RADAR SIDOARJO - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan bahwa setiap anak, termasuk pelajar yang berstatus Orang dengan HIV (ODHIV), berhak memperoleh pendidikan yang layak tanpa stigma maupun diskriminasi.
Penegasan tersebut disampaikan saat puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Sidoarjo, Sabtu (25/7). Dalam kesempatan itu, Abdul Mu'ti menyoroti keberadaan puluhan pelajar ODHIV di Kabupaten Sidoarjo yang saat ini masih menjalani pendampingan dan terapi.
Baca Juga: Polresta Sidoarjo Edukasi Pelajar tentang Bahaya HIV/AIDS dan Pencegahannya
Menurutnya, penanganan anak-anak ODHIV harus dilakukan secara terpadu antara sektor kesehatan dan pendidikan agar mereka tetap mendapatkan hak hidup dan hak belajar secara optimal.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, terdapat 53 anak usia pelajar yang hidup dengan HIV. Mereka menjalani terapi Antiretroviral (ARV) secara berkelanjutan agar tetap dapat beraktivitas dan mengikuti proses belajar seperti anak-anak lainnya.
Baca Juga: Kepala Puskesmas Diminta Fokus Tekan Kasus HIV/AIDS di Sidoarjo, Krian dan Porong Jadi Prioritas
Abdul Mu'ti menjelaskan, penanganan medis merupakan kewenangan pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan bersama instansi terkait. Namun, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab memastikan para pelajar tersebut tidak mengalami diskriminasi di lingkungan sekolah.
"Penanganan medis merupakan ranah Kementerian Kesehatan dan dinas teknis, namun dari sisi pendidikan, kita harus memastikan tidak ada stigma atau penelantaran terhadap hak belajar mereka," tegas Abdul Mu'ti.
Baca Juga: Antisipasi HIV/AIDS, Lapas Porong Sidoarjo Gelar Tes HIV Sukarela bagi Napi
Ia menekankan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh peserta didik tanpa memandang kondisi kesehatan mereka.
"Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan inklusif bagi seluruh peserta didik. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga pendidik, tenaga kesehatan, dan orang tua menjadi kunci dalam mendampingi anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus," ujarnya.
aiBaca Juga: Dinkes Sidoarjo: Kelompok LSL Miliki Risiko Tertinggi Penularan HIV/AIDS
Selain menyoroti persoalan pelajar ODHIV, Abdul Mu'ti juga mengingatkan besarnya tantangan pengasuhan anak di era digital. Menurutnya, penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat berdampak pada kesehatan mental, menurunkan kemampuan konsentrasi, hingga mengurangi interaksi sosial anak.
"Penggunaan gawai oleh anak-anak perlu mendapatkan pengawasan ketat. Banyak dari mereka yang terpapar konten media yang tidak sesuai hingga mengalami penurunan konsentrasi (attention span) dan isolasi sosial," katanya.
Ia berharap orang tua dan guru tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga menjadi pendengar yang baik serta memberikan ruang yang lebih luas bagi anak untuk melakukan aktivitas fisik dan berinteraksi secara sosial.
"Orang tua dan guru harus menjadi pendengar yang baik serta memberikan ruang kegiatan fisik dan interaksi sosial yang lebih luas bagi anak-anak," imbuhnya.
Menurut Abdul Mu'ti, Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk meningkatkan perhatian seluruh elemen bangsa terhadap tumbuh kembang anak.
"Peringatan Hari Anak Nasional ini menjadi momen penting bagi kita semua untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap tumbuh kembang anak-anak. Melalui pendampingan yang tepat dan bimbingan yang bijak, kita ingin memastikan generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, kuat, dan berkualitas," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa upaya membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter tidak dapat dilakukan pemerintah sendirian.
Menurut Emil, keberhasilan menciptakan lingkungan yang ramah anak membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, organisasi masyarakat, hingga seluruh lapisan masyarakat.
"Membangun generasi yang sehat dan berkarakter tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, keluarga, hingga masyarakat luas," ujarnya.
Ia berharap semangat Hari Anak Nasional semakin memperkuat sinergi semua pihak dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, serta mendukung tumbuh kembang anak-anak Indonesia, termasuk mereka yang membutuhkan pendampingan khusus. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar sidoarjo