Berbagai elemen masyarakat dihadrikan dalam kesempatan itu. Mulai dari perwakilan tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi hingga perwakilan dewan masjid.
Ketua FKDM Sidoarjo Syihabuddin mengungkapkan, secara umum kondisi Sidoarjo masih cukup aman. Tetapi memang ada beberapa isu yang sempat mencuat. Salah satunya terkait potensi aliran radikalisme di Sidoarjo.
“Makanya kami hadirkan juga dewan masjid. Ini bersama-sama dipetakan. Agar terdeteksi lebih dini,” katanya.
Pria yang akrab dipangil Syihab itu menambahkan, selain soal isu radikalisme juga ada aspek kerawanan sosial lain yang patut diperhatikan. Misalnya terkait pengangguran, hingga seputar masalah Orang Dengan Ganguan Jiwa (ODGJ).
Selain itu, khusus menjelang tahun politik pada 2024 nanti juga perlu jadi salah satu perhatian. Karena hal tersebut juga jadi salah satu penyebab adanya kerawanan. “Kalau sekarang memang belum nampak, tapi tetap dideteksi,” sambungnya.
Syihab menambahkan, selepas proses deteksi dini nantinya juga bakal ada langkah lanjutan. Mulai dari intervensi di lapangan atapun intervensi dalam bentuk kebijakan. FKDM akan bekerjasama dengan stakeholder terkait termasuk meneruskan hasil deteksi dini ke dinas terkait atau Pemkab langsung. “Bisa juga bentuknya policy brief,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor mengungkapkan bahwa kondusivitas lingkungan sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan daerah. “Tidak ada daerah yang bisa tumbuh tanpa didukung situasi yang kondusif,” katanya.
Bupati Muhdlor menambahkan, Sidoarjo menjadi daerah yang terbilang unik. Biaya hidup masih rendah tetapi upah sudah tinggi. Hal itu tentu menarik orang dari berbagai daerah untuk tinggal. “Orang datang dengan pemahaman dan karakter macam-macam. Sehingga forum seperti ini (deteksi dini, red) perlu diperbanyak,” imbuhnya. (son/vga) Editor : Vega Dwi Arista