RADAR SIDOARJO - Ratusan warga Desa Gelam, Kecamatan Candi, Sidoarjo, berduyun-duyun menuju Situs Doro untuk mengikuti rangkaian Ruwah Desa Gerebek Gunungan Sedekah Bumi, Sabtu (24/1).
Tradisi tahunan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus upaya menjaga kearifan lokal yang terus lestari hingga kini. Rangkaian acara diawali dengan lantunan shalawat banjari, disusul penampilan tarian ibu-ibu PKK.
Antusiasme warga semakin memuncak saat gunungan berisi buah-buahan dan sayuran diarak dan diperebutkan warga, simbol keberkahan dan harapan kesejahteraan.
Kepala Desa Gelam Muchammad Muslich mengatakan, sedekah bumi merupakan bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama untuk para leluhur yang telah membuka wilayah Desa Gelam.
“Sedekah bumi ini apapun yang terjadi sudah kita ikhlaskan semua. Ruwah desa ini untuk menjaga adat dan budaya lokal agar tetap kita jaga,” ujar Muslich kepada Radar Sidoarjo.
Ia menambahkan, tradisi ini juga menjadi sarana memohon keberkahan bagi masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan ekonomi warga.
“Kita bersyukur atas para dayang dan sesepuh yang babat alas Desa Gelam. Kita doakan agar pertanian Desa Gelam dan perekonomian masyarakat tidak terguncang serta dijauhkan dari situasi yang tidak kondusif,” jelasnya.
Rangkaian ruwah desa dimulai sejak pagi hari. Sejak pukul 05.00 digelar istighosah hingga pukul 08.30, dilanjutkan tumpengan bersama RT/RW, lembaga desa, serta ziarah makam leluhur.
Siang harinya, wayang ruwat digelar hingga sore, lalu malam hari diisi shalawat, grebek tumpengan, dan puncaknya pagelaran wayang kulit dengan lakon Babat Alas Seno.
“Tujuan utamanya menjaga adat budaya dan kearifan lokal agar tidak hilang. Gotong royong, adat istiadat, dan toleransi antarumat beragama harus terus kita jaga,” tambahnya.
Ia juga mengapresiasi ketahanan pangan desa yang mulai berkembang melalui berbagai program warga.
"Alhamdulillah masyarakat kita guyub rukun. Di tingkat RT sudah ada hidroponik, perikanan, peternakan kambing dan ayam,” katanya.
Sementara itu, Ketua BPD Desa Gelam Slamet Rizal menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran seluruh rangkaian acara yang didukung cuaca cerah dan antusiasme warga.
“Alhamdulillah sejak habis salat subuh acara berjalan lancar. Setelah Khotmil Qur’an, kami bersama BPD, RT/RW, perangkat desa melakukan ziarah kubur ke makam Desa Gelam dan Dusun Pagerwaja hingga ke mbah buyut kunden desa,” tuturnya.
Ia menjelaskan, pagelaran wayang kulit menghadirkan dua dalang, yakni dalang ruwatan pada siang hari dan dalang Hasan yang melanjutkan pagelaran hingga malam.
“Antusiasme warga luar biasa, terutama saat gerebek gunungan. Warga sangat semangat dan semuanya hadir,” ujarnya.
Menurut Slamet Rizal, ruwah desa menjadi momentum penting untuk mempererat persatuan warga lintas usia.
“Tujuannya menggalang persatuan dan kerukunan. Dari orang tua, sesepuh, hingga remaja putra-putri berkumpul bersama. Bahkan para remaja ikut dekor gunungan, terlihat jelas tua dan muda bisa kompak,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista