Masuk Konten Pak Purnomo Polisi, Istri dan Dua Anak ODGJ Diberikan Solusi Pemkab Sidoarjo

Diky Putra Sansiri • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:50 WIB
KASIHAN: Keluarga asal Wonoayu, Sidoarjo, akhirnya dijemput Dinsos di Lamongan.
KASIHAN: Keluarga asal Wonoayu, Sidoarjo, akhirnya dijemput Dinsos di Lamongan.

RADAR SIDOARJO - Niat menjual rumah demi kesembuhan istri dan dua anaknya akhirnya tak perlu dilakukan Nuryanto, 57, warga RT 18/RW 6 Dusun Kersan, Desa Wonokasian, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo.

Beban berat keluarga tersebut mendapat perhatian Pemkab Sidoarjo setelah kisah mereka viral di media sosial.

Baca Juga: Liponsos Sidoarjo Butuh Ruang Khusus ODGJ dan Donasi Pakaian 

Selama bertahun-tahun, Nuryanto harus berjuang menghadapi kondisi kesehatan mental tiga anggota keluarganya. Dua anak laki-lakinya, Sulton, 33, dan Rifa’i, 30, serta istrinya, Maria Ulfa, mengalami gangguan jiwa dan telah menjalani berbagai upaya pengobatan.

Bahkan, dua anaknya telah berulang kali menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Sulton tercatat sembilan kali keluar masuk RSJ Menur.

Baca Juga: Jumlah ODGJ di Sidoarjo Tembus 5.325 Orang, Kecamatan Taman Terbanyak

Sementara Rifa’i dua kali menjalani perawatan di RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang, Malang. Keduanya juga sempat menjalani perawatan di Liponsos Sidoarjo.

Namun, pengobatan yang dijalani belum membuat kondisi mereka benar-benar stabil. Setelah kembali ke rumah, kondisi mereka sempat membaik sebelum akhirnya kambuh kembali.

Baca Juga: Ancam Warga Pakai Sajam, ODGJ di Sidoarjo Diamankan Satpol PP

Nuryanto mengatakan, gangguan yang dialami anak pertamanya sudah berlangsung sejak duduk di bangku SMP, sekitar 20 tahun lalu. Menurutnya, faktor keturunan, tekanan ekonomi, hingga persoalan keluarga turut memengaruhi kondisi anaknya.

“Kalau di rumah sakit jiwa belum sembuh, masih setengah-setengah lah, sudah dikembalikan ke keluarga. Tapi wajib minum obat selama lima tahun,” ujar Nuryanto, Selasa (11/8).

Baca Juga: Viral, Pria Diduga ODGJ Kabur dari Mobil Polisi dan Terjun ke Tandon Air di Waru Sidoarjo

Berbagai cara telah ditempuh Nuryanto. Selain rumah sakit dan Liponsos, ia juga membawa keluarganya berobat ke sejumlah tempat pengobatan alternatif di Kabupaten Pati dan Blora, Jawa Tengah.

Kondisi keluarga semakin berat ketika istri dan anak keduanya juga mengalami gangguan kesehatan mental. Maria Ulfa disebut mengalami kondisi tersebut setelah bertahun-tahun memikirkan anak-anaknya, persoalan utang, dan tekanan ekonomi.

Sebelum sakit, Maria dikenal aktif bekerja dan berkegiatan. Ia pernah menjadi tim sukses, berjualan sayur keliling, hingga menjadi panitia kegiatan ziarah selama bertahun-tahun.

“Dulu istri saya banyak kegiatan. Gaul lah istilahnya. Tidak ada tanda-tanda sakit seperti ini. Karena memikirkan anaknya, utang, masalah ekonomi, dan keturunan, akhirnya drop juga,” ungkap Nuryanto.

Dalam kondisi tersebut, Nuryanto yang sehari-hari bekerja sebagai sopir dengan penghasilan tidak menentu kembali mencari jalan untuk mengobati keluarganya.

Dari media sosial, ia mengetahui adanya pondok rehabilitasi mental yang dikelola anggota Polres Lamongan sekaligus konten kreator, Ipda Purnomo atau yang dikenal sebagai Pak Purnomo.

Nuryanto kemudian membawa istri dan anak pertamanya ke tempat tersebut. Namun, ia harus mengeluarkan biaya Rp 8 juta untuk dua orang pada bulan pertama.

“Waktu itu saya punya Rp 5 juta. Kekurangannya Rp 3 juta saya pinjam ke saudara. Satu bulan persis saya lunasi,” katanya.

Nuryanto sebenarnya ingin membawa anak keduanya untuk mendapatkan perawatan serupa. Namun, keterbatasan biaya membuat rencana tersebut urung dilakukan.

“Saya mampu bawa Rp 5 juta, Pak. Tapi asal tiga orang. Saya kalau di rumah khawatir anak saya keluyuran di jalan. Saya kerja jadi kepikiran. Kalau dititipkan di rumah sakit, saya bisa kerja untuk membiayai kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Saking beratnya beban biaya pengobatan, Nuryanto bahkan sempat berpikir menjual rumah yang ditempatinya.

“Saya sampai kepikiran untuk jual rumah, untuk biaya berobat. Saya rela jual rumah asal keluarga saya sembuh,” ujarnya.

Kisah keluarga Nuryanto kemudian viral setelah dirinya bertemu Pak Purnomo dan kisah tersebut diunggah melalui TikTok dan Instagram.

Video tersebut akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Pemerintah desa, kecamatan, Dinas Sosial, hingga pihak terkait kemudian berkoordinasi untuk memberikan penanganan.

Camat Wonoayu Anwar mengatakan, pemerintah desa, kecamatan, dan Puskesmas Wonoayu sebelumnya telah berupaya membantu pengobatan keluarga tersebut. Namun, kondisi keluarga terus berkembang hingga akhirnya ibu dan anak kedua juga mengalami gangguan.

“Sudah pernah dibawa ke Liponsos, sudah pernah dibawa ke Rumah Sakit Menur. Ketika dibawa ke Liponsos karena tidak mengalami penyembuhan yang signifikan, akhirnya anak ini lari,” jelasnya.

Menurut Anwar, keluarga kemudian meminta bantuan agar biaya perawatan di tempat Pak Purnomo dapat ditanggung pemerintah. Saat itu, biaya untuk tiga orang mencapai sekitar Rp 5 juta per bulan setelah mendapat keringanan.

Namun, Pemkab Sidoarjo tidak dapat memberikan bantuan tunai bulanan secara langsung karena harus mengikuti ketentuan dan regulasi yang berlaku.

Akhirnya, pemerintah kecamatan berkoordinasi dengan Baznas Sidoarjo, Dinas Sosial, pemerintah desa, Liponsos, serta Pemkab Sidoarjo untuk mencari solusi.

Hasilnya, keluarga Nuryanto bersedia menjalani perawatan di Sidoarjo. Ketiga anggota keluarganya kemudian dijemput dan dibawa untuk mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Anwar Medika, Balongbendo.

“Bapak Bupati menyampaikan, ketika keluarga yang bersangkutan berkenan ditangani dan dibiayai pengobatannya di Sidoarjo, maka semuanya akan ditanggung Pemerintah Kabupaten Sidoarjo,” kata Anwar.

Sementara itu, Anwar memastikan persoalan biaya dengan pihak Pak Purnomo sudah tidak lagi menjadi tanggungan Nuryanto.

“Sudah tidak. Sudah tidak,” ujarnya.

Kini, istri dan dua anak Nuryanto mendapatkan perawatan menggunakan BPJS sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya pengobatan.

Tak hanya membantu biaya perawatan, Pemkab Sidoarjo melalui Baznas juga membantu melunasi utang Nuryanto sebesar Rp 3 juta yang digunakan untuk membayar biaya perawatan keluarganya di tempat Pak Purnomo.

Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi, dan Umum Baznas Kabupaten Sidoarjo Ilhamuddin mengatakan, bantuan tersebut diberikan agar Nuryanto tidak lagi terbebani utang.

“Pak Nuryanto Rp 8 juta, itu Rp 3 juta dari pinjaman. Agar Pak Nuryanto ini tidak kebebanan utang Rp 3 juta itu, maka hari ini dibantu Baznas,” katanya.

Ilhamuddin menilai, bantuan tersebut penting mengingat Nuryanto bekerja sebagai sopir dengan penghasilan yang tidak menentu. Beban utang dikhawatirkan semakin mengganggu konsentrasi Nuryanto dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Alhamdulillah pada hari ini sudah kita serahkan uang Rp 3 juta dari Baznas Kabupaten Sidoarjo,” tegasnya.

Nuryanto pun mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan Pemkab Sidoarjo. Ia berharap istri dan kedua anaknya dapat menjalani perawatan hingga kondisi mereka benar-benar stabil.

“Saya pengennya dirawat sampai benar-benar sembuh. Karena dulu di rumah sakit dibilang sembuh, tapi tidak lama kemudian kambuh lagi,” katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pak Purnomo yang mengunggah kisah keluarganya hingga akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah.

“Kita merasa masih ditolong Pak Pur. Dengan kontennya Pak Purnomo akhirnya viral dan keluarga kami mendapat perhatian dari Pemkab Sidoarjo,” pungkasnya. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar sidoarjo
purnomo pemkab ODGJ Wonoayu Polisi