SIDOARJO - Anak adalah generasi penerus bangsa di masa mendatang. Oleh karena itu, kesehatan anak dalam pembangunan kesehatan bangsa berperan penting. Dalam usaha membentuk generasi emas, diikuti dengan masalah stunting yang berisiko.
Stunting merupakan keadaan lebih pendek dari tinggi badan seumurannya. Stunting terjadi karena kekurangan gizi pada waktu yang lama pada 1000 HPK (hari pertama kehidupan) (Nuraeni & Suharno, 2020).
Menurut WHO (World Health Organization) 2020, stunting merupakan pendek atau sangat pendek berdasarkan usia dengan batas kurang dari -2 SD (Standar Deviasi) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi karena kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang kurang dan infeksi yang berulang atau infeksi kronis yang terjadi dalam 1000 HPK (Kemenkes, 2022).
Stunting tidak hanya disebabkan oleh asupan nutrisi yang kurang dan infeksi yang berulang atau infeksi yang kronis, namun juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor meliputi pendapatan keluarga, pemberian ASI eksklusif, besar keluarga, pendidikan ayah balita, pekerjaan ayah balita, pengetahuan gizi ibu balita, ketahanan pangan keluarga, pendidikan ibu balita, tingkat konsumsi karbohidrat balita, ketepatan pemberian MP-ASI, tingkat konsumsi lemak balita, riwayat penyakit infeksi balita, sosial budaya, tingkat konsumsi protein balita, pekerjaan ibu balita, perilaku kadarzi, tingkat konsumsi energi balita, dan kelengkapan imunisasi balita (Supariasa & Purwaningsih, 2019).
Stunting disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu lengkap atau tidak lengkapnya imunisasi anak, karena status gizi bisa dipengaruhi langsung oleh penyakit infeksi dan salah satu upaya pencegahan penyakit infeksi adalah dengan melakukan imunisasi secara lengkap.
Imunisasi penting sekali untuk kekebalan tubuh anak, karena anak yang tidak diimunisasi secara lengkap dapat menyebabkan rentan terkena penyakit infeksi yang akhirnya akan memperburuk keadaan gizi anak tersebut, sehingga dampak dari permasalahan ini adalah terjadinya kegagalan pertumbuhan yang optimal pada anak (Juwita, Andayani, et al., 2019).
Selain kelengkapan imunisasi, ada faktor lain yang juga mempengaruhi stunting yaitu pentingnya pemberian ASI dalam menekan kejadian stunting karena ASI memiliki kandungan zat gizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Hal ini sangat penting karena kurangnya nutrisi dapat menjadi alasan terjadinya mortalitas dan stunting bagi balita (Langit & Toding, 2020).
Balita adalah kelompok umur yang rawan terkena masalah gizi dan rawan terkena penyakit. Beberapa penyakit infeksi balita yang diderita dapat menyebabkan berat badan balita turun. Jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang cukup lama maka dapat menyebabkan stunting (Pusat Data dan Informasi Kesehatan RI, 2018).
Keluarga dengan penghasilan tetap, prevalensi berat kurang dan prevalensi pendek lebih rendah dibandingkan dengan keluarga yang berpenghasilan tidak tetap (Apriluana & Fikawati, 2018).
Banyaknya jumlah keluarga yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan keluarga akan mengakibatkan konsumsi pangan tidak merata di dalam keluarga dan dapat mempengaruhi status gizi balita.
Selain faktor risiko yang banyak, stunting jika dibiarkan begitu saja tanpa penanganan akan menyebabkan dampak panjang pada anak yaitu gangguan mental, fisik, kognitif, dan intelektual.
Anak yang terkena stunting hingga usia 5 tahun akan sulit untuk diperbaiki sehingga akan berdampak hingga dewasa dan dapat meningkatkan risiko keturunan dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Stunting di Indonesia merupakan masalah gizi buruk yang belum terselesaikan.
Poltekkes Kemenkes Surabaya menjadi bagian yang penting dalam berkontribusi membantu mengatasi permasalahan ini. Semua civitas akademika mengambil bagian dalam membantu mengatasi permasalahan stunting. Salah satunya pengabdian masyarakat yang ditujukan untuk memberdayakan kader kesehatan yang menjadi ujung tombak yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan balita stunting.
Kegiatan ini melibatkan beberapa civitas akademika seperti Kusmini Suprihatin, M.Kep, Sp.Kep.An, Alfi Maziyah, SST, M. Tr. Kep, Dr. Siti Maemonah, S. Kep, S. Kp, Msi, dan Loetfi Dwi Rahariyani, S.Kp, Msi dari Program Studi DIII Keperawatan Sidoarjo Poltekkes Kemenkes Surabaya.
Kegiatan ini mendukung adanya suatu sistem di masing-masing desa untuk mengawal balita stunting agar tidak semakin parah dan mengidentifikasi kemungkinan balita yang berisiko menjadi stunting. Untuk itu para kader kesehatan perlu dibekali dengan pengetahuan terkait deteksi dini dengan menggunakan pengukuran antropometri, optimalisasi pemberian ASI dan proses menyusui, perawatan bayi baru lahir dan bayi berat lahir rendah, serta masalah-masalah lain yang memicu terjadinya balita stunting.
Pada Rabu, 29 Mei 2024, di Balai Desa Durung Bedug, Bedugbaru, Durungbedug, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dengan diikuti 30 kader dari semua posyandu dan 10 ibu hamil, diharapkan kegiatan ini dapat membantu mengatasi permasalahan stunting.
Setelah itu, mereka dengan pendampingan dari kita dan puskesmas melakukan kegiatan deteksi dini, penanganan, penyuluhan kepada keluarga yang mempunyai balita stunting ataupun balita yang berisiko mengalami stunting. Semua kegiatan kader akan dicatat dan dikomunikasikan kepada perangkat desa agar bersama-sama mengawal tindakan yang dilakukan.
Partisipasi para perangkat desa juga perlu ditingkatkan agar peduli dengan kasus stunting dan balita risiko stunting, sehingga perlu dibuatkan satu posko (tempat) untuk deteksi, koordinasi, kerjasama, dan sosialisasi semua elemen masyarakat terkait upaya yang akan dilakukan desa untuk mengatasi permasalahan ini, sehingga diharapkan angka stunting bisa diturunkan dan desa Durugbedug menjadi Desa lulus Stunting (SALTING). (*)
Editor : Vega Dwi Arista