RADAR SIDOARJO - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo tetap berjalan selama bulan Ramadan. Namun, ada yang berbeda dalam pola pendistribusiannya.
Jika biasanya siswa menerima menu basah siap santap, selama puasa makanan dikemas dalam bentuk menu kering yang lebih tahan lama agar bisa dinikmati saat berbuka.
Kepala Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Modong Tulangan, Fitra Mauludfiyah menjelaskan, penyesuaian tersebut dilakukan setelah uji coba ketahanan makanan selama puasa.
“Jadi kalau perbedaannya itu kita biasanya nyebutnya ada menu basah sama menu kering. Menu basah itu yang biasanya diletakkan di ompreng terdiri dari karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Itu menu basah yang sudah dimasak,” jelas Fitra kepada Radar Sidoarjo, Senin (2/3).
Menurut Fitra, menu kering merupakan menu yang tahan lama dan bisa dibawa pulang. Uji coba sudah dilakukan untuk memastikan menu bisa bertahan sampai waktu buka puasa.
Selama Ramadan, distribusi dilakukan menggunakan tote bag atau tas wadah khusus yang wajib dikembalikan ke sekolah keesokan harinya sesuai kebijakan terbaru Badan Gizi Nasional (BGN).
SPPG Modong Tulangan saat ini melayani 15 sekolah di wilayah Desa Modong, Kecamatan Tulangan, ditambah sekitar 300-an ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan bayi. Total penerima manfaat mencapai 3.034 orang.
“Kalau sekolahnya kita sudah di 15 sekolah ditambah dengan sekitar 300-an ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan bayi. Itu kita total penerima manfaat ada di 3.034,” terangnya.
Nilai menu disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Untuk tingkat TK hingga kelas 3 SD, nilai menu sebesar Rp 8.000 per porsi. Sedangkan siswa kelas 4 SD hingga SMA mendapatkan porsi senilai Rp 10.000.
Penyesuaian tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gizi sesuai usia pertumbuhan anak. Sementara, Kepala TK Dharma Wanita Persatuan Modong, Rohmatul Ummah mengaku para siswa sangat antusias setiap kali MBG datang.
“Anak-anak suka sekali. Kalau sampai telat (pendistribusiannya), anak-anak sampai tanya. Total ada 58 siswa di TK ini,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut, TK Dharma Wanita Persatuan Modong menjadi salah satu penerima awal sejak program dibuka pada 22 Oktober 2025.
Menurut Rohmatul, variasi menu membuat anak-anak semakin bersemangat. Beberapa menu seperti mie ayam, ayam katsu, hingga burger kerap menjadi favorit.
“Ada mie ayam, ayam katsu, terus burger itu ya, itu anak-anak suka itu pembelajaran juga. Kan bikin kayak cooking class, ada roti terus bisa diberi katsu dimasukkan terus sayurnya ada,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengakui anak-anak masih kurang menyukai sayur. Rohmatul berharap kualitas dan variasi menu tetap terjaga tanpa penggunaan bahan tambahan berlebihan. Ia juga mengapresiasi adanya kolom saran untuk sekolah.
“Harapannya pokoknya sini bervariasilah macam-macam ya, digilir gitulah utamanya. Mie ayam gitu ya, ada telurnya, ada ayamnya, terus buahnya itu,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sumaiah, nenek salah satu siswa TK. Ia menilai cucunya sangat cocok dengan menu MBG yang diberikan.
“Cucu saya ini suka sekali, senang, terus MBG-nya di sini itu juga baik. Ya alhamdulillah baik,” ucapnya lansia berusia 64 tahun itu.
Menurutnya, sang cucu tidak memiliki alergi dan nafsu makannya tetap baik di rumah. Sumaiah berharap program ini terus berlanjut dengan kualitas yang dipertahankan
“Ya kadang itu lumrahlah kalau ada (buah) yang kulitnya agak hitam, tapi dalamnya ndak apa-apa,” tambahnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista