Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Sidoarjo Bersiap Hadapi Kemarau Lebih Kering, Catat Waktunya

Diky Putra Sansiri • Sabtu, 18 April 2026 | 08:28 WIB
WASPADA: Prakirawan cuaca BMKG Juanda Sidoarjo saat memantau kondisi cuaca. (DOK/RADAR SIDOARJO)
WASPADA: Prakirawan cuaca BMKG Juanda Sidoarjo saat memantau kondisi cuaca. (DOK/RADAR SIDOARJO)

RADAR SIDOARJO - Kemarau yang lebih kering mulai membayangi Kabupaten Sidoarjo tahun ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya transisi menuju fenomena El Niño dalam beberapa bulan ke depan yang berpotensi menekan curah hujan secara signifikan, sekaligus meningkatkan risiko kebakaran lahan.

Baca Juga: Peringatan Dini Cuaca dari BMKG Juanda, Sidoarjo dan Puluhan Wilayah di Jatim Berpotensi Hujan Lebat Disertai Angin

Prakirawan BMKG Juanda Sidoarjo, Rendy Irawadi, mengungkapkan bahwa hingga pertengahan April 2026 kondisi iklim global masih berada pada fase netral.

Namun, dinamika atmosfer menunjukkan adanya pergeseran menuju El Niño.

Baca Juga: Waspada Kemarau Panjang, BPBD Sidoarjo Petakan Wilayah Rawan Kebakaran Lahan

“Hingga pertengahan April 2026, indeks ENSO masih berada pada fase netral di angka +0,28. Namun, kami memprediksi akan terjadi transisi menuju El Niño kategori lemah hingga moderat pada periode Mei hingga Juli 2026,” ujar Rendy ke Radar Sidoarjo, Jumat (17/4).

Ia menjelaskan, dampak paling nyata dari fenomena ini adalah penurunan curah hujan di bawah rata-rata normal.

Baca Juga: BMKG Juanda Prediksi, Sidoarjo Mulai Masuk Musim Kemarau

Kondisi tersebut diperkirakan membuat musim kemarau tahun ini terasa lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.

“Curah hujan di wilayah Sidoarjo diprediksi berada di bawah normal klimatologis, sehingga intensitas hujan akan berkurang dibandingkan tahun 2025. Ini menjadikan musim kemarau 2026 cenderung lebih kering,” jelasnya.

Baca Juga: Cuaca Sidoarjo Berubah, Ini Prediksi BMKG

Seiring dengan itu, BMKG juga memetakan sejumlah wilayah di Sidoarjo yang masuk kategori rawan kebakaran berdasarkan sistem Fire Danger Rating System (FDRS). Area dengan dominasi lahan kering dan aktivitas industri menjadi perhatian utama.

Baca Juga: Suhu Laut Naik, BMKG Juanda Minta Warga Sidoarjo Waspada

“Wilayah yang memiliki indeks kemudahan terbakar tinggi antara lain Kecamatan Krian, Tarik, dan Balongbendo yang didominasi lahan tebu dan lahan kering. Selain itu, kawasan industri dan lahan terbuka di Waru, Buduran, serta Gedangan juga perlu diwaspadai,” terangnya.

Puncak musim kemarau sendiri diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem.

“Kami memperkirakan puncak kemarau terjadi pada Agustus, dengan potensi Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem yang bisa mencapai lebih dari 60 hari berturut-turut, khususnya di wilayah Sidoarjo bagian barat dan selatan,” ungkap Rendy.

Selain minimnya curah hujan, faktor cuaca lain seperti suhu udara dan kecepatan angin juga berkontribusi dalam mempercepat penyebaran titik panas (hotspot).

“Suhu maksimum saat ini berkisar 33 hingga 34 derajat Celsius dan berpotensi meningkat saat puncak kemarau. Ditambah lagi, angin monsun timur dari arah timur hingga tenggara dapat mencapai 15 hingga 20 knot, atau sekitar 30–40 kilometer per jam, yang bersifat kering dan mempercepat penyebaran api,” paparnya.

Untuk meminimalisir risiko, BMKG bersama BPBD Sidoarjo memberikan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat, khususnya pelaku sektor pertanian dan pengelola lahan.

“Petani disarankan mengoptimalkan sumber air melalui pompanisasi dan sumur dalam, serta memilih varietas tanaman yang tahan kekeringan dan cepat panen. Kami juga menegaskan larangan membuka lahan dengan cara membakar karena sangat berisiko memicu kebakaran,” tegasnya. (dik/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#BMKG #Kemarau #Juanda #risiko #Hujan