SIDOARJO-Objek wisata di Sidoarjo beragam. Selain wisata kuliner dan wisata alam, ada juga wisata sejarah. Kabupaten yang dulunya merupakan pusat Kerajaan Jenggolo ini menyimpan sejumlah jejak sejarah dalam bentuk candi.
Ada beberapa candi yang hingga kini masih sering dikunjungi wisatawan. Tidak hanya berwisata saja, melainkan dapat mengulik terkait sejarah dari masing-masing candi.
Inilah destinasi wisata sejarah di Sidoarjo yang wajib kamu kunjungi.
1. Candi Pari
Ditemukan pada 16 Oktober 1906 di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong. Candi ini berbentuk bangunan persegi empat yang terbuat dari batu bata yang menghadap ke arah barat. Dengan ambang serta bagian atas gerbang terbuat dari batu andesit.
Memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik candi di Jawa Timur. Pola bangunan candi masa kerajaan Majapahit selalu berorientasi vertikal dan langsing pada bagian tubuhnya. Sedangkan bagian atap berbentuk trapesium dan terbuat dari bahan batu emas.
Satu-satunya ciri Majapahit yang ada di candi ini hanyalah bahannya yang terbuat dari bata merah.
Selain itu, Candi Pari memiliki panjang 16,86 meter, lebar 14,10 meter, dan tinggi 13,40 meter. Sehingga terkesan pendek dan lebar dibandingkan candi-candi masa kerajaan Majapahit.
Pengunjung akan dimanjakan dengan bentuk bangunan candi yang megah serta dihiasi dengan taman di sekitar candi.
Kegiatan pemugaran yang dimulai sejak masa Kolonial Belanda adalah dengan melakukan penambahan kayu pada langit-langit pintu masuk. Pada 1994 hingga 1999 candi kembali dipugar oleh Kanwil Depdikbud dan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.
2. Candi Sumur
Terletak di Desa Candipari, Kecamatan Porong. Lokasi Candi Sumur hanya 100 meter dari Candi Pari.
Candi Sumur berdenah dasar bujur sangkar dengan ukuran 8 meter x 8 meter dan memiliki tinggi 10 meter. Sama seperti Candi Pari, Candi Sumur menghadap ke arah barat dan menempati tanah seluas 315 meter dan berada pada ketinggian 4,42 mdpl.
Bagian badan dan atap candi tinggal separo. Namun bagian bawahnya masih utuh.
Candi Sumur didirikan pada masa yang sama dengan Candi Pari. Keberadaan sumur yang kemudian membuat candi ini dikenal sebagai Candi Sumur.
Ketika melongok ke dalam sumur maka akan ditemukan beberapa uang logam yang nampaknya sengaja dilemparkan ke dalam sumur dengan maksud tertentu.
Candi Sumur diperkirakan didirikan pada sekitar abad ke 14 M dengan corak agama Hindu. Dibangun pada periode yang sama dengan Candi Pari di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk. Beberapa orang menduga fungsi Candi Sumur digunakan sebagai tempat mengambil air untuk keperluan di Candi Pari.
3. Candi Wangkal
Candi ini berada di Desa Wangkal, Kecamatan Krembung. Lokasi candi Wangkal ini letaknya seolah tersembunyi di tengah kebun tebu dan rumput-rumput ilalang. Candi Wangkal ditemukan secara tak sengaja oleh warga setempat.
Namun saat ini merupakan salah satu situs bersejarah di Sidoarjo yang telah diakui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.
Ketika mengunjungi Candi Wangkal, yang bisa dilihat hanya tumpukan batu bata di tengah kolam. Di atas tumpukan batu bata itu terdapat dua batu sebagai penanda.
Tumpukan batu tersebut berada di tengah kubangan seluas 15 meter.
4. Candi Pamotan
Terletak di Desa Pamotan, Kecamatan Porong. Menurut warga sekitar, Candi Pamotan dulunya difungsikan sebagai tempat untuk memuat padi sebelum dikirim ke Kerajaan Majapahit.
Candi Pamotan merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit. Terlihat dari bentuk bangunannya. Kini Candi Pamotan masuk dalam cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
Candi ini terdiri dari Candi Pamotan I dan Candi Pamotan II.
Candi Pamotan I berukuran sedikit lebih besar daripada Candi Pamotan II. Namun keduanya sama-sama memiliki bentuk bujursangkar.
Candi Pamotan I terletak di belakang rumah warga, dan di sekitarnya terdapat semacam kolam yang tergenang oleh air hujan. Di sekelilingnya pula dipasangkan pagar untuk membatasinya dari jalan setapak.
Sekitar 50 meter dari tempat itu, terdapat Candi Pamotan II yang di sekitarnya banyak terdapat pohon bambu. Di atas Candi Pamotan II terdapat sebuah arca yang bagian kepalanya sudah hilang.
5. Candi Tawangalun
Lokasinya di Jalan Tawangalun, Buncitan, Kecamatan Sedati. Candi Tawangalun merupakan candi peninggalan Majapahit.
Meskipun beberapa bagian candi sudah tampak tidak kokoh lagi, tetapi candi yang satu ini memiliki daya tarik tersendiri dan tetap banyak didatangi oleh pengunjung. Candi Tawangalun sempat mengalami pemugaran pada bagian atap candi serta dinding candi.
Oleh warga setempat, hingga kini masih difungsikan sebagai tempat untuk ritual-ritual pengantin, hari-hari besar dan setiap malam purnama banyak seniman yang menenangkan diri dan mencari inspirasi.
Candi Tawangalun berbahan dasar batu bata dengan kondisinya saat ini rusak sebagian.
6. Candi Medalem
Terletak di Desa Medalem, Kecamatan Tulangan. Letaknya cukup strategis dan mudah dicari oleh pengunjung.
Candi Medalem memang tidak tampak semegah candi lainnya. Namun candi yang satu ini memiliki banyak cerita unik. Salah satunya adalah kawasan ini dulunya hanya lahan yang ditumbuhi beberapa pohon besar. Kemudian juru kunci mendapat bisikan bahwa di bawah pohon terdapat sebuah candi.
Sejak saat itu kawasan ini dikenal sebagai tempat wisata candi di Sidoarjo. Candi ini memang berukuran lebih kecil jika dibanding dengan candi lainnya.
Candi Medalem adalah bekas tempat suci yang diduga dibangun pada masa majapahit. Terbuat dari bahan bata merah yang berukuran besar.
Bentuk Candi Medalem cukup unik. Di empat sisinya ada struktur yang menyerupai teras, sementara di bagian tengahnya berbentuk persegi empat.
Fungsi dari Candi Medalem diduga adalah sebagai tempat peribadatan bagi umat Hindu di masa lalu.
7. Candi Dermo
Terletak di Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.
Candi Dermo diperkirakan berdiri pada tahun 1353 M dibawah pimpinan Adipati Terung yang kini makamnya berada di utara Masjid Trowulan. Candi ini telah mengalami beberapa kali pemugaran. Banyak bagian candi yang mengalami kerusakan banyaknya puing-puing yang runtuh dan faktor usia.
Candi Dermo terbuat dari batu bata merah dengan ketinggian 13,50 meter. Dari cerita yang tersebar di masyarakat sekitar, Candi Dermo salah satu pintu suci untuk masuk ke dalam kawasan Majapahit.
Candi Dermo dulu dijadikan sebagai tempat persembunyian ketika terjadi perang di Majapahit. Walaupun pada kenyataannya bagian dalam Candi Dermo sempit namun masih bisa menampung masyarakat di sekitar area Candi Dermo kala itu.
Candi Dermo masih digunakan sebagai tempat ritual keagamaan baik oleh masyarakat Candinegoro maupun di luar Desa Candinegoro.
Itulah beberapa tempat destinasi wisata yang cocok untuk didatangi bagi kamu yang suka sejarah. Selain melepas penat, tempat wisata sejarah itu bisa bikin kamu lebih kenal dengan asal usul Sidoarjo. (ffa/nis)
Editor : Vega Dwi Arista