RADAR SIDOARJO - Persoalan pasar tradisional di Kabupaten Sidoarjo akhirnya disampaikan secara terbuka di hadapan Bupati Sidoarjo Subandi.
Mulai dari jalan pasar yang rusak, saluran air tersumbat, kios kosong, hingga lesunya okupansi pedagang akibat gempuran pasar modern dan penjualan online menjadi sorotan utama dalam audiensi pengelola pasar di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (7/5).
Baca Juga: Bupati Subandi Siapkan Lomba Balap Merpati Nasional, Tegaskan Sidoarjo Harus Bebas Judi
Keluhan datang dari sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Porong, Pasar Wadungasri, Pasar Kedungrejo, Pasar Krian, Pasar Wonoayu, Pasar Sukodono, hingga Pasar Taman.
Pengelola Pasar Porong, Yusron, menyampaikan bahwa kondisi pasar saat ini sebenarnya mulai membaik setelah adanya pemasangan kanopi yang membuat pedagang lebih nyaman saat hujan turun. Namun, sejumlah persoalan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah.
Baca Juga: Bupati Sidoarjo Minta Lokasi Koperasi Merah Putih Harus Strategis
“Pasar Porong sekarang sudah lebih nyaman karena ada kanopi, jadi pedagang tidak kehujanan lagi. Tapi masih ada persoalan retribusi parkir, jalan yang rusak, dan saluran air yang tersumbat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihak pengelola juga mulai mendorong para pedagang agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui penjualan secara online.
Baca Juga: WFH Jumat ASN Sidoarjo Dipantau Digital, Bupati Lakukan Evaluasi
“Kami juga mengedukasi pedagang supaya mulai mencoba jual beli online agar bisa bertahan dan bersaing,” katanya.
Keluhan serupa juga datang dari pengelola pasar lainnya. Mereka mengungkapkan banyak kios di sejumlah pasar kini kosong dan mengalami kerusakan. Selain itu, paving pasar mulai rusak sehingga mengganggu aktivitas pedagang dan pengunjung.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, disebutkan bahwa anggaran sebesar Rp 2,3 miliar telah dialokasikan bagi Pasar Taman, Sukodono, dan Wonoayu. Anggaran itu rencananya digunakan untuk pembangunan paving, los basah, hingga perbaikan pagar pasar.
Khusus Pasar Sukodono, peninggian paving di area depan pasar juga akan dilakukan guna mengatasi banjir saat musim hujan.
Sementara itu, Pasar Wonoayu tengah menyiapkan kegiatan Gebyar Pasar Wonoayu bersama APLI pada 13-14 Mei mendatang sebagai upaya menghidupkan kembali aktivitas masyarakat di pasar tradisional.
Di sisi lain, Pasar Krian masih menghadapi persoalan serius pasca kebakaran. Tempat penampungan pedagang dinilai belum memadai, ditambah saluran air yang kerap meluap saat hujan deras.
Sedangkan di Pasar Wadungasri, okupansi kios konveksi di lantai dua disebut hanya sekitar 10 persen. Kondisi itu dipicu maraknya penjualan online serta menjamurnya toko modern.
Pengelola Pasar Kedungrejo juga melakukan berbagai upaya pembenahan, salah satunya dengan mempercantik area pintu masuk pasar untuk meningkatkan daya tarik pengunjung.
Dalam audiensi tersebut juga dibahas target dan realisasi retribusi pasar selama lima tahun terakhir. Disebutkan bahwa target retribusi tahun 2024 berhasil tercapai, namun capaian tahun 2025 masih belum memenuhi target.
Menanggapi berbagai persoalan itu, Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan komitmennya melakukan revitalisasi pasar tradisional agar tetap mampu bersaing di tengah berkembangnya pasar modern.
“Kita harus bersinergi melakukan revitalisasi pasar tradisional agar bisa bersaing dengan pasar modern,” tegasnya.
Subandi juga meminta dilakukan pemetaan secara menyeluruh untuk meningkatkan pendapatan retribusi pasar.
“Lakukan pemetaan untuk meningkatkan retribusi. Kami juga akan turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi pasar tradisional saat ini,” katanya.
Selain itu, Pemkab Sidoarjo juga mendorong penerapan sistem retribusi non-tunai yang nantinya dikawal Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sidoarjo.
Tak hanya itu, Pemkab juga akan menyiapkan dashboard pendataan pasar tradisional beserta jumlah kios maupun lapak pedagang yang dapat diakses seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Menurut Subandi, kepala pasar dituntut lebih kreatif dan inovatif agar pasar tradisional tetap diminati masyarakat.
“Kepala pasar harus bisa berinovasi agar kondisi pasar lebih baik sehingga pembeli dan penjual merasa nyaman,” ujarnya.
Ia bahkan mengusulkan penyediaan jaringan WiFi gratis di area pasar untuk mendukung transaksi jual beli secara online.
“Kalau perlu disediakan WiFi gratis supaya aktivitas jual beli online di pasar juga bisa berkembang,” tandasnya.
Diketahui, Kabupaten Sidoarjo memiliki lima korwil pasar. Dalam audiensi tersebut, Bupati Subandi didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Bahrul Amig serta Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Happy Setyaningtyas Astrawati. (dik)
Editor : Vega Dwi Arista