Subandi mengungkapkan, ada sejumlah kondisi pemotongan unggas yang menurutnya perlu direlokasi. Salah satunya terkait pembuangan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan. “Limbah juga tidak langsung mengalir ke sungai, jadi perlu dicarikan alternatif lain,” katanya.
Dia juga menyarankan agar pengusaha dan warga setempat dapat berunding lagi. Tujuannya untuk mencari alternatif terbaik untuk sementara waktu. Karena ia juga tidak ingin mematikan perekonomian para pedagang. “Jangan sampai juga perekonomian tutup, tapi lingkungan juga aman,” jelasnya.
Lurah Ngelom, Ipung Suwandi menambahkan, sebenarnya keluhan pencemaran lingkungan karena usaha pemotongan unggas itu telah mencuat beberapa waktu sebelumnya. Pihaknya juga telah berulang kali melakukan dialog dan mempertemukan para pihak terkait.
Tapi kondisi memuncak setelah ada aksi demo dari warga yang merasa dirugikan dari usaha pemotongan unggas Kamis (17/11) lalu. “Kesimpulannya tetap perlu relokasi, nanti akan ada lagi pertemuan di kecamatan untuk memberi toleransi waktu,” katanya.
Kabid Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air Sidoarjo Rizal Asnan menambahkan, pihaknya sebenarnya juga telah menormalisasi sungai yang ada di belakang pasar. Tujuannya untuk membantu melancarkan air termasuk meminimalisir tumpukan limbah dari pasar itu.
Tapi sedimen atau sampah dari saluran pasar juga masuk lagi ke lokasi pekerjaan saat hujan. “Ada kotoran juga dibuang ke saluran, jadi selesai dinormalisasi ada lagi sedimen,” jelasnya. (son/vga) Editor : Vega Dwi Arista