RADAR SIDOARJO - Wajah Depo Pasar Ikan (DPI) di Jalan Raya Lingkar Timur Sidoarjo bakal berubah.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo melalui Dinas Perikanan menyiapkan penataan menyeluruh kawasan pasar ikan tersebut, mulai dari penyelesaian paving jalan, pembenahan saluran drainase, pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), hingga pengelolaan limbah ikan yang lebih ramah lingkungan.
Baca Juga: Sungai di Dam Bono Sedati Gede Sidoarjo Berbusa, Bau Menyengat dan Ikan Mabuk
Langkah itu dilakukan untuk mengatasi berbagai persoalan yang selama ini dikeluhkan pengunjung maupun pedagang, seperti kondisi pasar yang becek saat hujan, kumuh, serta bau tidak sedap yang berasal dari limbah dan kotoran ikan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sidoarjo Yunan Khoiron mengatakan, saat ini pihaknya masih melanjutkan pekerjaan paving jalan yang sebelumnya belum tuntas dikerjakan.
“Sekarang ini kami masih melanjutkan pekerjaan jalan yang kemarin belum selesai dipaving. Yang belum tertangani akan kami upayakan untuk dipaving,” ujar Yunan, Selasa (9/6).
Menurut dia, perbaikan jalan hanyalah langkah awal. Ke depan, Dinas Perikanan juga akan fokus membenahi sistem saluran dan lingkungan pasar agar lebih tertata.
Baca Juga: Sepi Pengunjung, Pedagang Pasar Ikan Hias Sidoarjo Minta Dukungan Pemasaran
“Ke depan saya juga ingin menata saluran-saluran yang ada. Untuk itu mungkin kami menunggu penganggaran pada tahun berikutnya,” katanya.
Yunan menilai, kondisi fisik bangunan di kawasan pasar ikan sebenarnya bukan persoalan utama. Yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan yang bersih sehingga mampu menarik kembali minat masyarakat untuk berbelanja.
Baca Juga: Depo Pasar Ikan Bakal Dikoneksikan Dengan Sentra Kuliner
“Sebagian besar bangunan di sana memang masih sederhana. Tetapi kalau pasar ikan tadi sudah bersih, orang akan kembali datang. Bangunannya mungkin tidak mewah, tetapi kalau bersih tentu berbeda,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut memiliki dua area utama, yakni pasar ikan hidup dan pasar ikan konsumsi yang setiap hari menjadi pusat transaksi berbagai jenis ikan laut maupun ikan tawar.
Karena aktivitas perdagangan berlangsung cukup padat, keberadaan fasilitas pengelolaan limbah menjadi kebutuhan mendesak yang selama ini belum tersedia.
“Memang perlu ada pemeliharaan atau revitalisasi. Mulai sekarang harus kita pikirkan juga salurannya. Paling tidak harus ada IPAL, pengelolaan sampah dan sistem pengelolaan lingkungan yang baik. Kalau saya bicara IPAL, itu memang wajib. Dengan kondisi saat ini memang belum ada,” tegasnya.
Menurut Yunan, limbah sisa ikan, air bekas pencucian, hingga kotoran ikan harus dipilah dan dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan maupun menimbulkan bau menyengat.
“Bagaimana kondisi di sana? Mulai jalannya, kawasan pasar, dan aktivitas pasar ikan itu sendiri. Pasti ada limbah-limbah, bekas kotoran ikan dan sebagainya. Itu harus dipilah dan dikelola dengan baik,” jelasnya.
Penataan yang direncanakan tidak hanya menyasar infrastruktur, tetapi juga perilaku para pelaku usaha agar lebih disiplin dalam membuang limbah.
“Setelah saya masuk ke sini, saya ingin melakukan penataan secara menyeluruh. Penataan infrastruktur, sekaligus penataan perilaku para pelaku usaha di sana agar lebih tertib dalam membuang limbah,” ujarnya.
Selain itu, sistem saluran dan pengelolaan limbah akan dirancang terintegrasi dengan seluruh aktivitas yang ada di kawasan pasar, termasuk warung-warung yang berada di sekitar lokasi.
Yunan berharap upaya tersebut mampu menciptakan pasar ikan yang lebih bersih, nyaman, dan ramah lingkungan sehingga jumlah pengunjung terus meningkat.
“Harapannya, orang yang datang ke pasar ikan merasa nyaman. Kalau baunya menyengat dan lingkungan kumuh, orang akan malas datang. Memang namanya pasar ikan tidak mungkin steril sepenuhnya, tetapi setidaknya bisa dibuat lebih ramah lingkungan dan lebih nyaman,” tuturnya.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang datang dan berbelanja, maka perputaran ekonomi di kawasan pasar ikan juga akan ikut meningkat.
“Kalau orang tidak malas datang dan semakin banyak yang berbelanja, pertumbuhan ekonominya juga akan meningkat dibandingkan sekarang. Sebaliknya, kalau terlihat kumuh dan semrawut, orang akan enggan datang,” pungkasnya.
Meski demikian, Yunan mengakui penataan kawasan DPI masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung yang hingga kini masih perlu ditingkatkan. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista