SIDOARJO - Pengungsi Rohingnya saat ini tengah jadi sorotan. Banyak netizen Indonesia yang merasa iri terhadap perlakuan yang diberikan pada warga asing tersebut. Dimana mereka dianggap mendapatkan tempat tinggal gratis dan uang saku.
Ditemui langsung di Rusunawa Jemundo Kecamatan Taman, pengungsi asal rohingnya Myanmar, Muhammad Sulthon mengaku telah tinggal di Sidoarjo selama 10 tahun. Ia datang ke Sidoarjo setelah menjalani pidana selama satu tahun di Manado atas kasus masuk negara secara ilegal.
"Saya sudah tinggal di Rusunawa Jemundo ini sejak 2014 bulan Desember" ucapnya, Kamis (7/12).
Sulthon menceritakan kronologi dirinya masuk ke Indonesia. Awal mulanya ia kabur dari Myanmar pada tahun 2012 menggunakan kapal. Ia bersama rombongan terdampar di Thailand dan Malaysia. Kemudian ia melanjutkan perjalanan menggunakan kapal hingga sampai Aceh.
Di provinsi Serambi Mekkah tersebut Sulthon merasa bingung karena perbedaan bahasa. Ia hanya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Dari situ ia merasa seperti dipertemukan ramahnya orang Aceh. Selama tiga bulan ia diberi makan dan pakaian oleh penduduk.
Keberadaannya dipantau oleh pihak keamanan. Pihak keamanan menduga jika rombongan bukanlah warga lokal. Saat diketahui ia sebagai warga asing, Sulthon langsung dikirim ke Manado.
"Di Manado ditanggung United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), dan disana selama 1 tahun 1 bulan menjadi tahanan (kasus imigrasi, red)," ujarnya lirih.
Setelah masa hukumannya selesai barulah ia ditampung di Rusunawa Jemundo, Kecamatan Taman pada tahun 2014. Ia mengaku tinggal berdua dalam satu kamar.
"Dari Rohingnya disini masih ada enam," tambahnya.
Di Rusunawa Jemundo, Sulthon mendapatkan uang saku sebesar Rp 1,25 juta. Ia tidak tahu pasti dari mana uang tersebut. Namun ia meyakini jika dana tersebut berasal dari pihak UNHCR.
Sulthon menyebut jika uang sebesar itu harus dihemat. Sebab bagaimanapun juga ia tak mempunyai uang tambahan. Dia dilarang bekerja akibat tak mempunyai visa untuk kerja.
Atas viralnya kembali video Rohingnya di Sidoarjo, ia tak menyalahkan komentar negatif netizen. Hal tersebut dianggapnya karena tak terlalu paham dengan apa yang dialaminya.
"Mau bilang enak gimana ya, bagaimanapun juga ya ingin pulang (ke Myanmar, red) tapi kondisinya tidak bisa," ucapnya.
Dia melihat kondisi negaranya tidaklah kondusif. Setiap hari selalu ada peperangan. Baik perang karena konflik agama, politik maupun tanah.
Sulthon merasa nyaman di Indonesia karena aman tak banyak konflik atupun peperangan. Meski begitu ia tetap berharap konflik negaranya segera mereda dan dirinya dapat pulang dengan selamat.
"Bagaimanapun juga tetap ingin pulang, hidup negara sendiri kan beda dengan negara orang lain," tutupnya. (sai/vga)
Editor : Vega Dwi Arista