Darjo Nyel Ekonomi & Bisnis Features Jatim Kota Delta Kriminal Delta Lifestyle Pendidikan Peristiwa Person of The Year Politika Sport & Health

Pertaruhkan Nyawa, Dokter TNI Rela Lakukan Amputasi Korban di Bawah Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo

M Saiful Rohman • Jumat, 3 Oktober 2025 | 21:05 WIB
PILIHAN SULIT: Dokter TNI, dr Aaron Franklyn Soaduon Simatupang saat menjenguk salah satu korban di RSUD RT Notopuro.
PILIHAN SULIT: Dokter TNI, dr Aaron Franklyn Soaduon Simatupang saat menjenguk salah satu korban di RSUD RT Notopuro.

RADAR SIDOARJO - Dokter TNI, dr Aaron Franklyn Soaduon Simatupang, rela mempertaruhkan nyawanya saat melakukan tindakan amputasi darurat terhadap seorang korban yang terjebak di bawah reruntuhan beton musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo.

Keputusan amputasi dilakukan setelah mempertimbangkan dua pilihan sulit: menunggu balok beton diangkat atau segera melakukan tindakan medis. Opsi pertama dinilai terlalu berisiko karena korban bisa kehilangan darah lebih banyak dan kekurangan oksigen.

“Setelah diskusi panjang, akhirnya diputuskan untuk melaksanakan amputasi di lokasi. Itu satu-satunya cara untuk mencegah hal yang tidak kita inginkan,” ujar dr Aaron, Jumat (3/10).

Ia menceritakan, untuk mencapai posisi korban, dirinya harus merayap masuk ke celah reruntuhan dengan ruang sangat sempit, hanya sekitar 20 hingga 50 sentimeter. Sesampainya di dalam, ia masih sempat berkomunikasi dengan korban.

“Korban meminta tolong agar segera dibantu. Dengan perhitungan matang dan pemberian bius, kami akhirnya melaksanakan amputasi langsung di tempat,” ungkapnya.

Proses amputasi berlangsung sekitar 10 menit. Setelah tindakan selesai, korban segera dievakuasi keluar reruntuhan dan distabilisasi sebelum dirujuk ke RSUD Sidoarjo.

Dalam operasi darurat itu, ada tiga dokter yang terlibat, yakni dirinya, dr Larona, dan seorang dokter anestesi. Namun karena ruang yang terbatas, tidak semua bisa masuk mendekati korban.

“Kami sudah menyiapkan pos masing-masing: ada pos stabilisasi, pos masuk, dan pos evakuasi,” jelasnya.

Begitu korban berhasil dikeluarkan, tim medis bergerak cepat. Dokter Larona bersama dokter anestesi mengambil alih stabilisasi sebelum korban dibawa ke ambulans.

“Semua berperan sesuai pos masing-masing. Medan di dalam sangat terbatas, tidak mungkin semua masuk sekaligus,” tambah dr Aaron.

Ia menegaskan, proses amputasi berjalan lancar dengan pendarahan minim. “Sekitar 10 menit pemotongan, korban berhasil dievakuasi dengan kondisi masih stabil,” pungkasnya. (sai/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#Santri #Korban #amputasi #reruntuhan #dokter