoroti persoalan lain yang tak kalah penting. Air yang nantinya dipompa dari kawasan Lippo Plaza disebut akan dialirkan menuju Afvour Sidokare.
Baca Juga: Alvaro Fernanda dan Shinta Cantika Bikin Gebyar UMKM Sidoarjo Makin Semarak, Wabup Mimik Ikut Tepuk
Mimik khawatir, langkah tersebut justru menambah beban kawasan Sidokare yang selama ini juga kerap dilanda banjir.
"Saya sempat ragu juga. Kalau air ini nanti dipompa, dibuang ke arah Afvour Sidokare, sedangkan Sidokare itu kan sudah banjir. Jangan sampai malah tambah kelelep daerah situ," ujarnya.
Baca Juga: Wabup Sidoarjo Pastikan Rehab SDN Kupang 4 Jabon, Siswa Mulai Terima MBG Akhir Juli
Karena itu, Mimik meminta pemerintah dan pihak terkait segera memikirkan langkah lanjutan, termasuk normalisasi saluran atau sungai yang menjadi jalur pembuangan air tersebut.
Persoalannya, kawasan sekitar sungai di Sidokare kini sudah sangat padat permukiman. Kondisi itu membuat proses normalisasi tidak mudah dilakukan.
"Kalau memang sungai itu nanti menjadi pembuangan, itu harus segera dinormalisasi. Sungai di situ sudah padat penduduk. Tidak bisa dinormalisasi karena sudah rumah semua. Caranya bagaimana, segera pikirkan. Waktunya hanya tinggal tiga bulan," katanya.
Mimik menegaskan, persoalan tersebut harus segera dituntaskan sebelum musim hujan tiba. Dia tidak ingin penanganan banjir di satu kawasan justru memunculkan persoalan baru di kawasan lainnya.
"Jangan sampai Sidokare yang sekian tahun itu banjir, banjir, banjir, terus ditambahi seperti ini lagi. Tolong dipikirkan," tegasnya.
Selain kapasitas dan jalur pembuangan, Mimik juga memperhatikan kualitas material konstruksi. Dia menilai pasir yang digunakan untuk bagian pondasi tidak layak apabila kualitasnya tidak memenuhi standar.
Menurutnya, material untuk pondasi harus menggunakan pasir berkualitas agar konstruksi rumah pompa tidak mudah mengalami rembesan maupun kebocoran. Terlebih, kondisi bawah tanah di lokasi tersebut disebut memiliki banyak sumber air.
"Saya minta diganti karena ini untuk pondasi. Kekuatan di bawah. Jangan sampai menggunakan pasir seperti itu nanti ada rembesan atau bocor. Apalagi di bawah itu sudah banyak sekali sumber air," jelasnya.
Dia meminta pelaksana proyek tidak mengabaikan spesifikasi pekerjaan yang telah ditentukan. Mimik menegaskan, kualitas pembangunan harus menjadi perhatian utama agar rumah pompa benar-benar berfungsi maksimal ketika hujan deras.
Sementara itu, proyek tersebut ditargetkan rampung dalam waktu sekitar tiga bulan atau paling lambat Desember 2026. Mimik mengingatkan agar target penyelesaian tidak molor karena proyek tersebut berkaitan langsung dengan penanganan banjir.
Jika terjadi keterlambatan pekerjaan, dia memastikan sanksi berupa denda akan diberlakukan sesuai ketentuan kontrak.
"Kalau ada kemoloran, ya sanksi, denda. Sudah siap dendanya, ya? Saya sendiri nanti yang denda," tandasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo