SIDOARJO – Menjadi Kota Delta, di Sidoarjo hampir tidak ada dataran tinggi. Ketinggian wilayahnya mulai 0 hingga 30 meter dari permukaan laut (mdpl). Nah ternyata di Sidoarjo ada gunung. Yang dimaksud adalah dataran paling tinggi. Dimana itu?
Namanya Gunung Kweni, lokasinya di Desa Anggaswangi, Kecamatan Sukodono. Dahulu, Gunung Kweni digambarkan sebagai bukit mistis yang dihuni para leluhur pendiri desa. Kini, sisa-sisa bukitnya hampir sepenuhnya dipenuhi bangunan, menjadi perkampungan modern yang ramai.
Di lokasi itu juga berdiri Musala Bukit Turtsina. Bangunannya paling tinggi di antara bangunan lain.
Menurut penuturan masyarakat, di puncak Gunung Kweni yang tingginya hanya 30 mdpl, terdapat makam "Mbah Gunung". Konon, makam ini menjadi tujuan peziarah setiap malam Jumat Legi untuk mencari berkah.
Legenda Gunung Kweni tak hanya berhenti di situ. Di sisi barat bukit, tepat di pintu masuk arah selatan, terdapat 4 makam leluhur pendiri desa. Di serambi masjid desa, terdapat 2 makam lain yang diyakini sebagai makam para wali penyebar agama Islam di Sukodono dan sekitarnya.
Meski nama para wali tersebut tak diketahui, masyarakat setempat meyakini mereka memiliki peran penting dalam sejarah desa. Keberadaan makam-makam ini menjadi bukti nyata keberadaan Gunung Kweni dan peran para leluhur dalam membangun desa.
Perkembangan zaman tak pelak mengubah wajah Gunung Kweni. Bukit yang dahulu dianggap mistis kini menjadi bagian dari perkampungan modern. Rumah warga, perumahan, dan berbagai sarana prasarana desa memenuhi area yang dulunya merupakan hutan lebat.
Meskipun demikian, legenda Gunung Kweni tak lantas terhapus. Cerita-cerita tentang Mbah Gunung, para leluhur, dan para wali masih terus diwariskan dari generasi ke generasi. Legenda ini menjadi pengingat akan sejarah desa dan peran penting para pendahulunya dalam membangun Anggaswangi menjadi desa yang maju seperti sekarang.
Kisah Gunung Kweni menjadi contoh bagaimana modernisasi dan tradisi dapat hidup berdampingan. Di tengah kemajuan zaman, legenda dan nilai-nilai luhur pendahulu tetap lestari, diwariskan dan dihormati oleh masyarakat Anggaswangi. (nis)
Editor : Annisa Firdausi