RADAR SIDOARJO - Insiden ambruknya musala Ponpes Al Khoziny, Kecamatan Buduran, masih menyisakan duka bagi keluarga Mohammad Abdul Rohman Nafis. Santri asal RT 4/RW 1, Jalan Perintis III, Desa Pulungan, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, itu menjadi korban yang meninggal dalam peristiwa tersebut.
Nafis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Dia tercatat sebagai santri kelas IX di ponpes tersebut. Remaja berusia 15 tahun itu mulai mondok sejak tiga tahun yang lalu. Keinginan mondok datang dari dirinya sendiri.
Jenazah Nafis tiba di rumah duka pada Kamis (9/10) malam. Dia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Pulungan yang tak jauh dari rumahnya sekitar pukul 21.36.
"Dia (Nafis, red) itu ramah, mudah akrab sama seseorang. Kalau sama orang kampung sini itu banyak yang akrab," kata tante almarhum, Arumi.
Menurut Arumi, selain mudah akrab dengan warga, Nafis mempunyai kepribadian yang sopan santun, patuh dengan orang tua dan menghargai sanak saudaranya. Kepergian Nafis menjadi kehilangan besar bagi keluarga.
"Nafis ini ibadahnya rajin. Sebelum kejadian itu, di hari Sabtu, sempat telepon mamanya minta pulang. 'Ma aku jemputen, ayo pulang. Aku kepingin jalan-jalan sama mama'. Tapi mamanya tidak nurutin, soalnya habis liburan panjang," ucap Arumi menirukan cerita ibu Nafis.
Keinginan tersebut ternyata sebuah isyarat permintaan terakhir dari Nafis untuk bertemu dengan ibunya. Pasca permintaan tersebut, pihak keluarga mendapat kabar dari grup pondok bahwa ada bangunan roboh, Senin (29/9).
"Keluarga tidak menyangka, pikirnya itu semuanya selamat," imbuhnya.
Isak tangis dari pihak keluarga dan kerabat mengiringi proses pemakaman Nafis. Usai disalatkan di masjid yang tidak jauh dari rumahnya, jenazah kemudian dimakamkan di TPU Desa Pulungan.
Para kerabat berdatangan ke rumah duka untuk menyampaikan bela sungkawa. Sekadar diketahui, musala Ponpes Al Khoziny, Buduran ambruk pada Senin (29/9). Saat ini, Ditreskrimum Polda Jatim masih menyelidiki penyebab ambruknya bangunan tersebut. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista