RADAR SIDOARJO - Tumpukan sampah organik rumah tangga masih menjadi persoalan yang dihadapi banyak desa. Setiap hari, sisa sayuran, buah-buahan, daun kering, hingga limbah dapur berakhir di tempat pembuangan tanpa melalui proses pengolahan.
Padahal, jika dikelola dengan tepat, sampah organik dapat diubah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi. Kesadaran inilah yang kini mulai tumbuh di Desa Ngaresrejo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo.
Baca Juga: Wabup dan Ketua TP PKK Sidoarjo Salurkan Bantuan Pangan untuk 2.052 KPM
Melalui gerakan pemberdayaan masyarakat, ibu-ibu PKK didorong menjadi pelopor pengelolaan sampah organik berbasis teknologi biopori, sebuah metode sederhana yang mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus meningkatkan daya resap air tanah.
Gerakan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang memperoleh hibah pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Baca Juga: Momen Kartini, Ini Pesan Ketua TP PKK Sriatun Subandi untuk Perempuan Sidoarjo
Program mulai dilaksanakan sejak Juni 2026 dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Universitas Sunan Giri (UNSURI) Surabaya sebagai bentuk implementasi tridarma perguruan tinggi dalam menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
Tim pelaksana terdiri atas tiga dosen UNSURI, yaitu Yayu Sriwahyuni Hamzah, S.T., M.MT. selaku ketua tim, bersama Utami Puji Lestari, S.E., M.Si. dan Haniyah, S.H., M.H. sebagai anggota. Program ini juga melibatkan mahasiswa lintas program studi yang berperan aktif dalam proses sosialisasi, pelatihan, hingga pendampingan masyarakat.
Baca Juga: TP PKK Sidoarjo Perkuat Posyandu dan Ajak Kader Gunakan Batik Lokal
Ketua Tim Pengabdian, Yayu Sriwahyuni Hamzah, mengatakan bahwa persoalan sampah organik tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah. Perubahan harus dimulai dari rumah tangga sebagai penghasil sampah terbesar.
"Rumah tangga adalah titik awal pengelolaan sampah. Ketika masyarakat mampu memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri, volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat berkurang secara signifikan. Melalui program ini kami ingin membangun kebiasaan baru, yaitu menjadikan sampah sebagai sumber daya yang bermanfaat," ujarnya.
Baca Juga: TP PKK Sidoarjo Perkuat Posyandu dan Ajak Kader Gunakan Batik Lokal
Menurutnya, teknologi biopori dipilih karena mudah diterapkan, murah, dan sesuai dengan kondisi permukiman masyarakat. Selain berfungsi sebagai lubang resapan air, biopori juga menjadi media alami untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.
Baca Juga: TP PKK Sidoarjo Berikan Edukasi Jajanan Sehat Bagi Anak
Kompos yang dihasilkan selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman pekarangan maupun tanaman obat keluarga (TOGA). Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran aktif PKK Desa Ngaresrejo. Di bawah kepemimpinan Kholila Tillah Ikyani, ibu-ibu PKK menjadi mitra utama dalam pelaksanaan kegiatan.
Mereka mengikuti pelatihan pengelolaan sampah organik, pembuatan lubang resapan biopori, teknik pengomposan, hingga praktik penggunaan peralatan pendukung seperti mesin bor biopori, mesin pengayak kompos, dan alat pengemas kompos. Kholila Tillah Ikyani menyambut baik hadirnya program tersebut.
samBaca Juga: Lima Tahun Nol Sampah ke TPA, TPS3R Bringinbendo Taman Sidoarjo Olah hingga 7 Ton Sampah per Hari
Menurutnya, pelatihan yang diberikan tidak hanya menambah wawasan anggota PKK, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangga secara lebih produktif.
"Kami berharap kebiasaan memilah dan mengolah sampah organik dapat menjadi budaya baru di Desa Ngaresrejo. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, kompos yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan untuk tanaman pekarangan sehingga memberikan manfaat langsung bagi keluarga," ungkapnya.
Baca Juga: Gandeng Pemkab Sidoarjo, Ikatan Alumni Mahasiswa Edukasi Bahaya HIV/AIDS hingga Gerakan Bank Sampah
Selama pelaksanaan program, peserta tidak hanya menerima materi melalui sosialisasi, tetapi juga melakukan praktik secara langsung. Pendekatan tersebut dipilih agar masyarakat memiliki keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri setelah program selesai.
Pendampingan juga dilakukan secara berkala untuk memastikan teknologi biopori benar-benar dimanfaatkan secara berkelanjutan. Bagi mahasiswa UNSURI yang terlibat, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Baca Juga: Bau Sampah Ganggu Pesantren, Bupati Sidoarjo Perintahkan Pembenahan Total TPST Terungkulon Krian
Mereka tidak hanya membantu pelaksanaan teknis di lapangan, tetapi juga belajar membangun komunikasi, bekerja sama dengan masyarakat, dan memahami pentingnya pemberdayaan berbasis partisipasi.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan PKK, program ini diharapkan menjadi contoh bahwa persoalan lingkungan dapat diselesaikan melalui gerakan bersama.
saBaca Juga: Sampah Libur Lebaran di Sidoarjo Capai 18,99 Ton, Didominasi Sisa Petasan
Sampah yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata dapat diubah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan, sekaligus menumbuhkan kesadaran baru tentang pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah.
Gerakan di Desa Ngaresrejo membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Berawal dari langkah sederhana memilah sampah dan memanfaatkan lubang biopori, masyarakat dapat menghadirkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Dari sampah, tumbuh harapan baru bagi desa. (*)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo