RADAR SIDOARJO - Video viral di media sosial yang menyebut makam di kawasan Pasar Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo berisi boneka menuai kecaman warga. Tudingan tersebut dibantah tegas oleh saksi sejarah dan pihak ahli waris yang menilai klaim itu tidak berdasar serta berpotensi merusak martabat ulama.
Saksi sejarah sekaligus tokoh masyarakat Kelurahan Ngelom, Choirul Ambiya, menegaskan bahwa makam tersebut merupakan makam Mbah Dirjo Joyo Ulomo, sosok yang diyakini sebagai santri dari Mbah Raden Ali dan memiliki keterkaitan sejarah panjang di wilayah tersebut.
Baca Juga: Viral, Pembongkaran Makam di Pasar Sepanjang Taman Sidoarjo
“Saya saksi yang ikut menggali makam itu hingga lebih dari satu setengah meter. Tidak ada temuan seperti boneka. Yang ada hanya maesan dan ornamen makam, dan itu ada dokumentasinya,” tegas pria yang akrab disapa Gus Ambiya’, Selasa (28/4).
Ia menjelaskan, Mbah Dirjo Joyo Ulomo diyakini merupakan bagian dari pasukan Pangeran Diponegoro yang kemudian menetap di wilayah Taman dan menjadi santri di Ngelom. Sosok tersebut juga dipercaya mendapat amanah untuk merawat Mbah Joyo Ulomo di Wonocolo.
Baca Juga: Puluhan Nisan di Makam Desa Kludan Tanggulangin Sidoarjo Dicoret Tanda Silang, Picu Polemik Warga
Menurutnya, keberadaan makam itu telah lama dikenal masyarakat dan menjadi tujuan ziarah warga dari berbagai daerah.
“Sejak dulu para sesepuh sudah menceritakan. Orang berziarah ke situ sudah biasa. Jadi kalau sekarang muncul isu ada boneka, itu dari mana asalnya?” ujarnya.
Baca Juga: Tahun Baru Islam, Makam KH Ali Mas’ud Pagerwojo Sidoarjo Ramai Peziarah
Gus Ambiya’ juga mengecam keras pihak yang menyebarkan informasi tersebut. Ia menilai tudingan itu bukan sekadar kesalahan, tetapi bentuk pelecehan terhadap ulama.
“Itu bukan hanya merendahkan, tapi juga menginjak martabat ulama,” tegasnya.
Baca Juga: Ketahuan, Maling Kotak Amal Beraksi di Makam Kembar Tropodo Waru Sidoarjo Diamankan Warga
Ia mendesak agar makam tersebut segera dibangun kembali serta meminta aparat menindak pihak yang melakukan pembongkaran.
“Bangun kembali makam itu. Ini bukan hanya untuk keluarga, tapi untuk umat. Dan yang membongkar harus bertanggung jawab,” imbuhnya.
Sementara itu, ahli waris tanah, Saifudin, menjelaskan bahwa lahan makam tersebut merupakan tanah wakaf yang diperuntukkan bagi Mbah Dirjo Joyo Ulomo secara turun-temurun.
“Sebagian tanah itu memang diwakafkan khusus. Itu sebabnya sebelumnya pihak pasar tidak berani membongkar,” jelasnya.
Ia mengakui bukti administrasi yang dimiliki masih terbatas, namun secara sejarah dan pengakuan masyarakat, keberadaan makam tersebut tidak diragukan.
Hal senada disampaikan pamannya, Moh Dahlan, yang mengaku telah mengetahui keberadaan makam itu sejak kecil.
“Makam itu sudah ada sejak saya kecil. Saya lahir tahun 1954, jadi sudah puluhan tahun ada dan ramai diziarahi orang dari berbagai daerah,” tuturnya.
Menurutnya, pembongkaran makam tersebut menimbulkan kekecewaan, terutama bagi para peziarah yang selama ini rutin datang.
“Kasihan para peziarah, terutama ibu-ibu. Mereka sering bertanya kenapa makam itu dibongkar. Kami sebagai keluarga tentu kecewa,” ungkapnya.
Ia berharap kejadian serupa tidak terulang dan meminta pihak berwenang bertindak tegas.
“Kalau bisa dibangun kembali dan pelakunya ditindak. Setidaknya ada efek jera agar tidak terjadi lagi,” tandasnya.
Hingga kini, polemik pembongkaran makam tersebut masih menjadi perhatian masyarakat. Warga berharap ada kejelasan hukum sekaligus pemulihan terhadap situs yang diyakini memiliki nilai sejarah dan spiritual tersebut. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista