RADAR SIDOARJO - Lahan tidur 25 tahun seluas hampir 6.000 meter persegi di Lapas Kelas I Surabaya atau Lapas Porong Sidoarjo, kini dibangunkan.
Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), lahan tersebut dimanfaatkan untuk mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus menjadi media pembinaan kemandirian warga binaan.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur (Kakanwil Ditjenpas Jatim) Kadiyono mengatakan, SAE Lapas Porong menjadi bukti nyata bahwa lembaga pemasyarakatan mampu berkontribusi langsung dalam menyukseskan program Presiden serta program Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
“SAE Lapas Porong dengan pembukaan lahan seluas 5.860 meter persegi. Lahan ini sudah cukup lama tidur dan kita bangkitkan untuk mendukung program ketahanan pangan,” ujar Kadiyono, Rabu (14/1).
Ia menjelaskan, seluruh insan pemasyarakatan yang memiliki lahan didorong untuk memaksimalkan potensi yang ada. Hal tersebut sejalan dengan kebijakan nasional agar lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan, tetapi juga produktif.
Di Lapas Porong, program SAE diawali dengan penanaman jagung manis. Dengan bibit sekitar dua kilogram, lahan tersebut ditargetkan mampu menghasilkan hingga 2,5 ton jagung dalam waktu tiga bulan ke depan.
“Harapannya, dari lahan ini bisa menghasilkan sekitar 2,5 ton jagung. Ini bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga soal semangat pemasyarakatan untuk ikut mendukung program pemerintah,” tegasnya.
Kadiyono menambahkan, program SAE telah berjalan di sejumlah lapas lain di Jawa Timur, seperti Lapas Kelas I Malang, Lapas Banyuwangi, Lamongan, Bojonegoro, Kediri, hingga Ngawi. Masing-masing lapas mengembangkan SAE sesuai dengan potensi daerah dan luas lahan yang dimiliki.
“Semangatnya sama, yaitu mensukseskan program Presiden dan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. SAE ini adalah simulasi dan edukasi, melibatkan warga binaan yang sudah memenuhi syarat asimilasi,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan warga binaan dalam SAE bukan sekadar bekerja di lahan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan mindset dan karakter.
“Edukasi ini memberikan contoh bahwa dengan bekerja seseorang bisa menghasilkan. Ini akan membentuk perspektif dan citra yang baik, baik bagi warga binaan maupun pemasyarakatan,” katanya.
Ia berharap kolaborasi antara petugas dan warga binaan terus diperkuat. Menurutnya, dengan mengubah mindset, memberikan pelatihan yang baik, warga binaan dapat berpartisipasi aktif mendukung program pemerintah.
"Ini luar biasa dan membuktikan bahwa kita bisa,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Lapas (Kalapas) Kelas I Surabaya Sohibur Rachman mengungkapkan, pada tahap awal terdapat tujuh warga binaan yang dilibatkan langsung dalam penanaman jagung manis tersebut.
“Saat ini ada tujuh warga binaan yang kami libatkan. Mereka adalah narapidana yang telah menjalani setengah dari masa pidananya dan sudah melalui tahapan asesmen,” jelasnya.
Ia menyebutkan, ketujuh warga binaan tersebut mayoritas merupakan narapidana kasus pidana umum (pidum). Selain penanaman jagung, Lapas Porong juga menyiapkan pengembangan SAE ke sektor lain.
“Ke depan kami akan mengembangkan kandang ayam petelur dan kolam budidaya lele sebagai bagian dari program kemandirian warga binaan,” tutupnya. (sur/vga)
Editor : Vega Dwi Arista