"BUMDes ini tahun 2022 lalu telah menyalurkan kredit permodalan senilai Rp 2 miliar lewat usaha simpan pinjam," kata Ketua BUMdes Kedungturi Zainul Milahi.
Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UED-SP) Sumber Rejeki tersebut, memiliki nasabah 3.500 warga desa. Dengan angka sebanyak itu, kata Zainul, membuktikan warga desa sudah percaya dengan usaha simpan pinjam tersebut.
BUMDes itu saat ini memiliki lima usaha. Yaitu usaha perdagangan, toko, penjahit tas, simpan pinjam dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Dari usaha-usaha tersebut sudah menyerap 49 tenaga kerja. Ini angka tertinggi BUMDes di Sidoarjo yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak itu.
Khusus untuk produksi tas yang mempekerjakan 21 penjahit, memanfaatkan kain-kain yang tidak terpakai. Tas kain produksi BUMDes Kedungturi tersebut sudah ada pasarnya yaitu di hotel-hotel di kawasan wisata Bali.
"Kalau di sini mungkin tidak laku, tapi di Bali tas itu laku dijual Rp 50 ribu per bijinya," kata Zainul yang akrab disapa Emil.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar, mengapresiasi BUMDes Kedungturi ini. Sebab BUMDes tersebut terbukti berperan besar, menyejahterakan masyarakat desa melalui beberapa usaha ekonominya.
Namun, Halim berharap agar BUMDes juga bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini dibutuhkan untuk menjamin keamanan uang nasabah, yang disimpan di usaha simpan pinjam.
"Kalau bisa minta dukungan atau pendampingan dari OJK, supaya safety-nya jelas dijamin pemerintah," kata Halim Isaat meninjau BUMDes Kedungturi Sabtu malam (25/2).
Di saat bersamaan, BUMDes ini juga mengadakan pesta rakyat, dan mengundang pelawak Percil lengkap dengan krunya. Pesta rakyat ini mengundang ribuan nasabah lewat undian berhadiah. Kegiatan tersebut tanpa menggunakan dana APBD, dan murni dari BUMDes. (vga) Editor : Vega Dwi Arista