SIDOARJO - Sejumlah narapidana ikut menanam bibit di Lapas Porong atau Lapas Kelas I Surabaya. Hal ini dalam rangka mendukung percepatan program ketahanan pangan.
Namun, tak semua narapidana dapat ikut andil dalam kegiatan penanaman pohon ini. Sebab sebelumnya sudah diseleksi terlebih dahulu melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).
“Para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang kami libatkan ini berdasarkan kemauan mereka sendiri yang tinggi untuk belajar dan berkontribusi ," ujar Kabid Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Kelas I Surabaya, Rudi Hartono, Minggu (1/12).
Tak hanya itu, menurut Rudi, memang beberapa narapidana yang terlibat juga memiliki keterampilan di bidang pertanian. Penanaman bibit dilakukan di lahan yang baru saja diresmikan oleh Plt Dirjen Pemasyarakatan, Y Ambeg Paramarta.
Lebih lanjut, masih kata Rudi, lahan seluas 3.800 meter persegi tersebut kini sudah ditanami berbagai jenis tanaman, seperti jagung hibrida, jagung manis dan aneka tanaman sayur mayur.
"Kami memilih jenis tanaman ini, sesuai dengan arahan Kalapas Kelas I Surabaya karena kemudahan dalam perawatan maupun fokus perawatan untuk beberapa tanaman terlebih dahulu," ujarnya.
Sehingga, kata Rudy, potensi hasil dapat dirasakan secara maksimal bagi petugas, WBP, maupun masyarakat. Hal senada, diungkapkan Kalapas Kelas I Surabaya, Jayanta.
Jayanta menuturkan, program ini tidak hanya menjadi sarana pembinaan bagi warga binaan sebagai bekal dan pengalaman mereka untuk terus berkembang.
Akan tetapi juga mendukung implementasi Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta 13 Program Akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
“Dengan memanfaatkan lahan yang baru diresmikan, diharapkan warga binaan tidak hanya mendapatkan keterampilan baru, tetapi juga mampu berkontribusi langsung pada pencapaian ketahanan pangan," terangnya.
Dengan adanya kegiatan ini, ia berharap mampu menciptakan Lapas Porong yang lebih produktif, serta warga binaan dapat kembali ke masyarakat dengan bekal ilmu dan keterampilan yang mumpuni. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista