RADAR SIDOARJO - Masjid Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, Kamis (16/7), dipenuhi warga binaan yang mengikuti kajian keagamaan rutin.
Program pembinaan rohani yang telah berjalan bertahun-tahun itu disebut tidak sekadar menjadi kegiatan ibadah, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi para narapidana untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki diri sebelum kembali ke tengah masyarakat.
Salah seorang narapidana kasus asusila terhadap anak di bawah umur berinisial GN, 53, mengaku pembinaan keagamaan yang diterimanya selama menjalani masa pidana telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Pria yang divonis tujuh tahun penjara itu mengatakan dirinya kini benar-benar menyadari kesalahan yang pernah dilakukan dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi setelah bebas nanti.
"Selama saya di sini, saya sangat sadar. Ternyata benar, kesalahan itu membuat saya benar-benar introspeksi. Mudah-mudahan nanti kalau sudah di luar saya bisa menjadi lebih baik," ujar pria 53 tahun itu, Kamis (16/7).
GN mengaku telah menjalani hukuman selama lima tahun. Selama itu pula ia rutin mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari pengajian, khataman Al-Qur'an hingga kajian Islam yang digelar di dalam lapas.
Menurutnya, seluruh kegiatan tersebut memberi pemahaman agama yang jauh lebih mendalam dibanding sebelumnya.
"Tidak akan mengulangi lagi. Pengajian di sini benar-benar masuk ke kalbu. Saya sadar betul atas kesalahan yang saya lakukan," katanya.
Ia menilai pembinaan keagamaan di Lapas Porong menjadi "obat hati" yang membantunya memperbaiki diri.
"Selama ada pengajian seperti ini, saya semakin memahami ibadah dan agama. Ilmu yang saya dapat sangat bermanfaat. Saya merasa mendapatkan obat di sini. Alhamdulillah, saya benar-benar sadar," ungkapnya.
GN juga mengakui bahwa perbuatannya telah melukai seluruh anggota keluarganya. Satu keluarga merasa dirugikan karena ulahnya.
"Mudah-mudahan saya bisa dimaafkan," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Lapas Kelas I Surabaya Andik Ariawan menjelaskan pembinaan keagamaan menjadi salah satu program utama pembinaan kepribadian bagi warga binaan.
Menurutnya, program tersebut melibatkan penyuluh dari Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sidoarjo serta sejumlah lembaga yang peduli terhadap pembinaan narapidana.
"Pembinaan keagamaan dari Kementerian Agama maupun lembaga-lembaga yang peduli terhadap warga binaan bertujuan membekali mental keagamaan mereka. Selain pembinaan keterampilan, kami juga memberikan pendidikan agama dan bahkan tersedia madrasah bagi warga binaan yang ingin belajar," jelas Andik.
Ia menerangkan, setiap malam Jumat seluruh blok secara bergiliran menggelar yasinan dan tahlil.
Sementara setiap hari di Masjid Lapas juga berlangsung kajian rutin, kegiatan hadrah, hingga pembinaan tahfiz Al-Qur'an. Khusus setiap Kamis, materi keagamaan diisi oleh penyuluh dari Kemenag Kabupaten Sidoarjo.
Menurut Andik, kegiatan tersebut telah berlangsung sangat lama dan terus dipertahankan karena memberikan dampak positif terhadap kondisi psikologis maupun spiritual warga binaan.
"Yang pasti saya selalu tekankan kepada mereka agar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satunya dengan rutin mengikuti kegiatan keagamaan dan salat berjamaah. Itu membuat mereka lebih tenang menjalani masa pidananya," katanya.
Untuk menjaga keamanan, lanjut Andik, salat berjamaah di masjid dilaksanakan pada waktu Zuhur, Asar, dan Magrib. Sedangkan salat Subuh dan Isya dilakukan di dalam kamar hunian.
Meski demikian, berdasarkan pemantauan petugas, banyak warga binaan yang tetap melaksanakan salat berjamaah bersama teman sekamarnya.
Andik menilai pembinaan keagamaan yang konsisten diberikan telah membawa perubahan positif bagi banyak warga binaan.
"Alhamdulillah, program keagamaan ini berhasil. Nilai-nilai agama mulai meresap ke dalam hati mereka. Harapannya, setelah bebas nanti mereka benar-benar menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama," pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo