RADAR SIDOARJO - Pemangkasan Dana Desa (DD) tahun 2026 membawa dampak besar terhadap pembangunan di Desa Tawangsari, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Di tengah keterbatasan anggaran, proyek Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) justru sudah lebih dulu berjalan dan kini rampung dibangun.
Kepala Desa Tawangsari Adi Sucipto mengungkapkan, pembangunan KDMP dimulai sebelum kebijakan pemotongan anggaran dari pemerintah pusat diberlakukan.
“Untuk pemotongan anggaran itu, di Tawangsari sebelum dana terpotong pembangunan KDMP memang sudah mulai. Jadi penggunaannya untuk itu atau tidak, saya sendiri kurang jelas,” ujarnya.
Ia mengaku pemerintah desa tidak menerima informasi resmi terkait alasan pemangkasan anggaran tersebut. Karena itu, desa hanya bisa menyesuaikan program yang telah direncanakan sebelumnya.
“Iya, tidak ada info,” tegasnya.
Baca Juga: 154 Koperasi Desa Merah Putih di Sidoarjo Belum Terbangun Gegara Terbentur Lahan
Akibat kebijakan itu, Dana Desa yang semula sekitar Rp 1,1 miliar kini menyusut menjadi sekitar Rp 360 juta. Dampaknya, sejumlah program prioritas terpaksa ditunda.
“Secara otomatis tertunda. Selama ini yang sudah dimusyawarahkan untuk pembangunan fisik otomatis berkurang,” jelasnya.
Baca Juga: 71 Koperasi Desa Merah Putih Dibangun di Sidoarjo, 45 Gerai Sudah Beroperasi
Salah satu program yang terdampak adalah rencana perbaikan infrastruktur jalan desa yang seharusnya dikerjakan tahun ini.
“Ya tentunya perbaikan jalan dan sebagainya yang jatahnya tahun 2026 otomatis kami tidak bisa melaksanakan,” imbuhnya.
Baca Juga: Koperasi Merah Putih Desa Prasung Buduran Sidoarjo, Gandeng 57 Toko Warga dan Serap Hasil Petani
Adi menegaskan, seluruh penyesuaian anggaran tetap diputuskan melalui Musyawarah Desa (Musdes) bersama RT/RW dan unsur masyarakat agar tetap transparan.
“Kami sampaikan ke RT/RW dan lembaga bahwa anggaran tahun 2026 tinggal sekian. Jadi otomatis sasarannya lebih sedikit dari tahun kemarin,” katanya.
Terkait informasi adanya suntikan modal hingga Rp 3 miliar untuk KDMP, Adi mengaku belum menerima keterangan resmi.
“Kalau informasi itu secara tertulis belum. Kalau hanya pembicaraan memang sudah dengar, tapi kami tidak bisa memastikan,” ujarnya.
Di sisi lain, pembangunan KDMP Tawangsari menjadi yang paling awal di Kecamatan Taman. Lokasi proyek menggunakan Tanah Kas Desa (TKD) yang dinilai siap dan memenuhi syarat.
“Kebetulan Tawangsari sudah ada lahan yang siap. Akhirnya pada 2025 menjadi satu-satunya desa di Kecamatan Taman yang mulai dibangun dan selesai Februari 2026,” jelas Adi.
Peran aktif juga ditunjukkan Babinsa Tawangsari Sertu Sunaryo yang mendampingi proyek sejak awal hingga selesai.
“Untuk pertama kali Babinsa mencari lahan, koordinasi bersama Pak Kades dan perangkat desa, untuk menemukan lokasi KDMP yang sesuai standar,” katanya.
Menurut Sunaryo, keterlibatan Babinsa tidak hanya sebatas pendampingan, tetapi juga pengawasan penuh terhadap jalannya pembangunan.
“Mulai pencarian lahan, pembersihan, pengukuran, sampai pembangunan, Babinsa mendampingi dari 0 persen sampai 100 persen,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku belajar secara otodidak memahami aspek teknis konstruksi demi memastikan proyek berjalan baik.
“Memang basic kami bukan arsitektur atau konstruksi. Tapi kami belajar terus secara otodidak sampai akhirnya bisa mengerti,” ungkapnya.
Terkait potensi sengketa lahan, Sunaryo memastikan pembangunan berjalan lancar karena menggunakan Tanah Kas Desa dan telah melalui Musyawarah Desa.
“Untuk masyarakat sekitar tidak ada masalah. Ini murni tanah TKD dan sudah melalui musdes,” tegasnya.
Kini bangunan KDMP telah rampung dan memasuki tahap penyediaan sarana prasarana. Pemerintah desa berharap keberadaan koperasi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan warga Desa Tawangsari.
“Sudah pasti nanti untuk kesejahteraan masyarakat Desa Tawangsari,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar sidoarjo