RADAR SIDOARJO - Penumpukan sampah di aliran sungai wilayah Kecamatan Sukodono menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo. Selain menggelar aksi bersih sungai, Pemkab menyiapkan langkah cepat dan solusi jangka menengah agar persoalan sampah yang terus berulang dapat ditangani secara berkelanjutan.
Sedikitnya enam desa menjadi titik prioritas penanganan karena mengalami penumpukan sampah paling parah, yakni Desa Jogosatru, Cangkringsari, Pademonegoro, Pekarungan, Suruh, dan Jumputrejo.
Baca Juga: Dari Sampah Menjadi Harapan: Gerakan PKK Desa Ngaresrejo Mengubah Sampah Organik Menjadi Berkah
Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana mengatakan, langkah cepat yang akan dilakukan adalah memasang jaring di setiap titik intake atau saluran pengambilan air baku. Jaring tersebut berfungsi menahan sampah yang terbawa arus agar tidak menyumbat saluran.
"Langkah cepat yang kita lakukan adalah memasang jaring di setiap intake sungai dan melakukan normalisasi saluran. Sampah yang tertahan di jaring harus segera diangkut melalui koordinasi antara pemerintah desa, DLHK, dan DPUBMSDA," ujar Mimik.
Baca Juga: Lima Tahun Nol Sampah ke TPA, TPS3R Bringinbendo Taman Sidoarjo Olah hingga 7 Ton Sampah per Hari
Selain pemasangan jaring, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) juga akan melakukan normalisasi saluran untuk memperlancar aliran air sekaligus mengurangi potensi banjir.
Pemkab juga menyiapkan solusi jangka menengah dengan mendorong pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di kawasan tersebut. Menurut Mimik, keberadaan TPS3R menjadi bagian penting dalam pembenahan sistem pengelolaan sampah agar volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) semakin berkurang.
Baca Juga: Pemkab Sidoarjo Kucurkan Rp 18,14 M untuk Penguatan TPS 3R, Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Desa
"Kami ingin sampah dapat diolah sejak dari sumbernya, sehingga yang masuk ke TPA benar-benar hanya sampah residu," katanya.
Perempuan yang akrab disapa Mak Mimik itu menegaskan, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan membersihkan sungai. Menurutnya, perubahan sistem pengelolaan dan kesadaran masyarakat menjadi faktor utama untuk mengatasi persoalan tersebut.
Baca Juga: 892 Ton Sampah Per Hari di Sidoarjo, Ancaman Krisis TPA Jabon dalam Tujuh Tahun
"Yang harus kita benahi adalah sistemnya, mulai dari penanganan di hulu hingga pengolahan sampah di tingkat desa agar tidak lagi dibuang ke sungai," tegasnya.
saBaca Juga: Sampah Liar Kian Marak, DLHK Sidoarjo Siagakan 700 Petugas dan CCTV
Ia menambahkan, Kecamatan Sukodono merupakan kawasan dengan pertumbuhan penduduk dan permukiman yang cukup pesat. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya volume sampah sehingga diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
"Selama ini pemerintah rutin membersihkan sungai, tetapi sampah terus muncul kembali. Artinya, persoalan utamanya bukan hanya pembersihan, melainkan perilaku membuang sampah sembarangan yang harus kita ubah bersama. Sungai bukan tempat pembuangan sampah," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pekarungan Efendi mengatakan, upaya menjaga kebersihan sungai selama ini telah dilakukan secara rutin. Pemerintah desa bersama masyarakat bergotong royong membersihkan aliran sungai agar tetap bersih.
"Petugas melakukan pembersihan sedikitnya tiga kali dalam sepekan, sedangkan warga menggelar kerja bakti setiap hari Minggu. Selain itu, desa juga mengalokasikan iuran untuk pengangkutan sampah," ungkap Efendi. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo