RADAR SIDOARJO - Sow N Tell merancang dan membangun konsep Taman Pintar Juanda JAPFA sebagai ruang edukasi yang memperkenalkan prinsip regenerative agriculture.
Sekaligus mengajak anak-anak mengenal hubungan antara pertanian, peternakan, lingkungan, dan sumber pangan.
Baca Juga: Erupsi Anak Gunung Krakatau Berdampak, 16 Penerbangan di Bandara Juanda di Sidoarjo Disesuaikan
Taman Pintar Juanda JAPFA dirancang sebagai kawasan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai unsur dalam satu ekosistem.
Di dalamnya terdapat Food Forest, Kitchen Garden, peternakan ayam dan kelinci, pengelolaan limbah organik, serta berbagai fasilitas edukasi yang memungkinkan anak-anak melihat secara langsung bagaimana pertanian dan peternakan dapat dikelola secara berkelanjutan.
Baca Juga: Barantin Gagalkan Pengiriman 30.789 Benih Lobster Senilai Rp 4,6 Miliar dari Bandara Juanda Sidoarjo
Taman Pintar Juanda JAPFA telah dibuka untuk kunjungan pelajar sejak akhir Agustus 2026.
Kehadiran kawasan ini menjadi bagian dari upaya JAPFA bersama Sow N Tell untuk menghadirkan ruang belajar yang memperkenalkan sumber pangan sekaligus pentingnya menjaga tanah dan lingkungan sebagai bagian dari keberlanjutan sistem pangan.
Baca Juga: Penyelundupan Sabu dan Ekstasi oleh WN Malaysia di Bandara Juanda Sidoarjo Berhasil Digagalkan
Fahmi Aliyudin Khairi, Project Manager Regenerative Agriculture Sow N Tell, menjelaskan bahwa konsep regenerative agriculture dalam rancang bangun Taman Pintar Juanda JAPFA menekankan hubungan dan siklus antara tanaman, hewan, tanah, serta pemanfaatan kembali material organik.
“Model regenerative agriculture di Taman Pintar Juanda JAPFA mampu menjadi lahan edukasi untuk pengelolaan limbah secara berkelanjutan. Limbah dari budidaya peternakan ayam, peternakan kelinci, maupun limbah pertanian dapat dimanfaatkan untuk membantu mengembalikan kondisi dan kesuburan tanah,” ujar Fahmi.
“Selain itu, terdapat berbagai pojok taman yang bisa digunakan sebagai sarana edukasi untuk pengenalan pancaindra, budidaya tanaman pangan di Food Forest, serta tanaman untuk kebutuhan dapur seperti di Kitchen Garden,” imbuh Fahmi.
Selain pertanian dan peternakan, rancang bangun kawasan juga memperhatikan penggunaan material alami.
Sebagian besar bangunan dan fasilitas menggunakan bambu sehingga perawatan menjadi bagian penting dari keberlanjutan kawasan.
R. Artsanti Alif, VP-Head of Social Investment JAPFA, mengatakan pembangunan dan penataan kawasan tersebut diarahkan untuk mendekatkan anak-anak dengan sumber pangan sekaligus memperkenalkan praktik pertanian berkelanjutan.
“Dukungan JAPFA untuk membangun dan menata kembali Taman Pintar Juanda JAPFA adalah bagian dari upaya kami untuk mendorong edukasi kepada anak-anak agar mengenali kembali sumber pangan mereka. Terlebih, pengelolaan pertanian dengan metode regenerative agriculture di Taman Pintar Juanda JAPFA dapat mengajak anak untuk memahami praktik budidaya yang berkelanjutan,” ujar Artsanti.
Dalam komunikasi melalui telepon dengan penulis, Artsanti menjelaskan bahwa keberlanjutan juga diterapkan pada pemeliharaan kawasan dan pemanfaatan kembali bahan organik.
“Kami juga ingin keberlanjutan di Taman Pintar Juanda JAPFA tidak hanya terlihat dari kegiatan pertaniannya. Karena sebagian besar bangunan di kawasan ini menggunakan bambu, pengelola juga mendapatkan pengetahuan mengenai perawatan bambu agar fasilitas dapat terjaga dan digunakan dalam jangka panjang. Selain itu, melalui pelatihan ecoenzyme, kami ingin mengenalkan bagaimana sisa bahan organik dapat dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna dan tidak menjadi limbah,” jelas Artsanti.
Penerapan konsep tersebut diperkuat melalui pelatihan bagi pengelola yang berlangsung pada 20–21 Agustus 2026. Materinya mencakup dasar regenerative agriculture, pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian untuk membantu memperbaiki kondisi tanah, perawatan bambu, serta pembuatan eco-enzyme.
Fahmi menegaskan bahwa Taman Pintar Juanda JAPFA diharapkan tidak hanya menjadi ruang edukasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai regenerative agriculture.
“Regenerative agriculture bukan hanya tentang teknik bertani, tetapi tentang bagaimana kita membangun kembali hubungan antara tanah, tanaman, hewan, manusia, dan lingkungan. Melalui Taman Pintar Juanda JAPFA, kami ingin menunjukkan bahwa prinsip tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang sederhana dan mudah dipahami, terutama oleh anak-anak,” ujar Fahmi.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya tahu bahwa makanan berasal dari pertanian atau peternakan, tetapi juga memahami bahwa ada ekosistem yang harus dijaga agar sumber pangan tersebut dapat terus tersedia. Inilah semangat yang ingin kami sebarkan melalui prinsip regenerative agriculture,” tambah Fahmi.
JAPFA bersama Sow N Tell akan terus mendampingi pengelolaan lahan di Taman Pintar Juanda JAPFA hingga akhir 2026. Pendampingan ini diharapkan memperkuat penerapan regenerative agriculture sekaligus menjadikan kawasan tersebut sebagai model edukasi pertanian berkelanjutan yang dapat dikembangkan lebih luas. (vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo