RADAR SIDOARJO - Posko layanan mudik lebaran 2025 di Sidoarjo resmi ditutup setelah 11 hari beroperasi. Selama masa layanan, ratusan pemudik telah memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersebar di sembilan titik posko.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan, dua titik dengan kunjungan tertinggi berada di Posko Waru dan Terminal Purabaya, Bungurasih. Tingginya mobilitas pemudik di dua lokasi itu jadi penyebab utama lonjakan kunjungan ke posko mudik.
Keluhan paling umum yang ditangani petugas adalah pusing dan pegal-pegal. “Hampir di setiap pos ada keluhan itu, jadi para pemudik kami berikan relaksasi dan obat-obatan untuk mengurangi keluhan,” ucapnya kepada Radar Sidoarjo, Selasa, (8/4).
Batuk dan pilek juga menjadi keluhan dominan yang ditemukan petugas. Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena cuaca hujan dan kondisi fisik yang kelelahan membuat daya tahan tubuh pemudik menurun.
“Tidak hanya keluhan ringan, posko kami juga menangani kasus kecelakaan lalu lintas, terdapat 10 korban laka dan 19 lainnya kami rujuk ke rumah sakit," jelasnya.
Selama masa operasional, pihaknua juga membagikan ramuan herbal untuk menjaga kebugaran kepada 291 pemudik. Selain itu, 174 orang tercatat mendapat layanan terapi akupresur.
Semua layanan dilakukan oleh tim medis yang siaga 24 jam di masing-masing titik posko. “Tercatat ada 64 pemeriksaan kesehatan, delapan kasus kegawatdaruratan yang ditangani, dan 13 pemudik yang dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan,” bebernya.
Petugas juga menangani beberapa penyakit dasar selama masa layanan. Seperti hipertensi yang memiliki tujuh kasus, tiga kasus gastritis, tiga influenza dan satu kasus diare dewasa,” imbuhnya.
Untuk kasus anak, tercatat dua anak mengalami vulcus lacterum atau sariawan berat. Sementara pada orang dewasa, hanya ada tiga kasus nyeri otot dan dua kasus sakit kepala atau cephalgia.
“Seluruh layanan kesehatan di posko mudik kami berikan secara gratis. Ini sebagai bentuk dukungan terhadap keselamatan dan kesehatan pemudik selama lebaran,” pungkasnya. (sai/gun)
Editor : Guntur Irianto